skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Sabtu, 27 Juni 2020

Belajar dari Ikan di Laut

Posted by bangzaman on Juni 27, 2020 – 0 komentar
 

Ikan yang hidup di air asin (laut), akan tetap tawar selama ia hidup. Akan tetapi jika ia telah mati, akan berubah menjadi asin walau direndam air garam yang terdapat dibejana dalam waktu beberapa menit saja. Dimasak dengan beragam masakan, ditaburi bumbu maka ia akan terasa sesuai bumbu ditaburi.

Ikan tidak berubah rasa, karena ia hidup, dan hidup ditandai dengan bergerak dan terus bergerak. Seseorang yang hidup, berfungsi akal dan hatinya, dapat dipastikan tidak akan mudah terbawa arus pergaulan dan lingkungan. Karena apa yang ia lihat, dengar dan rabah akan ia pikirkan terlebih dahulu dengan akal dan hatinya.

Ia tidak akan menjadi perampok walaupun bergaul dengan perampok, ia tidak akan menjadi pemalas walaupun bergaul dengan pemalas, ia tidak akan menjadi egois sekalipun berada di lingkungan orang yang selalu menyatakan diri “paling benar”. Hal itu dikarenakan adanya proses berfikir, pertimbangan, dan diskusi terlebih dahulu, lalu ia praktekan dalam hidupnya, jika itu baik dan bermanfaat untuk diri sendiri, terlebih lagi orang lain.

Ibnu Daiba’ mengatakan, ada perkataan sebagian ulama salaf “al harokah barokah/ bergerak itu berkah”. Dijelaskan dalam ar Risalah al Qusyairiyah; “gerakan zhohir  membawa pada keberkahan batin”.[1] Gerakan zhohir adalah kegiatan/aktifitas sehari-hari yang sesuai dengan arahan dan petunjuk Allah, yang baik dan bermanfaat untuk kita dan orang lain. Keberkahan batin adalah kebahagiaan hati atau keuntungan yang tak terlihat dan tak terhingga dalam hidup. Kebahagiaan dan ketenangan hati muncul karena kebaikan yang kita lakukan, itulah amal soleh yang Allah janjikan keuntungannya kepada manusia. Allah berfirman dalam surat ar Ra’du/13:28:

الذين أمنوا  وتطمئن قلوبهم بذكر الله، ألا بذكر الله تطمئن القلوب 

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Mengingat Allah berarti taat kepada Allah, yaitu melakukan kebaikan-kebaikan/amal soleh di dunia ini, inilah gerakan yang sesungguhnya. Dalam surat lain Allah jelaskan, surat an Nahl/16:97:

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة، ولنجزينهم أجرهم بأحسن ماكانوا يعملون  

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

Melakukan gerakan yaitu amal soleh, maka Allah akan berikan kehidupan yang thayibah, menurut Imam ‘Atha kehidupan itu adalah kehidupan yang dipenuhi rizki yang halal lagi berkah. Ada ulama lain, Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib menafsirkan; “kehidupan itu adalah kehidupan yang penuh kebahagiaan dan rendah hati”. Terus bergerak sebagai tanda kita masih hidup. Terus bergerak sebagai upaya menggapai kebahagiaan. Terus bergerak tuk meraih cita-cita dan kesuksesan.

Jangan hidup seperti ikan mati, yang mudah terpengeruh oleh bujuk rayu keburukan, tanpa pikir dan paham langsung mengikuti apa yang menurut nafsunya nikmat. Hidup seperti mati itu bahaya, terombang-ambing tanpa pijakan dan tumpuan kuat. Ia akan sengsara dan menderita.

Banyak perintah Allah dan Rasul-Nya tentang “bergerak”, diantara:

  • An Najm/53 ayat 39

وأن ليس للإنسان إلا ما سعى  

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”

  • Al Jumu’ah/62 ayat 9

يأيها الذين أمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع، ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون 

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 

  • Ali Imran/3 ayat 133

وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين  

“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. 

  • Al Baqarah ayat 148

ولكلٍ وجهةٌ هو موليها فاستبقوا الخيرات أين ما تكونوا يأت بكم الله جميعا، إن الله على كل شيئ قدير    

“dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Semoga Allah berikan kita kemudahan dalam hidup, bergerak dan memberikan manfaat. Aamiin

[1] http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=1012&pid=236009&hid=324


[ Read More ]
Read more...
Jumat, 26 Juni 2020

Hamka; Pendidikan Islam itu Penting

Posted by bangzaman on Juni 26, 2020 – 0 komentar
 

Tentang Pendidikan Islam, Hamka mengintegrasikan makna antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran yang diistilahkan dengan 'allama-ta'liim, dan pendidikan diistilahkan dengan rabaa-tarbiyyah, ia mengartikan dengan sebuah usaha atau proses yang dilakukan guru (pendidik) untuk mengisi intelektualitas peserta didik dengan berbagai macam ilmu pengetahuan (menjadikan peserta didik pintar dalam segala bidang ilmu pengetahuan), untuk selanjutnya membentuk sikap dan karakteristik peserta didik  yang baik (al-akhlâk al-karîmah), sehingga ia menjadi manusia yang berguna bagi masyarakatnya.

Menurut Hamka, Pendidikan Islam itu sangat penting karena beberapa hal, diantaranya :

1. Memudahkan manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di dunia.

Salah satu di antara tujuan Allah swt menjadikan manusia dan menempatkanya di dunia ini adalah sebagai khalifah Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat al-Baqarah/2 ayat 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi….. 

Sebagai al Kholifatu fil ardh (pemimpin atau pengganti di muka bumi), manusia di haruskan membangun dan mengelola tempat hidupnya yaitu dunia sesuai dengan kehendak Penciptanya. Membangun dan mengelola dalam rangka memakmurkan dunia sebagai tempat hidupnya tidaklah semudah membalikan telapak tangan, terlebih lagi keberadaan manusia itu bersifat heterogen. Ada berbagai macam suku, agama, bahasa, budaya dan lain sebagainya yang harus difahami. Dalam hal keberagaman atau heterogen umat manusia, Allah swt berfirman dalam surat al Hujraat/ 13:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa  diantara kamu

Berdasarkan ayat ini dan kafasitas manusia sebagai khalifah, maka menjadi pentinglah pendidikan bagi manusia, terlebih lagi pendidikan Islam. Karena jika tidak dengan pendidikan, maka keberadaan manusia menjadi tiada arti dalam kehidupan di dunia ini.

Rasulullah saw bersabda :

من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الأخرة فعليه بالعلم ومن ارادهما فعليه بالعلم (رواه احمد)

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka harus mempunyai ilmu,  barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka harus mempunyai ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan keduanya maka harus mempunyai ilmu. 

Keinginan dalam hadis tersebut tentulah bukan hanya keinginan yang kosong nilai dan disharmonis dalam berinteraksi, melainkan sebaliknya. Maka dari ilmu sangat diperlukan, dan ilmu aka nada setelah pengajaran dan pendidikan.

2. Dapat meninggikan prestise manusia

Islam merupakan agama ilmu dan memotivasi umatnya untuk senantiasa mencari pengetahuan semaksimal mungkin. …Oleh karena itu menurut HAMKA, tujuan agama memotivasi umatnya mencari ilmu pengetahuan tidak hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak. Akan tetapi, lebih dari itu. Dengan ilmu manusia akan mampu mengenal Tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah. Kedua tujuan itu hendaknya berjalan beriringan secara harmonis dan integral. Hanya dengan bentuk pendidikan yang demikian manusia akan memperoleh keutamaan (hikmat) dalam hidupnya.[1] Dan selain itu pula, Allah swt akan meninggikan beberapa derajat kemuliaan hidupnya di dunia dan di akhirat.[2] Hal ini sebagaimana Allah swt jelaskan dalam surat al-Mujâdalah 58/11:

Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …. 

Menurut HAMKA, tingginya derajat kemuliaan seseorang-sebagaimana disinggung pada ayat di atas-dikarenakan adanya integritas kuat antara iman dan ilmu. Iman merupakan pokok hidup utama bagi manusia, dan ilmu sebagai pengiringnya. Iman yang tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya terjerumus mengerjakan sesuatu hal yang disangka menyembah Allah, padahal sebaliknya. Dan ilmu yang tidak disertai iman, maka ilmunya akan membahayakan dirinya dan orang lain.[3] 

3. Membangun keluarga yang bahagia

Menurut HAMKA, agar mudah mencapai kebahagian dalam berkeluarga, seorang lelaki harus lebih selektif dalam memilih pasangan hidupnya, sekira-kira sifat dan kepribadiannya sesuai dengan ajaran Islam.[4] Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhârî Ra: 

عَن اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ االنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَلِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

"Riwayat dari Abu Hurairah Ra, bahwa Nabi Saw. bersabda; wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Pegang teguhlah karena agamanya niscaya tanganmu (akan) membutuhkannya (engkau bahagia)"[5]

Menurutnya, memilih pasangan hidup dikarenakan hartanya, atau keturunannya, atau juga kecantikannya dengan tidak disertai kebaikan sikap dan pendidikan agamanya, maka kebahagiaan yang akan diraihnya nanti hanyalah sementara, jauh dari tujuan yang diharapkan. Tapi sebaliknya, jika kebaikan sikap dan pendidikan agamanya menjadi tolak ukur  utama, sekalipun harta, keturunan  dan kecantikannya biasa-biasa saja, maka ia dan anak keturunannya  akan merasakan nikmatnya syurga dunia. Bahkan lebih dari itu, masyarakat sekitarnya pun akan merasakan kebahagiaan darinya.[6]

Senada dengan HAMKA, Abu Ishâq Ibrâhîm bin ‘Ali al-Syairâzi di dalam kitab al-Muhadzdzab fî fiqhi madzhab al-Imâm al-Syâfi‘î menyatakan: "disunahkan bagi laki-laki mencari pasangan hidupnya (isteri) dengan mengacu kepada hal-hal yang dijelaskan hadits tersebut, karena tujuan dari pernikahan itu adalah adanya pergaulan dan kehidupan yang baik lagi harmonis (dalam pandangan syar‘î)".[7] 

4. Sebagai dasar dalam mengambil ibrah dari pengalaman hidup

Pengalaman hidup adalah perjalanan umat manusia yang telah lalu, sekalipun dalam waktu yang sekejap. Maka dari itu, manusia haruslah pintar-pintar mengambil pelajaran dan pendidikan dari setiap pengalaman yang telah terpampang jelas dalam kehidupan ini.

HAMKA mengatakan "kejatuhan yang pertama dijadikannya ibrah untuk menempuh kesulitan yang kedua".[8] Maka dari itu, manusia berkewajiban mengingat setiap kejadian dalam perjalanan hidupnya yang telah lalu, dimana dan kapan itu. Ketika nanti terdapat gambaran yang sama, maka ia akan mudah menghadapinya.[9]

Gudang sekian banyak pengalaman adalah alam, sesuatu yang selain Allah. Menurut HAMKA, alam ini laksana kitab besar yang terhampar di hadapan manusia.[10]

Menurutnya, di dalam kitab ciptaan yang besar ini terdapat perjalanan hidup umat manusia terdahulu. Hal tersebut dihiasi dengan keberhasilan, ketenaran dan kebahagiaan. Serta ada pula lawanan dari itu semua. Bahkan ada yang pesimis dalam mengarungi perjalanan hidup ini, dikarenakan selalu gagal dan sengsara. Semuanya itu harus dibaca dan dipelajari sebab-sebabnya oleh umat manusia,[11] karena hanya ialah yang mempunyai pemahaman ‘aqliyah sejati dan penelitian batin sehingga bisa mengenal dan mengetahui makna dari ayat-ayat Kitab Agung alam ini.[12] Dan akhirnya ia mampu menjalani kehidupan ini, dengan melalui perjalanan umat terdahulu ketika mencapai keberhasilan dan kebahagiaan, serta menghindarinya ketika mencapai kegagalan dan kesengsaraan.

Proses membaca dan pembelajaran yang dilakukan oleh manusia terhadap kitab besar ini sepantasnya berorientasi kepada Tuhan. …Karena sebagai petunjuk, berbagai macam obyek secara eksistensi dan epistemologis tidak akan pernah lepas dari Tuhan.[13]

Maka dari itu, tepat sekali Allah swt firmankan dalam surat  al-‘Alaq/ 96 ayat 1:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

Pada ayat tersebut, tidak disebutkan maf’ul bih-nya (objek kalimat), ini mengindikasikan bahwa setiap apapun yang dapat disentuh oleh kata iqra’ (dibaca, diteliti, diobservasi dll) sah-sah saja dilakukan, asalkan orientasinya adalah Allah swt, dan asalkan setiap yang di iqra’ kan dapat mengingatkan ia kepada Sang Pencipta serta dapat mendekatkan kepada-Nya (Prof. Dr. Quraih Shihab dalam tafsir al-Misbahnya vol. 15). Tentunya hal itu harus ada dasarnya, yaitu Pendidikan Islam



[1] Ramayulis dan Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, h. 263-264

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, v. 14 h. 78

[3] Hamka, Tafsir al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000) j. 28 h. 31

[4]  Ibid, h. 237

[5] Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il al Bukhori, Shoheh Bukhori (Semarang: Thoha Putra) j. 6 h. 123

[6] Hamka, Lembaga Hidup, h. 237

[7]  Abu Ishâq Ibrâhîm bin ‘Ali al-Syairâzi, Muhadzdzab fi fiqhi madzhab al Imam al-Syafi'i (Beirut Libanon: Daarul Fikr, 1994) h. 48

[8] Hamka, Falsafah Hidup, h. 25

[9] Ibid, h. 28

[10] Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Panji Mas, 2003) h. 53

[11] Hamka, Tasawuf Modern  h. 53

[12] Ibid, h. 22

[13] Ibid, h. 22


[ Read More ]
Read more...
Selasa, 23 Juni 2020

Satu hewan kurban, untuk berapa orang?

Posted by bangzaman on Juni 23, 2020 – 0 komentar
 

Ulama berbeda pendapat tentang jumlah pekurban untuk satu hewan kurban. Imam Malik berpendapat, “boleh menyembelih satu kambing untuk satu orang dan keluarganya, begitu juga untuk sapi dan unta. Sedangkan imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan sekelompok ulama mereka membolehkan untuk satu unta itu tujuh pekurban begitu juga sapi, sedangkan kambing maka harus satu orang untuk satu kambing.[1]

Imam Nawawi mengatakan: “satu kambing cukup untuk satu orang, tidak boleh lebih. Akan tetapi jika ia mau sertakan keluarga pada kurban itu maka diperbolehkan hal itu sebagai syi’ar dan sunah kifayah untuk mereka. Sedangkan sapi atau unta, maka untuk tujuh orang, sama saja ia masih keluarga atau bukan,  untuk kurban sedangkan yang lainnya untuk potong biasa saja.

Imam Nawawi mengutip perkataan Imam Baihaqi: “kami meriwayatkan hadis dari Ali, Hudzaifah, Abu Mas’ud al Anshari dan ‘Aisyah mereka berkata: “satu sapi itu untuk tujuh orang/ al Baqorotu ‘an sab’atin”. Adapun mengkias kambing ke unta merupakan perkara lucu/terheran saja, dikarenakan ulama sepakat bahwa satu kambing itu khusus untuk satu orang.[2]

Sedangkan hadis tentang Nabi menyebut keluarga dan umatnya, seperti hadis dibawah ini:

عمارة بن عبد الله، قال : سمعت عطاء بن يسار، يقول : سألت أبا أيوب الأنصاري كيف كانت الضحايا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال : كان الرجل يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته، فيأكلون ويطعمون حتى تباهى الناس فصارت كما ترى.

“’Umaroh bin Abdillah menceritakan, aku mendengar ‘Atho bin Yasar berkata: Aku berkata kepada Abu Ayub al Anshori tentang kurban dimasa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam., ia menjawab: dahulu ada seorang laki-laki berkurban dengan satu ekor kambing, dan ia menyertakan keluarganya dalam kurban tersebut. Lalu mereka makan, bersedekah sampai dengan bersenang-senang, seperti yang terihat saat ini”. HR. Imam Tirmidzi, soheh, 1505.

Dan hadis Jabir bin Abdillah

صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الأضحى ، فلماّ انصرف أُتي بكبش فذبحه وقال : بسم الله والله أكبر ، اللهمّ هذا عنيِّ وعمن لم يضح من أُمتي. رواه أحمد وأبو داود والترمذي.

 

Dahulu aku sholat bermsama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘idul Adha. Tatkala selesai, di datangkang se-ekor domba kemudian ia memotongnya dengan membaca “bismillaahi Allahu Akbar, Allahumma hadza ‘annii wa ‘amman lam yudhohhi min ummatii”. HR. Ahmad, Abu Daud, 2810 dan Tirmidzi, 1521.

Difahami oleh Imam Nawawi dalam Majmu’nya sebagai sunah kifayah, artinya keluarga yang disertakan mendapatkan hukum sunah kifayah, gugur karena telah ada satu keluarga yang melakukan kurban. Ada pula ulama yang memahami sebagai penyertaan dalam pahala.[3] 

Kurban itu bagian dari ibadah, maka dari itu disyaratkan padanya niat di dalam hati. Niat tersebut diucapkan saat menyembelih hewan kurban, karena asal niat itu disertai dengan perbuatannya. Jika hewan tersebut dita’yin/ditentukan untuk kurban, maka diperbolehkan niat diawal, yaitu saat ia ta’yinkan/ia tentukan sebagai kurban. Bagitu juga jika ia tidak mampu menyembelih sendiri, maka niatnya saat memberikan kepada wakil/panitia, atau ia niat saat hewannya mau disembelih oleh orang penjagal.[4]



[1] Bidayatul Mujtahid wan Nihaayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd,  h. 345-346. Cet. Maktabah Shouruk ad Dauliyah.  Al Mu’tamad fil Fiqhi asy Syifi’i, DR. Muhammad az Zuhaily, j. 2 h. 480. Daar al Qolam, Beirut  

[2] Majmu’ syarhu al Muhadzdzab lil Syairazi, j.8 h. 284. Cet. Al Maktabah at Taufiqiyah.

[3] Majmu’ syarhu al Muhadzdzab lil Syairazi, j.8 h. 272. Cet. Al Maktabah at Taufiqiyah

[4] Al Mu’tamad fil Fiqhi asy Syifi’i, DR. Muhammad az Zuhaily, j. 2 h. 483. Daar al Qolam, Beirut  


[ Read More ]
Read more...
Lokasi: Indonesia Kec. Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat, Indonesia
Minggu, 21 Juni 2020

Kyoiku Mama

Posted by bangzaman on Juni 21, 2020 – 0 komentar
 

Tulisan ini tertarik diangkat setelah membaca satu artikel penelitian dari Tony Dickensheets, seorang peneliti dan pendidik dari Amerika Serikat, yang dinukil oleh Prof.DR.KH.M Tholhah Hasan dalam buku beliau.

Kyoiku Mama maksudnya adalah pendidikan yang dilakukan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya di rumah.

Tesis ini muncul dari kesuksesan pertumbuhan ekonomi Jepang sejak tahun 1960-an dan kemajuan-kemajuannya di bidang yang lain. Memang produktivitas tenaga kerja di Jepang luar biasa meningkatnya, seorang pekerja Jepang siap bekerja 16 jam per hari. Tetapi kesuksesan dan kemajuan Jepang, bukan semata-mata itu. Ada kondisi yang sangat memberikan andil signifikan, yaitu para istri (ibu) yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anaknya di rumah. Mereka (para ibu) yang merupakan pilar-pilar kokoh yang menyangga kemajuan Jepang. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat pada jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, itulah dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi dan kemajuan suatu bangsa.

Luar biasa peran ibu dalam dunia pendidikan, pantas jika di dalam Islam terdapat satu semboyan “al Ummu madrasatul Uulaa/Ibu sekolah pertama bagi anak-anaknya”.

Lebih dari itu, Islam memiliki beberapa contoh yang luar biasa untuk ditiru dalam keberhasilannya mendidik anak. Diantaranya adalah Hajar, istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Hal itu terlihat pada jawaban Ismail kecil ketika ditawari disembelih oleh ayahnya, Ibrahim ‘alaihis salaam. Allah Ta’ala ceritakan dalam surat ash Shaffaat/37:102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ إِنِّيۤ أَرَىٰ فِي ٱلْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤمَرُ سَتَجِدُنِيۤ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Ayat di atas berpesan, Ismail merupakan anak dari hasil didikan yang luar biasa. Ditawarkan untuk disembelih, ia menerima dan tidak sedikit pun menolaknya. Padahal ia tahu akibat dari sembelihan itu. Ia pasti meninggal. Ia tidak bisa bermain bersama teman-temannya. Ia tidak bisa merasakan indah dan nikmatnya permainan saat itu.

Akan tetapi jawabannya sungguh indah dan menyenangkan orangtuanya. Penuh kesopanan ia mengatakan:  “wahai ayahku, silahkan lakukan apa yang diperintahkan kepadamu”. Tidak berhenti disitu, ia lanjutkan “insya Allah, kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dapat dibayangkan untuk anak seusia Ismail saat ini, zaman now, usia 10-13 tahun, apa yang akan dijawab ketika ditawari untuk disembelih?

Bahkan, jangankan ditawari  disembelih, diperintahkan salat atau belajar saja marahnya luar biasa. Diambil hp atau gadgetnya, ngamuk luar biasa. Apa sebabnya?? Jawabnya : "pendidikan yang kurang tepat dalam keluarga".

Dibalik keberhasilan didikan Ismail terdapat sosok wanita luar biasa, Hajar. Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam Qashashul Anbiya, “Hajar dan anaknya, Ismail dibawa oleh Ibrahim ke Mekkah atas perintah Allah Ta’ala. sesampainya di Mekkah, ia ditempatkan di dekat Ka’bah dengan kemah yang ala kadarnya". 

Saat itu, tidak ada seorang pun yang menetap kecuali mereka. Kondisi tandus, gersang dan tanpa  tumbuh-tumbuhan menjadi pemandangan. Hajar dititipkan sekantong kurma dan air. Ketika itu Ibrahim meninggalkan keduanya, dan Hajar mengejarnya, seraya menanyakan “wahai suamiku, engkau mau pergi ke mana?”. “engkau akan meninggalkan kami di padang tandus yang tak berpenghuni dan tidak ada sesuatu apapun?”. 

Berkali-kali hal itu ditanyakan ke Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim tidak menoleh sedikit pun. Lalu Hajar kembali bertanya “apakah Allah yang memerintahkan kamu pergi meninggalkan kami dalam rangka dakwah?” Nabi Ibrahim menjawab “iya…, betul”. Hajar mengatakan “jika begitu, Allah pasti tidak menyia-nyiakan kami”. Kemudian Ibrahim berangkat dan tidak menoleh kembali seraya ia berserah diri kepada Allah dengan berdoa:

رَّبَّنَآ إِنَّيۤ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلاَةَ فَٱجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىۤ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُمْ مِّنَ ٱلثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim/14:37)

Informasi yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dapat diambil kesimpulan, bahwa keberhasilan Ismail dalam menjawab tawaran sembelihan ayahnya, dikarenakan sosok Ibu yang luar biasa menerima kepergihan suaminya untuk menjalankan perintah Allah, dakwah.

Inilah pendidikan akidah-akhlak. Pendidikan akidah yang kuat merupakan pondasi utama untuk keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Dengan akidah yang kuat, seorang anak akan memiliki akhlak yang mulia, baik di hadapan Allah dan juga saat berinteraksi dengan manusia. Akidah yang kuat adalah yang bersandar kepada Allah semata, dijadikannya Allah ash-Shamad dalam hidupnya.

Cukuplah pelajaran ini dijadikan landasan, jadilah orangtua, khususnya Ibu yang menjadikan anak-anak berakhlak mulia. Selain itu, carilah sekolah yang menanamkan akidah kuat dan akhlak mulia. 

Jadilah orangtua,  yang senantiasa mendukung, mensukseskan pendidikan di sekolah dengan cara memperkuatnya saat di rumah. Bekerjasama dengan guru untuk suksesi pendidikan. Terlebih lagi saat ini, di masa pandemi covid-19., dimana pendidikan dilaksanakan di rumah, kerjasama guru/sekolah dengan orangtua diujicobakan secara jelas oleh Allah Ta'ala.
[ Read More ]
Read more...
Sabtu, 20 Juni 2020

Pembagian Rapor, SDIT Salsabila Tetap Istiqomah Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19

Posted by bangzaman on Juni 20, 2020 – 0 komentar
 
Pembagian rapor siswa walau di tengah pandemi covid-19 tetap dilaksanakan. SDIT Salsabila melakukan hal itu dengan tetap istiqomah mematuhi protokol kesehatan covid-19 sebagaimana yang diintruksikan oleh pemerintah dalam program "New Normal", tatanan baru beradaptasi dengan covid-19. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Juni 2020 ke 761 siswa, mulai pukul 7.30 s.d 15.00 wib. 

Sebelumnya, SDIT telah melakukan berbagai persiapan-persiapan untuk kesuksesan acara tersebut. Mulai pembentukan panitia, penyusunan SOP kegiatan, berkordinasi dengan Gugus Covid SDIT  dan Komite sekolah, lalu melaporkan ke Direktur Pendidikan YAKPI Bekasi dan Yayasan. 

Tidak lupa pula, kegiatan ini dilaporkan ke Pengawas SD Kota Bekasi dan UPP melalui group binaan.


Pembagian rapor merupakan kegiatan rutin tahunan bagi setiap lembaga pendidikan.  Nilai rapor diambil dari kegiatan evaluasi PTS siswa sebelum terjadinya pandemi, nilai selama PJJ, keaktifan dan akhlak siswa serta kegiatan PAT online.

Kami senantiasa berpesan kepada seluruh siswa, "nilai itu penting, akan tetapi ada yang lebih penting yaitu akhlak/adab. Hal ini harus menjadi prioritas buat kalian semua. Karena mulia dan suksesnya seseorang didasari dengan akhlak/adab yang mulia".

Kegiatan pembagian rapor berjalan lancar dan kondusif. Semua wali murid mematuhi arahan dan protokol kesehatan covid-19 yang telah disosialisasikan. 







Kesuksesan sekolah terjadi dengan adanya kerjasama baik antara Yayasan, Direktorat, Struktural & Guru, Komite Sekolah dan Wali murid serta seluruh siswa. Tidak lupa juga seluruh tenaga kependidikan yang berada di lembaga tersebut.

Selamat buat siswa/i SDIT Salsabila atas prestasi akhlak yang dicapai saat ini, semoga langkah berikutnya semakin maksimal dan mendapatkan bimbingan dari Allah Ta'ala.

Selamat menikmati masa liburan sekolah. Tetap jaga kesehatan dan junjung tinggi protokol kesehatan covid-19.
[ Read More ]
Read more...
Rabu, 17 Juni 2020

Adab-adab doa

Posted by bangzaman on Juni 17, 2020 – 0 komentar
 
Di mana saja dan kapan saja, adab harus ditegakkan. Karena itu Nabi diperintahkan, inamaa bu'itstu li-utammima makaarimal akhlaak/ aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia (adab). 

Terlebih lagi jika kita hendak mengajukan permohonan. Misalkan, permohonan ke manusia, proposal pembangunnan atau lainnya, maka adab saat menghadap seseorang yang kita harapkan memberikan sumbangan harus dijaga dan dijunjung tinggi. Karena jika tidak, boleh jadi permohonan akan lewat begitu saja.

Begitu juga saat permohonan itu disampaikan kepada Allah Ta'ala, Dzat Yang Maha segalanya, maka sangat pantas adab ditegakkan. 

Permohonan kepada Allah ada doa, dan ia memiliki beberapa adab yang harus dilaksanakan. Adab-adab tersebut adalah :
  1. Memanfaatkan waktu yang dimuliakan. Seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum'at, dan waktu sahur. Allah berfirman, QS. Adz Dzariyaat : 18; "wa bil ashaari hum yastaghfiruun/ dan di waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah".
  2. Memanfaatkan keadaan. Seperti saat pasukan jihad berkumpul berjuang dijalan Allah, ketika turun hujan, ketika akan melaksanakan salat wajib dan setelahnya, diantara adzan dan iqamat, dan di saat sujud.
  3. Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat tangan kemudian mengusapkannya ke wajah. Umar bin Khattab berkata : "Rasulullah senantiasa mengangkat tangannya saat berdoa dan mengusap wajahnya". Begitu juga Ibnu Abbas berkata : "apabila Rasulullah berdoa, ia selalu menyatukan dua telapak tangan dan perut telapak tangannya menghadap ke wajah".
  4. Merendahkan suara. Sayyidah 'Aisyah pernah berkata, Allah berfirman, QS. al Isra : 110; "wa laa tajhar bi shalaatika wa laa tukhaafit bihaa/ janganlah kamu kencangkan suara di dalam salat (doa) mu, dan jangan juga di pelankan".  
  5. Tidak dibebani dengan nada sajak
  6. Disampaikan doa dengan khusyu', rendah hati, penuh harapan dan keyakinan. Allah berfirman, QS. al A'raf : 55; " ud'uu rabbakum tadharru'an wa khufyah/ berdoalah kepada Allah secara rendah hati dan suara tidak kencang (berteriak)".
  7. Yakin akan diijabahnya doa dan tepat harapannya
  8. Mengulang-ulang permohonan sebanyak tiga kali. Jika hal ini menjadi prioritas dan harapan utama.
  9. Membuka doa dengan dzikir kepada Allah dan memuji-Nya, lalu bersalawat dan menutupnya pun dengan salawat.
  10. Selalu menjaga perbuatan dan amal soleh.
Mari menjaga adab-adab doa, jika kita mengharapkan doa diijabah oleh Allah Ta'ala. Jangan mengeluh doa belum diijabah jika kita tidak menjaga adabnya.

Awali kegiatan setiap hari mu dengan doa kepada Allah, karena kita TIDAK MEMILIKI DAYA DAN UPAYA untuk menyelesaikan dan menyempurnakan kegiatan dan pekerjaan kita.

Sumber utama:
Abwaabul Faraj, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani. Daarul Kutub al 'ilmiyah 
[ Read More ]
Read more...
Selasa, 16 Juni 2020

Doa dan Makanan

Posted by bangzaman on Juni 16, 2020 – 1 komentar
 
Imam Abu Dzar pernah berkata "yakfii minad du'aa-i ma'al birr maa yakfii ath th'aamu minal milh/ doa menjadi kuat berkualitas jika disertai dengan kebajikan, seperti makanan semakin nikmat karena dengan garam". 

Allah akan menerima permohonan dan doa seorang hamba manakala ia menjaga amal soleh dan ketaatannya. Sama halnya dengan makanan, ia akan diterima penikmatnya setelah ditaburi garam. Karena itu menjadi sebab sedapnya makanan. Tiada garam, maka makanan akan hambar.

Sayyid Muhammad bin Alawi berkata "makanan haram akan melemahkan dan bahkan membatalkan (tidak diterima) doa seorang hamba". Sebagaimana hadis soheh Muslim menjelaskan, Rasulullah bersabda: "wahai manusia, sesungguhnya Allah itu thayib (baik), Ia hanya menerima yang baik-baik saja". Sebagaimana Rasul diperintahkan memakan yang baik-baik saja (thayib), begitu juga umatnya. Allah berfirman, QS. al Mu'minuun/ 23:51

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

"wahai para rasul, makanlah oleh mu dari makanan yang baik-baik (halal) dan berbuat amal solehlah. Sesungguhnya aku Maha Mengetahui dari apa yang kamu kerjakan".

dan juga firman Allah QS. al Baqarah/2:172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik-baik (halal) dari rizki yang Allah berikan kepada mu, dan bersyukurlah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah".

Lalu Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, lusuh dan berdebu. Ia mengangkat tangannya, dan berdoa "wahai Tuhanku....., wahai Tuhanku. Padahal, makanan dan dikonsumsinya itu haram, minumannya, pakainya, dan gizinya itu pun haram. Bagaimana munkin diijabah/diterima doanya.

Maka dari itu, mari jaga amal soleh dan makan-minum kita. Karena ia menjadi penentu diterima dan tidaknya doa. Mari perbanyak dan kuatkan doa, karena kita makhluk yang tidak memliki apa-apa, daya dan juga upaya. JANGAN BERHENTI DOA 

Sumber utama:
Abwaabul Farj, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani. Daar Kutubu al 'Ilmiyah
[ Read More ]
Read more...
Senin, 15 Juni 2020

Sanksi Meninggalkan Salat Jum'at

Posted by bangzaman on Juni 15, 2020 – 0 komentar
 

Dinamakan sholat Jum’at dikarenakan pada hari itu manusia berkumpul. Ada pula yang mengatakan dikarenakan pada hari itu berkumpul kebaikan.[1] Hal ini berdasarkan hadits Imam Tirmidzi, dengan derajat hasan shoheh, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خير يوم طلعت فيه الشمس يوم الجمعة، فيه خلق أدم، وفيه دخل الجنة، وفيه أخرج منها، ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة

Sepaling baik hari saat matahari terbit adalah hari Jum’at, pada hari itu Nabi Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukan ke dalam syurga, pada hari itu ia diusir dari syurga, dan tidak akan terjadi hari kiamat, kecuali pada hari Jum’at.[2]

Kewajiban sholat Jum’at berdasarkan firman Allah surat Al-Jumu’ah : 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.

Dan juga berdasarkan hadits Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah hadits di bawah ini :

Hadits 1

عن عبد الله بن عمر وأبي هريرة رضي الله عنهم أنهما سمعا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول على أعواد منبره : لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن الله على قلوبهم، ثم ليكونن من الغافلين. ((رواه مسلم))

Bersumber dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah-semoga Allah meridhoi mereka-, keduanya mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar kayu : “Sungguh dilarang suatu kaum meninggalkan sholat Jum’at, atau Allah akan cap/ tutup hati mereka (tidak lembut hatinya, atau tidak mau menerima kebenaran), lalu sungguh mereka termasuk orang-orang yang lalai. (HR. Imam Muslim, 865)

Kandungan Hadits

  • Larangan meninggalkan sholat Jum’at amatlah kuat, dikarenakan Allah Ta’ala akan mencap hatinya atau menutupinya sehingga ia tidak menerima kebenaran atau jauh dari kelembutan, dan ia dijadikan dalam kelompok orang-orang yang lalai. 

Selain itu, dikarenakan pada firman Allah surat Al-Jumu’ah: 9 dijelaskan bahwa harus segera meninggalkan perdagangan dan menuju kepada sholat Jum’at yang akan  dilaksanakan. Perintah untuk meninggalkan sesuatu yang tadinya boleh, lalu menjadi tidak boleh dikarenakan untuk melakukan sholat Jum’at, maka pastilah Jum’at ini sesuatu yang wajib, karena dengan sebabnya perdagangan menjadi dilarang.
  • Orang yang sudah dicap sebagai lalai, maka ia tidak akan mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat.[3]
Orang yang hatinya dicap oleh Allah, berarti itu sebagai tanda, agar para malaikat mengetahui siapa yang akan mendapatkan celaan/ cacian pada hari kiamat nanti.[4]


[1] Alfiqhul Islamy wa Adillatuh, Syeikh Wahbah Zuhaily, J.2 H. 1278. Cet. Daar Fikr.

[2] Ibid, 1279

[3] Subulus Salaam, Imam Ash-Shan’ani, J. 2 H. 48. Taudhihul Ahkaam Min Bulughil Maram, Imam Abdullah Basyam, J. 2 H. 564.

[4] Syarah Shoheh Muslim, Imam Nawawi, J. 3 H. 417. Cet. Daar Hadits, Mesir.


[ Read More ]
Read more...
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ▼  Jun (15)
      • Hikmah Pandemi, Pesram SDIT Salsabila lebih Kreatif
      • Islam dan Mensikapi Pemimpin
      • Qunut Nazilah, apa dan bagaimana.
      • Memahami & Memaknai Tema Hardiknas 2020
      • Doa Anti Jomblo
      • Senjata Mukmin, Doa.
      • TP. 2019/2020, Angkatan "Shaabiriin"
      • Sanksi Meninggalkan Salat Jum'at
      • Doa dan Makanan
      • Adab-adab doa
      • Pembagian Rapor, SDIT Salsabila Tetap Istiqomah Pa...
      • Kyoiku Mama
      • Satu hewan kurban, untuk berapa orang?
      • Hamka; Pendidikan Islam itu Penting
      • Belajar dari Ikan di Laut
    • ►  Jul (12)
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger