
Lalu, pelajaran apa yang dapat diambil dari Covid-19?. Sebagai
seorang pendidik, saya mencoba memahami dan memaknai apa yang disampaikan oleh
Mendikbud tentang hal itu, paling tidak ada beberapa yang dapat diambil:
1.
Pendidikan
Integrasi
Pendidikan integrasi maksudnya pendidikan
yang bersatu padu antara guru dan orangtua. Pada pandemi covid-19, pemerintah
menetapkan kebijakan untuk dunia pendidikan, agar pelaksanaan proses belajar
mengajar (PBM) dilakukan di rumah masing-masing, secara daring.
Hal ini membuat sadar dan insaf bagi
semua stakeholder akan penting dan sulitnya proses belajar mengajar.
Terlebih lagi bagi mereka yang tidak dibekali dengan ilmu pedagogik.
Fakta yang terjadi, orangtua menyadari bahwa mengajar anak,-kurang dari lima,-bukan
merupakan satu hal yang mudah, bagaimana jika lebih, dengan karakter dan
kompetensi serta talenta yang berbeda-beda.
Guru pun mendapati hal yang sama,
yakni kesulitan, tanpa dukungan orangtua, follow up pembelajaran tidak
akan terlaksana, sehingga penguatan nilai dan pembiasaan akan hilang, sirna
begitu saja.
Dengan demikian, kerjasama keduanya
menjadi sangat penting untuk keberhasilan pendidikan, dan kondisi ini makin
terasa disadari ketika pandemi terjadi.
2.
Pendidikan
Fakta & Keimanan
Sampai saat ini, Sabtu, 9 Mei 2020,
jumlah terinfeksi virus di Indonesia sebanyak 13.112, sembuh 2.494, dan meninggal
943 jiwa. Sedangkan di dunia 3,93 juta, sembuh 1,31 juta, dan meninggal dunia
274 ribu jiwa. Artinya, manusia tidak
memiliki kekuatan sedikit pun. Virus yang sangat amat kecil ±, 0,125 mikrometer, membuatnya stress, prustasi, dan emosi. Mengganggu
stabilitas ekonomi, keamanan dan pendidikan. Entah sampai kapan hal ini
berakhir, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Sebagai makhluk beragama, sandaran
dan ketaatan kepada Allah jangan sampai pudar, terlebih dalam kondisi seperti
ini. Memohon kepada Allah merupakan satu kewajiban, karena hanya Ialah yang
dapat menolongnya. Iyyaakana’budu wa iyyaakanas ta’iin/ hanya kepada Mu kami
menyembah, dan hanya kepada Mu kami meminta pertolongan. QS. Al Fatihah/1 :
5.
Ini menjadi bagian penting dalam
pendidikan karakter, di mana iman, keyakinan dan sandaran seseorang semakin
kuat kepada Allah Ta’ala. Sehingga, langkah yang ia lakukan, senantiasa mencontoh
yang dipraktekan oleh Rasulullah saw. Adian Husaini menyebutnya sebagai Islamic
worldview dalam pendidikan. [Pendidikan
Islam, h. 10-23].
3.
Pendidikan
Sabar
Guna memutus mata rantai penyebaran
covid-19, pemerintah memberlakukan program PSBB, pembatasan sosial berskala
besar. Bekerja, belajar dan beribadah di rumah saja membuat orang jenuh dan
bosan. Jika hal ini tidak disikapi dengan kesabaran, maka dipastikan
pelanggaran akan terjadi di mana-mana, bahkan kerusuhan tidak dapat dihindari,
seperti yang diberitakan Kompas.com -
29/03/2020.
Sabar
adalah perasaan atau kondisi tetap dalam
ajaran agama dalam menyikapi goncangan hawa nafsu. Maksudnya, orang tersebut
mengetahui Allah, Rasulullah, dan kemaslahatan yang akan ia dapati. Sehingga,
ia berbeda dengan hewan yang senantiasa mengedepankan hawa nafsunya. [Mau’izhotu al Mu’miniin min Ihya ‘Ulumu ad Diin, j.2 h. 321]
Terlebih lagi di saat Ramadhan,
bulan penuh kesabaran. Melalui puasa hal ini diajarkan. Karena ia tidak boleh
makan & minum melainkan setelah masuk waktunya. Menahan dan sabar dari
goncangan hawa nafsu, dalam kondisi lapar dan haus.
Orang yang sabar, Allah akan cukupkan
pahalanya tanpa batas, QS. Az Zumar/39:10., mereka akan mendapatkan keberkahan,
rahmat dan petunjuk dari Allah, QS. Al Baqarah/2:157.
4.
Pendidikan
Kepedulian dan Gotong-royong
Selama pandemi covid-19, tidak
sedikit perusahaan, pelaku bisnis, pedagang, ojol, dan bahkan lembaga-lembaga,
seperti pendidikan, mengalami penurunan penghasilan, atau bahkan tidak sama
sekali. Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, “prediksi
pertumbuhan ekonomi masa pandemi sangat berat”. finance.detik.com., 4
Mei 2020
Tak ayal lagi, kondisi ini membuat
jumlah fakir-miskin Indonesia akan semakin banyak. Ini, menjadi tugas dan
tanggungjawab bersama, terutama pemerintah Republik Indonesia.
Bulan Ramadhan, melalui puasa, umat
diajarkan bagaimana merasakan penderitaan orang lain walaupun sebenarnya ia
sedang menderita. Konsep pemberian ta’jil berbuka, menjadi landasan yang
disampaikan oleh Rasulullah saw.
من فطَّر صائمًا كان له مثلُ أجره، غير
أنه لا ينقصُ من أجر الصائمِ
شيئًا
“barang siapa yang
menyediakan makanan berbuka, maka ia akan mendapatkan pahala puasa sepertinya,
tanpa dikurangi sedikit pun”. (HR. Imam Tirmidzi, 807., hadis soheh
Bahkan dalam hadis Ibnu Abbas, yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari, 1902., dan Muslim, 2308., “Nabi Muhammad
bertambah kedermawanannya saat bulan Ramadhan, dan itu melebihi angin yang
berhembus silir semilir”.
Ibnu Rajab al Hanbali mencatat, Nabi
Muhammad, sebelum diutus menjadi nabi memang termasuk orang yang dermawan. Ia
senantiasa memberikan makan tetangganya dan orang miskin yang datang
menghampirinya. [Lathaif al
Ma’aarif, h. 229]. Ini menjadi
bukti dan uswah buat bangsa saat ini, bahwa, di masa pandemi, terlebih
lagi di tengah-tengah Ramadhan, marilah bersama-sama, bergotong-royong membantu
saudara-saudara yang terkena dampak covid-19.
5.
Pendidikan
Berbasis Teknologi Modern
Sejak ditetapkannya belajar di rumah oleh Kemendikbud, melalui
Surat Edaran Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020., seluruh
sekolah melakukan upaya PJJ dengan menggunakan berbagai aplikasi yang
memudahkan, menyenangkan dan aman bagi siswa/walimurid.
Tak dapat disangkal, sekola berkali-kali melakukan uji coba
menggunakan media pembelajaran yang terbaik untuk siswanya. Sehingga, ragam
aplikasi dikenal, yang sebelumnya tidak. Guru semakin kreatif dan inovatif,
karena setiap hari ia berfikir dan mencari ide agar pembelajarannya menyenangkan.
Jiwa pembelajar untuk para guru, di masa pandemi ini semakin
terasah. Perubahan managemen dan progam sekolah pun semakin maju, karena
dituntut dengan kondisi. Termasuk juga orang tua, mereka menjadi guru di masa
pandemi ini.





