skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Minggu, 30 April 2017

Sya'ban; Bulan Manusia Banyak yang Lalai

Posted by bangzaman on April 30, 2017 – 0 komentar
 

حدثني أسامة بن زيد قال : قلت : يارسول الله، لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان، قال : ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. (رواه النسائي، 2356)

Artinya : “bercerita Usamah bin Zaid, aku bertanya kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?, Rasul menjawab: bulan itu adalah bulan dimana manusia lalai, letaknya diantar Rajab dan Ramadhan, bulan itu seluruh amal diangkat/diperlihatkan kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, maka aku sangat suka disaat amalku diangkat/diperlihatkan kepada Allah, aku sedang berpuasa”. HR. Imam Nasai, no. 2356, hadis hasan.

Penjelasan hadis
Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam susunan bulan di tahun hijriyah. Dinamakan Sya’ban dikarenakan banyak kabilah-kabilah yang berpencar mencari kerajaan untuk mendapakan hadiah-hadiah darinya.[1] Imam Ismail bin Katsir menjelaskan, dinamakan Sya’ban dikarenakan mereka berpencar dari sebuah serangan.[2] Imam Ibnu Hajar mengatakan: “dinamakan bulan Sya’ban dikarenakan mereka berpencar mencari air atau mendapatkan beberapa serbuan setelah mereka keluar dari bulan Rajab”. Beliau lanjutkan, “pendapat inilah yang paling utama daripada yang lainnya”.[3]
Rasulullah saw. menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan yang dilalaikan oleh manusia dikarenakan manusia menganggap bahwa bulan sebelumnya, yaitu Rajab lebih utama daripada bulan Sya’ban, sehingga mereka memaksimalkan puasa bulan Rajab, tidak dengan Sya’ban.[4] Berkata DR. Muhammad ad Dubaisy: “seakan-akan bulan Rajab dan Ramadhan itu sangat diistimewakan dan dimanfaatkan, sehingga sikap itu menjadikan mereka lalai di bulan Sya’ban. Inilah fenomena yang terjadi saat ini. Mereka tinggalkan Sya’ban dengan tidak melakukan maksimalitas ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, mereka katakan di dalam hati mereka, yang boleh jadi ini adalah bisikan setan; “bulan Ramadhan akan segera datang, nanti di bulan itu insya Allah akan saya ganti segala macam ibadah, dan insya Allah semangat saya akan bertambah di bulan itu….”. jadilah setan masuk ke dalam hatinya sehingga menjadikan ia malas dan lalai dari bulan Sya’ban”.[5]
Maka dari itu, Rasulullah sangat menekankan agar kita memanfaatkan bulan tersebut (Sya’ban) dengan memperbanyak ibadah-ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan ulama-ulama terdahulu., diantaranya adalah:
1.  Berpuasa
Banyak hadis yang menjelaskan tentang perintah puasa di bulan Sya’ban. Perintah yang dimaksud di sini adalah perintah sunah. Sebagaimana dalam hadis Usamah bin Zaid yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, bahwa Nabi Muhammad sangat senang catatan amal ibadahnya diangkat/ diperlihatkan oleh Allah pada saat ini sedang berpuasa karena Allah Ta’ala, dan itu terjadi di bulan Sya’ban.
Hadis Aisyah menjelaskan:
عن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول : لايفطر ويفطر حتى نقول : لا يصوم. وما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إستكمل صيام شهر إلا رمضان، وما رأيته أكثر صياما منه في شعبان.
“sayyidah ‘Aisyah berkata: “Rasulullah saw. senantiasa berpuasa sampai-sampai kami katakan ia tidak berbuka, dan berbuka sampai-sampai kami katakan ia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan berpuasa melainkan di bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling banyak ia puasakan melainkan Sya’ban”. HR. Imam Bukhari, no. 1969
Dan masih banyak lagi hadis tentang puasa Sya’ban dalam riwayat Imam Bukhari, no. 1970, hadis Abu Salamah bahwa ‘Aisyah bercerita tentang puasa Sya’ban Nabi Muhammad saw.: “Rasulullah tidak pernah berpuasa lebih banyak melainkan bulan Sya’ban, dan terkadang ia berpuasa di bulan Sya’ban semuanya….”.
Ulama berbeda pendapat tentang puasanya Nabi Muhammad saw. di bulan Sya’ban, apakah seluruhnya atau kebanyakannya. Akan tetapi yang bijak mensikapi itu adalah, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam ath Thiby: “dari sekian hadis tentang puasa Nabi di bulan Sya’ban, dapat difahami bahwa terkadang Nabi mempuasakannya seluruhnya, dan terkadang hanya kebanyakannya, artinya ada sedikit hari dimana Nabi Muhammad tidak berpuasa di bulan Sya’ban, dengan niat agar orang-orang tidak menganggap bahwa puasa Sya’ban itu wajib seperti Ramadhan”.
Imam Ibnu Hajar menyebutkan: “banyak hikmah tentang banyaknya berpuasa Nabi di bulan Sya’ban, diantaranya adalah:
ü   Sebagai upaya menjama’/menggabungkan puasa sunah tiga hari setiap bulannya di bulan Sya’ban, dalam arti lain mengqodho/mengganti. Hal ini dikatakan oleh Imam Ibnu Bathol.
ü   Puasa Sya’ban dalam rangka mengagungkan bulan Ramadhan. Seperti dijelaskan dalam hadis Anas: “su-ilan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ayyush shaumi afdhalu ba’da Ramadhan, qaala Sya’baanu li Ta’zhiimi Ramadhan/Nabi ditanya tentang puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, Nabi menjawab: puasa Sya’ban karena mengagungkan Ramadhan. HR. Imam Tirmidzi, no. 663, hadis lemah.
ü  Dikarenakan bulan Sya’ban itu beriringan dengan Ramadhan. Ia dipuasakan dikarenakan khawatir banyak yang luput saat bulan Ramadhan, hal-hal yang disunahkan pada bulan itu.
ü   Dikarenakan bulan Sya’ban amal ibadah manusia diperlihatkan/ ditunjukan kepada Allah Ta’ala. Dan ini menjadi bagian yang dicintai oleh Nabi Muhammad. Seperti hadis Usamah bin Zaid di atas.
Hikmah yang terakhir inilah yang paling kuat, dikarenakn berdasarkan hadis hasan dari Imam Nasa-i.[6]
2.  Membaca al-Qur’an
Ketika Sya’ban seperti muqaddimah Ramadhan maka disyari’atkan pula berpuasa dan membaca al-Qur’an dibulan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar muncul kegemaran dan sebagai latihan untuk Ramadhan nanti. Salamah bin Kuhail berkata: “boleh dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca al-Qur’an”. Begitu juga dengan Hubaib bin Abi Tsabit mengatakan ketika telah masuk bulan Sya’ban: “bulan ini adalah bulan para pembaca al-Qur’an, dahulu ‘Amr bin Qois al Mulaa-i apabila masuk bulan Sya’ban ia menutup tokonya dan ia konsentrasikan untuk membaca al-Qur’an”.[7]
Banyak keuntungan dan keutamaan ketika kita beribadah disaat manusia banyak yang lalai, misalnya seperti bulan Sya’ban ini yang disinggung oleh Rasulullah saw:
1.  Beribadah di bulan Sya’ban itu lebih terahasia/tersembunyi. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah sunah itu lebih utama, terlebih lagi puasa, yang memang menjadi rahasia antara hamba dan Rabb-nya.
Sebagian ulama salaf telah berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satu orang pun yang tahu. Hal itu dikarenakan saat ia keluar dari rumah menuju pasar, ia selalu membawa dua gumpalan roti, maka keluarganya menyangka bahwa ia memakannya, dan penghuni pasa menyangka bahwa ia memakannya saat di rumah.
Ibnu Mas’ud berkata: “apabila di pagi hari kamu berpuasa, maka lumurilah dengan minyak (maksudnya jenggotnya agar terlihat basah dan seger)”.
2.     Terasa lebih berat, dan ibadah yang paling utama di sisi Allah adalah yang paling berat dirasakan oleh hamba. Perlu diketahui, jiwa itu akan mudah melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang berada di sekitarnya. Jika orang yang berada disekelilingnya melakukan ketaatan, maka ia akan mudah mengikutinya. Tentu sebaliknya, jika kebanyakan manusia lalai, maka ia akan berat dan sulit melakukan ketaatan ditengah-tengah orang tersebut.
Imam Ibnu Rojab menulis:

بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء. وفي رواية، قيل: ومن الغرباء؟ قال : الذين يصلحون إذا فسد الناس. وفي صحيح مسلم من حديث معقل بن يسار عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : العبادة في الهرج كالهجرة إليّ.

“dalam hadis: “Islam datang pertama kali dalam keterasingan dan akan kembali dalam keterasingan, maka bahagialah mereka yang termasuk dalam kelompok keterasingan”. Dalam satu riwayat dijelaskan: “siapa yang termasuk dalam kelompok keterasingan?, Rasul menjawab: “mereka itu adalah orang-orang yang berbuat baik ditengah-tengah rusaknya manusia”. Dan dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Ma’qal bin Yasaar, dari Nabi Muhammad saw. ia bersabda: “ibadah di tengah-tengah fitnah/ kekacauan pahalanya seperti orang hijrah kepada Ku”.

3.   Sendiri melakukan ketaatan ditengah-tengah orang yang melakukan kemaksiatan dan kelalaian bermanfaat untuk menolak bahaya/ bencana yang akan menimpa manusia.
Sebagian ulama salaf berkata:
ذاكر الله في الغافلين كمثل الذي يحمى الفئة المنهزمة، ولولا من يذكر الله في غفلة الناس لهلك الناس.
“orang yang ingat/ berdzikir kepada Allah di tengah-tengah orang yang lalai, seperti orang yang melindungi sekelompok orang yang diserang mundur oleh pasukan lain, kalaulah tidak ada orang yang ingat/ berdzikir kepada Allah ditengah orang yang lalai kepada-Nya, niscaha akan hancur binasa manusia”.
Imam Ibnu Rajab berkata:
وقد قيل في تأويل قوله تعالى: "ولو لا دفع الله الناس بعضهم على بعض لفسدت الأرض" (البقرة:251) إنه يدخل فيها دفعه عن العصاة بأهل الطاعة، وجاء في الأثر: إن الله يدفع بالرجل  الصالح عن أهله وولده وذريته ومن حوله.
“dikatakan dalam ta’wil firman Allah Ta’ala: “seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagiaan umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini…”. Masuk dalam cakupan makna ayat tersebut adalah menolak bahaya (menyelamatkan) orang lain  dikarenakan ketaatan seseorang. Dalam hal ini ada atsar sahabat: “sesungguhnya Allah akan menolak (bahaya/ kerusakan yang muncul) dari keluarga, anak-anak, keturunan dan orang yang ada disekitarnya dikarenakan suami yang soleh”.[8]
Dengan demikian, tidak akan pernah ada kerusakan/ bahaya yang muncul dari keluarga atau orang banyak di saat yang sama ada orang yang beribadah kepada Allah. Boleh jadi, kerusakan itu akan berubah menjadi kenikmatan dan rahmat, itu karena keberkahan orang yang beribadah.
Coba lihat firman Allah Ta’ala dalam surat al A’raf:96:

ولو أن أهل القرى أمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بماكانوا يكسبون.  
"Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya"

Semoga bermanfaat




[1] Ibnu Dihyah al Kalbi, Maa Wadhoha wa Istabaana fi Fadhoili Syahri Sya’baana, (Riyadh: Adhwaa-us Salaf, 1424H) hal. 13
[2] Ismail bin Katsir, Tafsir al Qur’anil ‘Azhiim, (Beirut: Daar al Jiil) j. 2hal. 339
[3] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fathu al Baari syarah Shoheh al Bukhari, (Mesir: Daaru al Hadis, 1998) j. 4 h. 248
[4] Ibnu Rajab al Hanbali, Latha-iful Ma’arif, (Mesir: Daaru al Hadis, 2002) hal. 181
[5] Muhammad ad Dubaisy, Haalul Mu’miniina fi Syahri Sya’baan, (Mesir: meidan Tursina,2013) hal. 20
[6] Ibnu Hajar al-‘Asqolani,  j. 4 h. 249-50
[7] Ibnu Rajab al Hanbali, hal. 186
[8] Ibnu Rajab al Hanbali, hal. 182-185
[ Read More ]
Read more...
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ▼  2017 (7)
    • ▼  Apr (1)
      • Sya'ban; Bulan Manusia Banyak yang Lalai
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ►  Jul (12)
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger