skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Selasa, 21 November 2017

Allah pun Bersedekah

Posted by bangzaman on November 21, 2017 – 0 komentar
 

Sedekah adalah  pemberian untuk seseorang karena mengharap ridho Allah Ta’ala.[At Ta’rifat,h.113] Sedekah merupakan ibadah muta’adiyah, ibadah yang bisa dirasakan manfaatnya pada orang lain. Dengan sedekah berarti seseorang telah mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, kesusahan dan kefakirannya, sehingga ia mau memberikan apa yang dimilikinya untuk meringankan kesusahan dan kefakiran saudaranya tadi. Inilah nilai ibadah yang utama di hadapan Allah Ta’ala. Rasulullah menyampaikan “muslim itu bersaudara, ia tidak boleh membiarkan saudaranya dan tidak boleh menzholiminya…” [HR. Imam Bukhari, 6951]., ia tidak boleh membiarkan saudaranya berada dalam kemelaratan, kesusahan, kesedihan, kefakiran dan seterusnya, diantara solusinya adalah dengan sedekah.
Sedekah itu banyak manfaatnya, diantaranya adalah “Allah akan menggantikan apa yang disedekahkan…”.[QS.Saba’:39], “Allah akan berikan ganti satu berbanding tujuh ratus, bahkan lebih dari pada itu …” [QS. Al Baqarah: 261], dan selainnya.
Kaitannya dengan sedekah, Allah pun bersedekah pada kita, dan sedekah Allah tidak boleh ditolak, sebaiknya diterima, sebagaimana ketika seseorang bersedekah pada kita, maka ahsannya diterima, terlebih lagi kondisi orang yang disedekahi adalah yang pantas dan sangat membutuhkannya. Apa saja yang termasuk sedekah Allah kepada hamba-Nya?

1. Qoshrus sholat/mengkosor solat. Allah berfirman dalam surat an Nisa/4:101: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir…..”, Rasulullah bersabda: “itu adalah sedekah dari Allah pada kamu, maka terimalah sedekah dari-Nya”. HR. Imam Muslim, 686., Ibnu Hibban, 2739, Imam Nasa’I, 1432.
Mengkosor solat adalah meringkas solat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seharusnya Zhuhur, Ashar dan Isya dilaksanakan empat rakaat, tetapi ketika dalam kondisi safar kita diperbolehkan melaksanakannya dua rakaat saja. Maka yang dua rakaat tidak dilaksanakan itu adalah sedekah Allah pada kita, dan ini harus diterima. Ulama menyatakan bahwa mengkosor solat dalam perjalanan musafir itu lebih utama daripada solat dengan cara tamam/sempurna.

2. An Naumu, qablahu niyatush sholat/Tidur, karena ngantuk yang luar biasa. Maksudnya adalah ketika kita hendak tidur, kita ber’azam/bercita-cita kuat, terlebih lagi niat bangun malam untuk solat tahajud, ternyata,-dikarenakan ngantuk yang luar biasa-, mata pun terus merem, tidak bangun sedikit pun hingga datang waktu solat Shubuh. Tahajud pun lewat karena ketiduran. Menurut Rasulullah, tidur tersebut sedekah dari Allah Ta’ala, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Imam Nasa’I, 1783, 1784, 1785., Imam Abu Daud, 1314.
من كانت له صلاة صلاها من الليل، فنام عنها كان ذلك صدقة تصدق الله عز وجل عليه، وكتب له أجر صلاته.
     3. Dzikrullah/ingat kepada Allah. Ingat kepada Allah itu sedekah yang paling utama dari segala sedekah. Dimana pun hamba berada, kapan pun waktu keberadaannya, maka ingat kepada Allah adalah sedekah segalanya. Dengan ingat kepada Allah hatinya menjadi tenang. Ingat kepada Allah dirinya akan terhindar dari segala kerugian. Ingat kepada Allah maka dirinya akan diingat oleh Allah.
Khalid bin Ma’dan mengatakan:
إن الله يتصدق كل يوم بصدقة، وما تصدق الله على أحد من خلقه بشيء خير من أن يتصدق عليه بذكره.
“sesungguhnya sedekah Allah itu setiap hari diberikan, dan tidak ada sedekah yang paling baik/utama yang Allah berikan pada hamba-Nya melainkan ingat kepada Allah sendiri, itulah sedekah utama”.
Sedekah dari Allah merupakan keringanan yang Allah berikan untuk kita. Allah Yang Maha Kaya bersedekah dengan cara dan kehendaknya sendiri, kita pun bisa bersedekah dengan cara dan gaya yang kita miliki, asalkan itu dinilai baik/ma’ruf oleh Allah Ta’ala., Kullu ma’rufin shodaqatun/ setiap kebajikan adalah sedekah” [HR. Imam Muslim, 1005., Imam Bukhari, 6021].

Selamat bersedekah, karena sedekah, berkah.

#sumber utama; Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, Ibnu Rojab al Hanbali, h. 296-297. Cet.Maktabah al Ma’mun, Jeddah. 

[ Read More ]
Read more...
Lokasi: Indonesia Kec. Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat, Indonesia
Rabu, 21 Juni 2017

'Iedul Fitri Bersama Nabi Muhammad SAW

Posted by bangzaman on Juni 21, 2017 – 0 komentar
 
'Iedul Fitri bersama Nabi bukan berarti harus kembali ke masa beliau, dan berkumpul bersama beliau. Tetapi mempraktekkan dan mengamalkan pesan-pesan beliau saat berhari raya. Apa saja itu…???
1.      Mengenakan pakaian baru
Kebiasaan masyarakat Indonesia, atau bahkan masyarakat dunia ketika berhari raya pasti mempersiapkan diri sebaik-baiknya, penuh dengan suka cita. Diantara yang dipersiapkan buat diri adalah membeli pakaian baru untuk hari raya.
Tentang pakaian baru di hari raya, dan bahkan berhias diri disertai dengan minyak wangi merupakan bagian dari yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Bukhari (948) dan Muslim (2068), dari Abdullah bin Umar :
عن عبد الله عمر  قال : أخذ عمر جبة من إستبرق تباع في السوق فأخذها، فأتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله، إبتع هذه، تجمل بها للعيد والوفود، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنما هذه لباس من لا خلاق له، فلبث عمر ما شاء الله أن يلبث، ثم أرسل ‘إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم بجبة ديباج، فاقبل بها عمر فأتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال : يا رسول الله، إنك قلت : إنما هذه لباس من لا خلاق له، وأرسلت إلي بهذه الجبة، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : تبيعها أو تصيب بها حاجتك.
“dari Abdullah bin Umar, ia berkata : Umar mengambil (menunjukan) jubah yang terbuat dari sutera kasar yang dijual di pasar. Lalu ia datangi Rasullullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ia katakan : wahai Rasulullah.., belilah ini dan kenakanlah saat hari raya dan menerima tamu. Rasul berkata : “ini hanyalah pakaian untuk orang yang tidak mendapatkan bagian di akhirat nanti”. Lalu Umar meninggalkannya. Kemudian Rasul mengirimkan kepadanya jubah yang terbuat dari kain sutera, ia terima dan ia datangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa jubah itu seraya bertanya : wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah mengatakan “ini hanyalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian  di akhirat nanti”, tetapi kenapa engkau kirimkan aku jubah seperti ini?? Rasul menjawab : engkau jual yang tadi, dan engkau dapati apa yang engkau perlukan/ inginkan”.
Hadis ini difahami oleh al Imam al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani sebagai anjuran untuk mengenakan pakaian baru atau yang paling bagus diantara pakaian yang telah dimiliki. Bukan hanya beliau, Imam Ibnu Abi ad Dunya dan Imam Baihaqi, keduanya mengatakan “bahwa Ibnu Umar senantiasa mengenakan pakaian yang paling bagus saat dua hari raya”.
Dengan demikian, mengenakan pakaian baru atau pakaian yang paling bagus diantara pakaian yang kita miliki merupakan bagian dari sunah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi perlu diingat, tidak boleh boros dan mubadzir dalam membeli pakaian baru, perhatikan jenis pakaiannya, jangan sampai transparan, ketat atau terlihat mewah dan aneh dalam satu masyarakat. Karena hal itu akan dihukumkan makruh, bahkan boleh jadi haram.
Baju penting, tapi yang lebih penting adalah menetapnya ketakwaan setelah satu bulan perjalanan Ramadhan.[1]
2.      Bertakbir
Ulama sepakat bahwa mengumandangkan takbir/ takbiran pada hari raya adalah disunahkan. Sangat dianjurkan pelaksanaannya di rumah-rumah, masjid, pasar dan juga jalan raya. Kesunahan tersebut tidak tergantikan atau gugur setelah seseorang membunyikan mp3/ cd/ kaset takbiran. Jangan sampai pahala kesunahan ini disia-siakan dengan cara membunyikan alat-alat tersebut.
Mulai disunahkannya takbiran adalah setelah terbenam matahari di malam ‘Id sampai imam melaksanakan sholat. Imam Syafi’I berkata dalam al Umm, j.2 h. 486. Cet. Darul wafa :
فإذا رأوا هلال شوال، أحببت أن يكبر الناس جماعة، وفرادى في المسجد والأسواق والطرق والمنازل ومسافرين ومقيمين في كل حال، وأين كانوا، وأن يظهروا التكبير. ولايزالون يكبرون حتى يغدوا إلى المصلى، وبعد الغدو، حتى يخرج الإمام للصلاة ثم يدعوا التكبير.
“apabila mereka melihat hilal bulan Syawal, maka aku sangat senang sekali jika mereka bertakbir/ takbiran secara berjama’ah atau sendiri-sendiri di dalam masjid, pasar-pasar, jalan raya- jalan raya, rumah-rumah, dalam kondisi musafir atau mukim, intinya dimana pun dan dalam kondisi bagaimana pun (kecuali memang berada di tempat yang diharamkan dzikir). Mereka tampakkan takbiran. Senantiasa hal itu dilaksanakan sampai pagi dan menuju ke musholli, sampai imam melaksanakan sholat, barulah mereka tinggalkan takbiran”.
Takbiran yang dimaksud di sini adalah takbir mutlak, artinya yang tidak terkait kesunahannya dengan waktu-waktu tertentu lalu tidak disunahkan pada waktu lain. Misalnya seperti setelah sholat saja.
Lapaz takbir ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan dua dan ada pula yang mengatakan tiga. Maksudnya lapaz takbirnya “Allahu Akbar”.
Seperti menurut ulama Hanafi dan Hambali adalah :
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، ألله أكبر ولله الحمد. 
Selanjutnya diulang-ulang.
Sedangkan menurut ulama Maliki dan Syafi’i, adalah :
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، ألله أكبر ولله الحمد.
Ulama Syafi’i menganggap baik akan adanya tambahan seperti di bawah ini :
الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، لا إله إلا الله والله أكبر.
Dengan demikian, kita disunahkan takbiran, mulai terbenam matahari di malam 1 syawal dan berakhir sampai imam melaksanakan sholat. Sedangkan lapaz takbir dipersikahkan yang bagaimana saja, tidak terpaku kepada satu jenis saja.[2]
3.      Berangkat sholat ‘ied
Berangkat untuk pelaksanaan sholat ‘ied disunahkan pagi-pagi sekali, maksudnya sebelum masuk waktu dhuha. Karena pelaksanaan sholat ‘ied dimulai saat masuk waktu dhuha. Dijelaskan dalam hadis Abdullah bin Busr, riwayat Imam Abu Daud (1132), hadis shoheh, dan di dalam Fathul Bari, al Imam Ibnu Hajar membuat bab dengan “at Tabkiir ilal ‘id/ berpagi-pagi berangkat untuk sholat ‘ied”.
حدثنا يزيد بن حمير الرحبي قال : خرج عبد الله بن بسر صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم مع الناس في يوم عيد فطر أو أضحى، فأنكر إبطاء الإمام، فقال : إنا كنا قد فرغنا ساعتنا هذه، وذلك حين التسبيح.
“telah bercerita kepada kami Yazid bin Humair ar Rahabi : satu waktu di hari ‘ied Fitri atau Adha Abdullan bin Busr keluar menemani Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama manusia. Ia mengingkari imam yang datang terlambat ke tempat sholat ‘ied. Ia berkata : dahulu kami selesai sholat di waktu seperti ini, yaitu waktu dhuha”.
Dengan hadis ini ulama mensunahkan berpagi-pagi berangkat untuk sholat ‘ied, agar pelaksanaan sholat segera dilaksanakan. Seyogyanya hal ini menjadi perhatian pengurus masjid, mereka menginformasikan kepada jama’ah dan masyarakat setempat beberapa hari sebelum pelaksanaan sholat ‘ied, bahwa sholat ‘ied akan dilaksanakan pas ketika waktu dhuha.
Bukan hanya itu, disunahkan pula melalui jalan yang berbeda antara pergi dan kembalinya dari sholat ‘ied. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abdullah bin Umar, yang diriwayatkan Imam Abu Daud (1153), hadis shoheh.
عن بن عمر : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ يوم العيد في طريق، ثم رجع في طريق أخر
“dari Abdullah bin Umar ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat berangkat sholat ‘Id ia mengambil/ melalui satu jalan, dan pulangnya melalui jalan lain”
Hal tersebut dijelaskan dalam riwayat Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah, hadis no. 986.
عن جابر قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا كان يوم عيد خالف الطريق.
“dari Jabir bin Adillah, ia berkata: “dahulu Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berangkat sholat ‘ied maka ia menggunakan jalan yang berbeda antara pulang-perginya”.
Al Imam Ibnu Hajar mengatakan “kurang lebih ada 20 hikmah tentang melalui jalan yang berbeda saat berangkat dan kembali ‘ied”. Insya Allah pada judul lain akan disampaikan.
Berangkat menuju musholla ‘ied (tempat pelaksanaan sholat ‘ied) sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, baik untuk melaksanakan atau pun hanya sekedar menyaksikan, yaitu bagi wanita yang sedang menstruasi/ heid., sekalipun sebenarnya mereka dilarang sholat. Berdasakan hadis Ummu ‘Athiyah, riwayat Imam Abu Daud, no hadis. 1133. Hadis shoheh.
أن أم عطية، قالت: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرج ذوات الخدور يوم العيد، قيل: فالحيض؟ قال : ليشهدن الخير ودعوة المسلمين. قال : فقالت امرأة : يارسول الله، إن لم يكن لإحداهنّ ثوب كيف تصنع، قال : تلبسها صاحبتها طائفة من ثوبها.
“Ummu Athiyah berkata: “kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluar dari rumah-rumah saat hari raya (menuju musholla ‘ied). Rasul ditanya: “wanita yang heid bagaimana? Rasul menjawab: “(mereka dianjurkan datang) agar mereka menyaksikan (doa-doa) kebaikan dan doa kaum muslimin”. Seorang wanita bertanya: “wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka tidak memiliki pakaian, apa yang ia perbuat”. Rasul menjawab: “hendaklah saudaranya memakaikan pakaian untuknya”.
Mereka disunahkan bertakbir bersama-sama, dengan suara yang tidak keras. Bahkan sejak malam hari raya takbiran disunahkan. Berdasarkan hadis Ummu ‘Athiyah, riwayat  Imam Abu Daud, no. 1135, hadis shoheh.
عن أم عطية، قالت : كنا نؤمر  بهذا الخبر، قالت : والحيض يكنّ خلف الناس، فيكبرن مع الناس.
“dari Ummi Athiyah ia berkata : “kami diperintahkan dengan hadis ini (maksudnya hadis tentang perintah keluar menuju musholla ‘ied walaupun sedang heid), ia berkata: “wanita-wanita heid posisinya dibelakang jama’ah, mereka bertakbir bersama yang lain (jama’ah).
Wanita diwajibkan menjaga dirinya dari fitnah laki-laki. Ia keluar dengan dandanan biasa-biasa saja, tidak memakai minyak wangi yang bersangatan sehingga mengundang fitnah, dan mengenakan pakaian yang menutup aurat.[3]
Sholat ‘ied dilaksanakan dua rakaat berdasarkan perkataan Umar bin Khattab:
صلاة الأضحى ركعتان وصلاة الفطر ركعتان وصلاة السفر ركعتان وصلاة الجمعة ركعتان تمام غير قصر على لسان نبيكم، وقد خاب من افترى.
“sholat ‘ied adha itu dua rakaat, sholat ‘ied fithri dua rakaat sholat musafir dua rakaat, sholat jum’at dua rakaat, itu semua tamam/ sempurna bukannya qoshr/ diringkas sesuai ucapan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh rugi orang yang mengada-ngada”.
Sebagaimana sholat yang dilaksanakan dua rakaat begitulah sholat ‘iedul fitri. Ia takbiiratul ihram, doa istiftah, takbir tujuh kali selain takbiratul ihram, membaca fatihah dan seterusnya. Pada rakaat kedua takbir lima kali selain takbir bangun dari sujud, begitulah seterusnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Imam Abu Daud.[4]
روى عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يكبر في الفطر في الأولى سبعا وفي الثانية خمسا سوى تكبيرة الصلاة.
“’Amr bin Syu’aib meriwayatkan hadis dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa takbir tujuh kali pada rakaat pertama sholat ‘iedul fitri, dan lima kali takbir pada rakaat kedua”.HR. Imam Abu Daud, 1149, sanadnya hasan.
Dalam riwayat Imam Tirmidzi, dan ini merupakan hadis yang paling soheh dan tepat dijadikan dalil untuk jumlah takbir dalam sholat ‘ied.
عن كثير بن عبد الله عن أبيه عن جده : أن النبي صلى الله عليه وسلم كبر في العيدين، في الأولى سبعا قبل القراءة، وفي الأخرة خمسا قبل القراءة.
“dari Katsir bin Abdillah dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam takbir dalam dua sholat ‘ied. Rakaat pertama tujuh kali takbir sebelum membaca surat, dan takbir kedua lima kali sebelum membaca surat”. HR. Imam Tirmidzi, 536, hadis soheh.
Ini merupakan pendapatnya Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan para ulama yang lainnya.[5]
Diantara takbir ia disunahkan berhenti sekedar membaca satu ayat saja, ia membaca dzikir “subhaanallaah wal hamdulillaah walaa ilaaha illaallaahu wallaahu akbar”. Hal itu dijelaskan dalam riwayat al Walid bin Uqbah:
أنه خرج يوما على عبد الله، وحذيفة والأشعري، وقال : إن هذا العيد غدا، فكيف التكبير؟ فقال عبد الله بن مسعود: تكبر وتحمد ربك وتصلى على النبي صلى الله عليه وسلم، وتكبر وتفعل مثل ذلك. فقال الأشعري وحذيفة: صدق.
“satu waktu al Walid pernah keluar bersama Abdullah, Hudzaifah dan Asy’ari. Ia bertanya: “sesungguhnya besok hari ‘ied, maka bagaimana tata cara takbirnya? Berkata Abdullah bin Mas’ud: “kamu takbir, lalu kamu bertahmid dan sholawat, lalu kamu takbir lagi dan lakukanlah hal serupa itu. Berkata Asy’ari dan Hudzaifah: “itu benar”. Hadis diriwayatkan Imam Baihaqi dengan derajat hasan.[6]
4.      Makanan dan minuman
Pada bagian ini ada dua hal yang akan disampaikan, 1. Makan dan minum sebelum berangkat ‘Id, dan 2. Adanya makanan, maksudnya berbagai jenis kue hari raya.
Disunahkan saat ‘Idul Fitri makan terlebih dahulu sebelum berangkat menuju musholla ‘Id. Seperti dijelaskan dalam hadis Anas bin Malik, riwayat Imam Bukhari, no. 953 :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل التمرات. وقال مرجّأ بن رجاء : حدثني عبيد الله قال : حدثني أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم : ويأكلهن وترا.
“senantiasa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memakan beberapa butir kurma sebelum berpagi-pagi berangkat menuju musholla ‘Id di hari raya Idul Fitri. Berkata Murajja’a bin Roja’ : Ubaidullah telah bercerita kepada ku, ia berkata : “bercerita kepada ku  Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ia memakan kurma itu sejumlah bilangan ganjil.
Pada riwayat Imam Ibnu Hibban dan Imam al Hakim dari Utbah bin Ubaid diceritakan bahwa kurma yang dimakan oleh Rasulullah sejumlah tiga butir atau lima atau tujuh, atau terkadang kurang terkadang juga lebih.
Sebagian tabi’in mensunahkan memakan yang manis-manis saat hendak berangkat sholat ‘ied, seperti madu. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mu’awiyah bin Qurrah, Ibnu Sirin dan selain keduanya.
Hikmah disunahkan makan yang manis-manis agar pandangan kuat kembali setelah berpuasa, sebagai simbol bertambahnya keimanan, dan kelembutan hati. Jika yang manis-manis tidak ada, minimal air putih, dan jangan sampai tidak. Bagaimana dengan ketupat dan opor???
Hari raya banyak orang yang bersilaturrahim ke rumah-rumah, dari yang dekat sampai dengan yang jauh, dari yang sering berjumpa sampai yang jarang berjumpa. Maka dari itu budaya mudik sangat kental di tanah air tercinta. Kaitannya dengan silaturrahim, syari’at Islam sangat menganjurkan menghormati tamu, dan bahkan memuliakannya. Dalam hadis dijelaskan Abu Hurairah, riwayat Imam Bukhari, no.6018
من كانَ يؤمِنُ باللَّهِ واليومِ الآخِرِ فلا يؤذِ جارَه ، ومن كانَ يؤمِنُ باللَّهِ واليومِ الآخرِ فليُكرِمْ ضيفَه ، ومن كانَ يؤمنُ باللَّهِ واليومِ الآخرِ فليقُلْ خيرًا أو ليصمُتْ
“barangsiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya, barangsiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia muliakan tamunya, dan barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik saja, atau diam”.
Diantara memuliakan tamu adalah memberikan suguhan, minimal air, alangkah baiknya jika bisa memberikan lebih, “fa man tahtowwa’a khairan fa huwa khairun lahu/ barang siapa yang dapat memberikan lebih dalam kebaikan, maka itu lebih baik untuknya”.
Terlebih lagi, hari raya itu adalah hari suka cita, hari kebahagiaan buat umat muslim, maka sudah sepantasnyalah menyediakan makan-makanan, minuman, dan kue-kuehan, yang terpenting tidak sampai mubadzir.
Dengan demikian, menyediakan makanan hari raya bagian dari yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
5.      Tahni’ah
Tahni’ah atau ucapan selamat merupakan hal yang sangat dianjurkan pada setiap moment apa pun, tentunya yang diperbolehkan oleh syari’at Islam. Seperti anak mendapatkan peringkat kelas, lulus dalam ujian, naik jabatan, punya rumah baru, mobil dan motor baru, pernikahan, melahirkan anak, khitan dan lain sebagainya. Adapun yang dilarang seperti ucapan tahun baru, selamat natal dan lain sebagainya, maka tidak dianjurkan, bahkan diharamkan.
Tahni’ah Idul Fitri identik dengan doa dan harapan untuk seseorang pada hari raya. Inilah yang menjadi fokusnya. Berarti, dengan lapaz apa saja diperbolehkan, karena sebenarnya fokusnya itu adalah doa untuk orang lain.
Para sahabat, mereka bertahni’ah dengan “taqobbalallaahu minnaa wa minkum”.
فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن 
“dari Jubair bin Nufair ia berkata : dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa bila mereka saling berjumpa di hari ‘id, mereka saling mengucapkan “taqobbalallaahu minnaa wa minka”. Berkata al Hafizh Ibn Hajar : sanadnya hasan.
Lalu, apakah kalimat tersebut menjadi baku sehingga bertahni’ah dengan yang lain dilarang? Di bawah ini disampiakan beberapa fatwa tentang tahni’ah ‘ied:
وسئل شيخ الإسلام ابن تيمية في "الفتاوى الكبرى" (2/228) : هَلْ التَّهْنِئَةُ فِي الْعِيدِ وَمَا يَجْرِي عَلَى أَلْسِنَةِ النَّاسِ : " عِيدُك مُبَارَكٌ " وَمَا أَشْبَهَهُ , هَلْ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ , أَمْ لا ؟ وَإِذَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ , فَمَا الَّذِي يُقَالُ ؟
Syeikh Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya “al Fatawa al Kubra 2/228”. Apakah tahni’ah ‘Id dan lapaz yang beredar di masyarakat sekarang ini dengan “Id Mubarok” dan yang sepertinya mempunyai dasar hukum dalam syari’at ataukah tidak??? Dan jika tahni’ah itu mempunyai dasar hukum, lapaz apa yang diucapkan???
فأجاب :
"أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلاةِ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك , وَنَحْوُ ذَلِكَ , فَهَذَا قَدْ رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ وَرَخَّصَ فِيهِ , الأَئِمَّةُ , كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ : أَنَا لا أَبْتَدِئُ أَحَدًا , فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته , وَذَلِكَ لأَنَّ جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ , وَأَمَّا الابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا , وَلا هُوَ أَيْضًا مَا نُهِيَ عَنْهُ , فَمَنْ فَعَلَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ , وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ" اهـ .
Jawab :
Tahni’ah ‘id yang diucapkan jika satu sama lain berjumpa setelah sholat ‘id adalah “taqobbalallaahu minnaa wa minkum, wa ahaalahullaahu ‘alaika/ semoga Allah menerima amalan kita dan kamu, dan semoga Allah menyempurnakannya untuk kita dan kamu” atau seumpamanya. Lapaz ini telah diriwayatkan oleh sekelompok  sahabat dan mereka mempraktekkannya. Ada  ulama yang memberikan dispensasi/ keringanan dalam pengucapan lapaz tersebut, seperti Imam Ahmad dan lainnya. Dan Imam Ahmad berkata : “saya tidak memulai sedikit pun, jika ada orang yang mulai dahulu mengucapkan kepada ku, maka aku wajib menjawabnya, dikarenakan menjawab tahiyyah adalah wajib dan memulai tahni’ah adalah hal yang tidak disunahkan memulainya, dan tidaklah dilarang jika memulainya. Maka siapa saja yang melakukannya berarti ia telah mengikuti ulama terdahulu, dan bagi yang meninggalkannya pun sama telah mengikuti ulama-ulama terdahulu.
وسئـل الشيخ ابن عثيمين : ما حكـم التهنئة بالعيد ؟ وهل لها صيغة معينة ؟
Syeikh Utsaimin pernah ditanya : apa hukum tahni’ah ‘id??? Dan adakah lapaz khusus untuknya ???
فأجاب :
"التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً" اهـ .
Jawab : tahni’ah ‘id merupakan hal yang boleh, dan tidak ada lapaz tahni’ah yang dikhususkan. Bahkan hal yang menjadi kebiasaan manusia di satu daerah diperbolehkan selama tidak maksiat/ dosa”.
وقال أيضاً :
"التهنئة بالعيد قد وقعت من بعض الصحابة رضي الله عنهم ، وعلى فرض أنها لم تقع فإنها الاۤن من الأمور العادية التي اعتادها الناس ، يهنىء بعضهم بعضاً ببلوغ العيد واستكمال الصوم والقيام" اهـ .
Dan beliau berkata pula : “tahni’ah ‘id memang telah ada di masa sahabat dan mereka melakukan hal itu, dan akan tetapi secara ketetapan baku hal itu tidak pernah ada dan terjadi, dan sekarang hal itu menjadi adat kebiasaan disatu daerah saja yang telah dibudayakan oleh masyarakat setempat. Ia boleh tahni’ah dengan masuknya ‘id, telah selesainya puasa dan qiyam”.
وسئـل رحمه الله تعالى : ما حكـم المصافحة ، والمعانقة والتهنئة بعد صلاة العيد ؟
Syeikh Utsaimin pun pernah ditanya : apa hukum salaman, berpelukan dan tahni’ah saat ‘id???
فأجاب :
"هذه الأشياء لا بأس بها ؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل ، وإنما يتخذونها على سبيل العادة ، والإكرام والاحترام ، ومادامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة" اهـ .
"مجموع فتاوى ابن عثيمين" (16/208-210(
Jawab : “semua ini tidak mengapa, dikarenakan msyarakat setempat tidak menjadikan hal semua itu sebagai ibadah yang baru dan pendekatan diri kepada Allah. Hal itu mereka lakukannya dikarenakan kebiasaan atau adat istiadat saja. Memuliakan dan menghormati. Maka selama adat istiadat itu tidak ada hukum syari’at yang melarangnya maka dihukumi boleh.
Dengan demikian, tahni’ah dengan berbagai lapaz apapun diperbolehkan, yang terpenting adalah mengandung doa untuk diri kita dan orang lain. Seperti di Indonesia masyhur dengan lapaz “minal ‘aa-idiin wal faa-iziin”, lengkapnya “ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aa-idiin wal faa-iziin kullu amrin wa antum bikhair/ semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang senantiasa kembali kepada-Nya dan senantiasa sukses lagi bahagia, setiap urusan semoga kamu senantiasa dalam kebaikan”. Atau dengan “maaf lahir dan batin”, dan lain sebagainya.
Maka dari itu, tidak pantas satu dengan lainnya saling mencaci, memaki dikarenakan lapaz yang berbeda. Jangan terburu nafsu mengklaim salah, jika belum maksimal muthola’ah.[7]
6.      Hiburan
Hiburan saat ‘Id sangat dibolehkan, yang terpenting tidak sampai melalaikan diri dari mengingat Allah Ta’ala. Berbagai jenis hiburan, yang tentunya dibolehkan oleh syari’at Islam. Baik mendegarkan syi’ir, melihat permainan, atau berkunjung ke tempat pariwisata, dan lain sebagainya.
Hal itu dikarenakan hari ‘Id, hari dimana kaum muslimin bersuka cita, bahagia, berkumpul keluarga, silaturrahim dan lain sebagainya.
Dahulu, saat Rasulullah datang ke Madinah, beliau menemui sahabat-sahabat yang sudah berada di sana ikut bermain, bersuka cita, bergembira di hari yang bertepatan dengan hari raya non Islam. Lalu Rasulullah shallallahhu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan dua hari raya, ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha, hadits riwayat Abu Daud, no. 1134, hadis shoheh.
عن أنسٍ قالَ : قدمَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ المدينةَ ولَهم يومانِ يلعبونَ فيهما فقالَ ما هذانِ اليومانِ قالوا كنَّا نلعبُ فيهما في الجاهليَّةِ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ إنَّ اللَّهَ قد أبدلَكم بِهما خيرًا منهما يومَ الأضحى ويومَ الفطرِ
Hadis ini menjelaskan kepada kita agar memanfaatkan dua hari raya Islam dengan penuh kegembiraan, baik dengan permainan, hiburan, dan lain sebagainya, yang intinya adalah menumbuhkan keharmonisan dan kebahagiaan antara keluarga.
Selain itu, terdapat hadis ‘Aisyah-semoga Allah senantiasa meridhoinya- yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, no. 949, hadis shoheh:
عن عائشة قالت : دخل عليّ رسول الله صلى الله عليه وسلم وعندي جاريتان تغنيان بغناء بعاث، فاضطجع على الفراش وحوّل وجهه، ودخل أبو بكر رضي الله عنه فانتهرني وقال: مزمارة الشيطان عند رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأقبل عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: دعهما، فلما غفل غمزتهما فخرجتا.
 “saat Rasulullah masuk ke rumah, ia dapati ada dua orang budak yang sedang melantunkan bait-bait perang Bu’ats (peperangan yang terjadi antara suku Aus dan Khajraj) sambil memukul rebana. Rasulullah masuk kamar dan berbaring, sambil menutupi wajahnya. Lalu masuk Abu Bakar, dan ia membentakku. Lalu ia mengatakan : “lagu-lagu setan (maksudnya lagu-lagu atau tabuan-tabuan yang melalaikan)”. Lalu Rasulullah keluar dan menghadapinya, seraya mengatakan : “tinggalkanlah keduanya wahai Abu Bakar”. Ketika ia (Abu Bakar) tidak konsen pada kedua budak tersebut, aku (‘Aisyah) isyaratkan keduanya untuk keluar”.
Dalam riwayat Hisyam, Rasulullah mengatakan : “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu ada hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita”. Kalimat ini menjelaskan, bahwa Rasul mentolerir jenis hiburan sesuai syari’at di saat hari raya., dan ini sangat jelas buat kita.
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan : “hadis ini mengandung banyak penjelasan, diantaranya adalah bahwa hari ‘Id itu merupakan hari bersantai-santai dengan keluarga, saling berlapang dada, istirahat, menampakan kebahagiaan dan lain sebagainya, dan pada hari itu pun diperbolehkan mendengarkan lagu bait-bait yang dapat membangkitkan semangat kita, dan senantiasa mengingatkan kita kepada Allah Ta’ala”.
Nikmatilah hari raya ini bersama keluarga tercinta, jangan sampai dilewatkan dan jangan sampai ada yang dikecewakan. Tetapi masih dalam koridor yang diperbolehkan oleh syari’at Islam, seperti tidak melalaikan, tidak mubadzir, tidak melampaui batas dan lain sebagainya.
Semoga di hari yang fitri ini, kita mampu membahagiakan saudara-saudara kita, baik secara khusus ataupun umum[8]

Komaruzzaman, LN., S.Pd.I

[1] Disarikan dari Fathul Baari syarhu Shoheh Bukhari, j.2 h.504-505.cet. daarul hadis
[2] Disarikan dari kitab al Umm, karya Imam Syafi’I, j. 2 hal. 486., dan al Fiqhul Islamy wa Adillatuh, j. 2 h. 1406-1407.
[3] disarikan dari kitab Fathul Bari, j. 2 h. 524 & 542, Aunul Ma'bud syarah Abu Daud, j. 2 h. 481-483
[4] Al Mu’tamad fi al Fiqhi asy Syafi’i, DR. Muhammad az Zuhaily, j.1 h. 553. Cet. Daar al Qolam, Dimasyqus, 1432H
[5] Aunul Ma’bud syarhu Sunan Abi Daud, Abu Thayyib Abady, j.2 h. 493. Cet. Daar al Hadis, Mesir.
[6] Al Mu’tamad fi al Fiqhi asy Syafi’i, DR. Muhammad az Zuhaily, j.1 h. 554. Cet. Daar al Qolam, Dimasyqus, 1432H
[7] Disarikan dari https://islamqa.info/ar/49021
[8] Disarikan dari kitab Fathul Bari, j. 2 hal. 505-509. Cet. Darul hadis
[ Read More ]
Read more...
Lokasi: Indonesia Kec. Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat, Indonesia
Selasa, 30 Mei 2017

Boleh berdoa setelah dzikir dan salam, setelah solat wajib.

Posted by bangzaman on Mei 30, 2017 – 0 komentar
 
Syeikh Abdullaah bin Baz, berkata:

الدعاء في دبر الصلاة مشروع، وليس به بأس، والأفضل أن يكون قبل السلام، بعدما يصلي على النبي -صلى الله عليه وسلم- وبعدما يتعوذ بالله من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والمممات، ومن فتنة المسيح الدجال، يتعوذ بما شاء يقول: اللهم أجرني من كذا، أجرني من شر نفسي، اللهم أعذني من شر نفسي، اللهم أعذني من الشيطان، اللهم اغفر ولوالدي، يدعو بما يسر الله له.

Doa diakhir solat itu disyari’atkan, tidak mengapa, utamanya dilaksanakan sebelum salam setelah mebaca solawat kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, setelah membaca “Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, min ‘adzabil qabri, min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min fitnatil masiih ad dajjaal...../ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada Mu dari siksa neraka jahannam, siksa kubur, fitnah ketika hidup dan mati, dan fitnah dajjal”. Atau ia mohon perlindungan dengan doa yang ia mau, seperti ia katakan: “Allahumma ajirnii min kadza (sebut sesuatu yg kita mau), ajirnii min syarri nafsii, Allahumma a’idznii min syarri nafsii, Allahumma a’idznii minasy syaithaan, Allahummaghfirlii wa liwaalidayya..../ya Allah selamatkan aku dari ini, selamatkan aku dari keburukan diriku, lindungi aku dari keburukan diriku. Ya Allah lindungi aku dari setan, ya Allah ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orangtua ku”, atau ia doa dengan doa apapun, yang baik (pastinya dengan bahasa arab, karena di dalam solat).

 وإذا كان الدعاء مشروعاً وارداً كان أفضل، يقول: (اللهم اغفر لي ما قدمت وما أخرت، وما أسررت وما أعلنت، وما أنت أعلم به مني، أنت المقدم، وأنت المؤخر لا إله إلا أنت، اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك، اللهم إني أعوذ بك من البخل وأعوذ بك الجبن، وأعوذ بك أن أرد إلى أرذل العمر، وأعوذ بك من فتنة الدنيا، وأعوذ بك من عذاب القبر).

Apabila ia gunakan doa yang warid, yang dicontohkan dari Nabi itu lebih utama, seperti ia katakana:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ اْلمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَرَادَ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ.

 كل هذا وارد عن النبي -صلى الله عليه وسلم-، كذلك: (اللهم إني ظلمت نفسي ظلماً كثيراً ولا يغفر الذنوب إلا أنت، فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني إنك أنت الغفور الرحيم).

Semuanya warid, bersumber dari Nabi, termasuk yang di bawah ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْماً كَثِيْراً وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمْ

هذا ثابت عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه علمه الصديق أن يدعو به في صلاته.

Doa di atas pun warid dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mengajarkan Abu Bakar tentang doa itu di dalam solat.

 فالحاصل أن الدعاء في دبر الصلاة أمر مشروع، وأفضله ما كان قبل السلام، وإن دعا بعد السلام وبعد الذكر بينه وبين نفسه فلا بأس، وقد جاء في رواية مسلم من حديث علي -رضي الله عنه- ما يدل على شرعية الدعاء أيضاً بعد السلام: (اللهم اغفر لي ما قدمت وما أخرت، وما أسررت وما أعلنت، وما أسرفت، وما أنت أعلم به مني، أنت المقدم وأنت المؤخر، لا إله إلا أنت، أو قال: أنت إلهي لا إله إلا أنت).

Kesimpulannya, doa diakhir solat itu disyari’atkan, utamanya sebelum salam. Dan jika ia lakukan setelah salam dan dzikir itu pun tidak mengapa. Terdapat hadis dalam riwayat Imam Muslim, hadis Ali semoga Allah meridhoinya, menunjukkan disyari’atkannya doa setelah salam, yaitu :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ اْلمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَوْ قَالَ: أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

فإذا دعا بينه وبين نفسه بعض الدعوات بعد الذكر وبعد السلام فلاحرج في ذلك، لكن يبدأ أولاً بعد يصلي الفريضة أستغفر الله ثلاثاً، اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام، ثم يذكر الله يقول: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير، لا حول ولا قوة إلا بالله، لا إله إلا الله، ولا نعبد إلا إياه له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن، لا إله إلا الله مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، اللهم لا مانع لما أعطيت ولا معطي لما منعت، ولا ينفع ذا الجد منك الجد، فإذا دعا بعد هذا بما تيسر كله طيب ولا حرج في ذلك والحمد لله.

Apabila ia ingin setelah dzikir dan salam maka tidak mengapa. Akan tetapi ia mulai dengan istighfar 3x...., lalu Allahumma antas salaam...., lalu Laa ilaaha illallaahu wahdaahu laa syariikalah...., lalu lahaulaa wa laa quwwata ...., lalu Laa ilaaha illallaahu wa laa na’budu...., lalu Laa ilaaha illallaahu mukhlishiina ..., lalu Allahumma laa maani’a limaa a’thaita, setelah selesai dzikir ia doa kepada Allah.



http://www.binbaz.org.sa/noor/6290
[ Read More ]
Read more...
Lokasi: Indonesia Kec. Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat, Indonesia
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ▼  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
      • Boleh berdoa setelah dzikir dan salam, setelah sol...
    • ►  Jun (1)
      • 'Iedul Fitri Bersama Nabi Muhammad SAW
    • ▼  Nov (1)
      • Allah pun Bersedekah
  • ►  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ►  Jul (12)
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger