Qunut yang dilaksanakan dikarenakan ketakutan,
paceklik/kelaparan, wabah penyakit, munculnya belalang secara banyak, atau
semisalnya, yang menimpa manusia. Baik dalam satu tempat atau beberapa tempat.[1]
Ketika muncul ketakutan, maka doa yang
diberikan adalah laknat dan kehancuran buat mereka yang menyebabkan takut. Jika
wabah, maka doa keselamatan dan pemeliharaan untuk masyarakat jangan sampai
terkena wabah tersebut.
Terjadinya qunut nazilah yang dilakukan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu pada tahun ke-4 dari hijriyah. Yakni setelah Nabi Muhammad mendengar terjadinya pembantaian 70 sahabat yang ahli dalam al Qur’an. Mereka dibantai oleh Ri’l dan Dzakwan.[2]
Disunahkannya Qunut Nazilah ketika terjadi
musibah, wabah atau semisalnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah lakukan,
dijelaskan dalam hadisnya, hadis Anas bin Malik.
ما رَأَيْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ
وَجَدَ علَى سَرِيَّةٍ ما وَجَدَ علَى السَّبْعِينَ الَّذِينَ
أُصِيبُوا يَومَ بئْرِ مَعُونَةَ، كَانُوا
يُدْعَوْنَ القُرَّاءَ، فَمَكَثَ شَهْرًا يَدْعُو علَى قَتَلَتِهِمْ
“tidaklah aku melihat Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam berduka seperti berdukanya ketika sariyyah
(pasukan khusus) tujuh puluh orang yang dibantai di sumur Ma’unah, mereka
merupakan ahli qira’at/qur’an. Maka selama satu bulan Nabi mendokan keburukan
untuk orang-orang yang membunuh mereka (ahlil qura’)”. (HR. Imam Muslim,
677)
Dalam hadis lain, Anas bin Malik menceritakan:
أن النبي صلى الله عليه
وسلم كان لا يقنت إلا إذا دعا لقوم، أو دعا على قوم. (صححه إبن حبان)
“senantiasa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam
melakukan qunut untuk mendoakan kebaikan satu kaum, atau mendoakan keburukan”.
(HR. Ibnu Hibban, dan ia menganggap soheh)
Dari hadis ini, ulama berhujjah, disunahkan melaksanakan qunut untuk beberapa kejadian/peristiwa. Jika untuk orang-orang yang lemah, seperti terkena musibah, bencana, dan lainnya maka ia doakan kebaikan untuk mereka. Seperti dahulu Nabi mendoakan penduduk Mekkah yang lemah. Jika untuk orang-orang yang jahat, yang membuat orang lain binasa, maka doakan keburukan, laknat dan kehancuran untuknya, seperti Rasul mendoakan orang-orang yang membunuh ahlul Qura’.[3]
Doa qunut nazilah yang Nabi lakukan banyak
ragamnya, hal itu disesuaikan dengan kejadian yang menimpa, mengenai satu kaum.
Adakalanya laknatan, permohonan hidayah, doa keselamatan dan lainnya.
Terkait laknatan/keburukan sebagaimana
dijelaskan dalam hadis Imam Bukhari nomor 6392, 6396.
اللهم منزل الكتاب سريع
الحساب إهزم الأحزاب إهزمهم وزلزلهم
Dan redaksi lain
ملأ الله قبورهم وبيوتهم
نارا
Selanjutnya dalam riwayat Imam Bukhari nomor
1006., terkait kebaikan untuk orang lain:
اللهم
انج عياش بن أبي ربيعة، اللهم انج سلمة بن هشام، اللمهم انج الوليد بن الوليد،
اللهم انج المستضعفين من المؤمنين، الله اشدد وطأتك على مضر، اللهم اجعلها سنين
كسني يوسف.
Sebenarnya, bacaan khusus dan tertentu untuk qunut nazilah tidak
ada, hal ini sebagaimana Imam Ibnu Taimiyah berkata : “sebaiknya bagi orang
yang melaksanakan qunut nazilah, hendaknya ia berdoa sesuai dengan kejadian
yang menimpa. Apabila ia menyebutkan siapa saja yang didoakan kebaikan dari
kalangan orang-orang yang lemah. Atau didoakan keburukan untuk orang-orang
kafir dan orang yang memerangi kaum muslimin, maka hal itu lebih baik”.[4]
Selain itu, Imam Nawawi mengatakan : “menurut pendapat imam madzhab
dan mayoritas ulama, dan ini pendapat yang soheh, bahwa doa qunut tidak
ditentukan untuk satu redaksi, bisa menggunakan
redaksi apapun yang terpenting berisikan doa dan pujian”.[5]
Maka dari itu, jika melihat kondisi saat ini, terkait wabah korona yang melanda Indonesia khususnya. Doa yang disampaikan saat qunut nazilah adalah doa pemeliharaan, keselamatan, terjaganya kesehatan, diberikan kesabaran, dan lainnya yang berhubungan dengan wabah korona.
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ (لَنَا) يَاغَفَّارْ، اَللّهُمَّ ارْحَمْنِيْ (ارْحَمْنَا) يَا رَحِيْمْ، اَللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنِّي (عَنَّا) وَالْمُسْلِمِينْ مَالَا يَصْرِفُهُ إِلاَّ غَيْرُكْ، مِنَ الْبَلَاءِ وَاْلوَبَاءِ وَالْفَحْشَاءِ وَالْأَحْزَانِ وَالطَّاعُوْنِ وَالشَّدَائِدِ وَشَرِّ الْأَعْدَاءِ وَالْمُشْرِكِينْ وَشَرِّ الظَّلَمَةِ وَالْمُبْتَدِعَةِ وَالْحَاسِدِينْ، رَبِّي (رَبَّنَا) لَا تُحَمِّلْنِي (لَا تُحَمِّلْنَا) مَالَا طَاقَةَ لِيْ (لَنَا) بِهْ، وَاعْفُ عَنِّي (عَنَّا) وَاغْفِرْ لِيْ (لَنَا) وَارْحَمْنِيْ (وَارْحَمْنَا) أَنْتَ مَوْلَايَ (مَوْلَانَا) فَانْصُرْنِيْ (نَا) عَلَى الْقَوْمِ الْكاَفِرِيْن، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين.
Qunut nazilah dikerjakan pada rakaat terakhir di
setiap salat wajib.[6]
Setelah I’tidal di rakaat terakhir. Disunahkan bagi imam membaca dengan jahr,
lapaz jamak, dan mengangkat tangan. Sedangkan mengusap muka, tidak disunahkan
menurut pendapat yang soheh.[7]
Imam Shan’ani mengatakan: “perihal qunut dalam
riwayat Anas bin Malik tidak ada yang saling bertentangan. Semuanya dapat
dijamak (disatukan pemahaman). Qunut yang disebutkan pelaksanaannya sebelum
ruku’ maksudnya adalah melamakan/ memanjangkan bacaan al Qur’an di dalam salat,
hal ini senada dengan sabda Nabi “afdhalush shalat thuulul qiyaam/ sepaling
utama salat adalah yang berdiri (dalam membaca al Qur’annya) lama/panjang”.
Sedangkan qunut yang pelaksanaannya setelah ruku’ maksudnya itu melamakan
berdiri untuk berdoa, ini yang dilakukan Nabi Muhammad selama satu bulan. Ia
mendoakan kebaikan atau keburukan untuk satu kaum.
Lalu, pada qunut yang mendoakan keburukan untuk
satu kaum, Nabi hentikan, cukup hanya satu bulan saja. Sedangkan kebaikan dan
pujian, ia lanjutkan sampai meninggal dunia. Sebagaimana hadis menjelaskan :
أن
أنسا كان إذا رفع رأسه من الركوع إنتصب قائما حتى يقول القائل : قد نسي، وأخبرهم
أن هذه صفة صلاته صلى الله عليه وسلم
“sesungguhnya
Anas apabila ia bangun dari ruku, ia berdiri tegak (yang lama), sehingga ada
orang yang berkata: “sungguh ia telah lupa”. Lalu orang tersebut diberitahu,
(tidak lupa, melainkan) beginilah sifat salat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam”. Ditakhrijkan dalam kitab soheh Bukhari-Muslim.
Itulah qunut yang dimaksudkan oleh Anas bin
Malik pada perkataannya: “Innahu maa zaala hatta faaraqad dunya/
sesungguhnya hal itu dilakukan sampai ia meninggal dunia”.[8]
Hendaknya imam membaca doa qunut dengan lapaz
jamak (orang banyak), tidak menggunakan lapaz tunggal. Bahkan makruh hukumnya
jika ia menggunakan lapaz tunggal saat menjadi imam. Hal ini berdasarkan hadis
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لا يؤم عبد قوما فيخص نفسه
بدعوة دونهم فإن فعل فقد خانهم
“tidak boleh bagi salah seorang kamu mengkhususkan doa untuk
dirinya, tanpa orang lain (jama’ah) ketika ia menjadi imam. Jika hal itu
dilakukan, maka ia telah berkhianat kepada mereka (jama’ah)”. HR. Abu Daud
dan Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini hasan.[9]
Disunahkan bagi imam dan makmum mengangkat
tangan ketikan qunut, hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad shallallaahu
‘alaihi wassalam, sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik :
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَى شَيْءٍ قَطُّ وَجْدَهُ عَلَيْهِم،
-يَعْنِي القُرَّاءَ- فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي صَلاَةِ الغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ
“aku belum pernah mendapati Rasulullah
shallalaahu ‘alaihi wa sallam sedih seperti sekarang ini ketika ia mendapati
kabar tentang ahlul qura’. Sungguh aku mellihat Nabi Muhammad berdoa keburukan
untuk pembunuh mereka, ia mengangkat tangannya dalam berdoa di saat salat Shubuh”.
HR. Imam Ahmad, 11994., Imam Baihaqi, 3229. Hadis jayyid menurut al Imam al
Iraqi.
Begitu juga dipraktekan oleh Umar bin Khattab,
beliau mengangkat tangan ketika melaksanakan qunut. Begitu juga Ibnu Mas’ud dan
para sahabat lainnya. Imam Nawawi mengatakan, hadis tentang ini soheh dari
Rasulullah dan sahabat.[10]
Membaca aamiin, ketika imam membaca doa qunut.
Sebagaimana hadis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Abbas
meriwayatkan, ia berkata :
قنت رسول الله صلى الله
عليه وسلم، وكان يؤمن من خلفه. (رواه أبو داود بإسناد حسن أو صحيح)
[1] Al Fiqhul Islami wa Adillatuh,
j.2 h. 1008. Cet. Daarul Fikr
[2] Fathul Baari, j. 7 h. 436.
Cet. Daarul Hadis
[3] Subulus Salam Syarah Bulughul
Maram, j. 1 h. 194. Cet. Daar al Kutub al Ilmiyah.
[4] Majmu’ Fatawa Imam Ibnu
Taimiyah, j. 22 h. 271
[5] Majmu’ syarah Muhadzdzab, j. 3
h. 415-416. Cet. Al Maktabah at Taufiqiyah
[6] Matnul Minhaj, fi Kitab as
Siraajul Wahhaj, h. 47-48. Cet. Daar al Kutub al Ilmiyah.
[7] As Siraajul Waahaj ‘ala matnil
Minhaj, h. 47. Cet. Daar al Kutub al Ilmiyah
[8] Subulus Salam Syarah Bulughul
Maram, j. 1 h. 194. Cet. Daar al Kutub al Ilmiyah
[9] Kifayatul Akhyar, h 111. Cet.
Maktabah Iman
[10] Majmu’ Syarah Muhadzdzab, j. 3
h. 511






