Sebentar lagi tahun baru Islam akan berganti, dari 1441 menuju 1442 hijriyah. Tentunya sebagai muslim yang baik dan bijak kita senantiasa melaksanakan muhasabah atau introspeksi diri. Menghitung untung dan rugi yang telah kita lakukan selama setahun perjalanan. Agar di tahun yang baru nanti, kita mampu memperbaikinya, dengan mengurangi keruagian yang pernah dicapai di tahun sebelumnya.
Di mulai dengan Muharram, bulan yang luar biasa dalam pandangan Islam. Memiliki banyak keutamaan yang sebaiknya dimanfaatkan oleh setiap muslim yang menginginkan perubahan dalam hidupnya.
Apa saja keutamaannya, mari lanjut membaca..
1. Muharram bulan yang dimuliakan
Muharram adalah bulan
pertama dalam perhitungan tahun hijriyah. Ia termasuk bulan yang dimuliakan/
diagungkan dalam ajaran Islam, disebut juga dengan Asyhurul Hurum. Tentang hal
ini Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, surat At-Taubah/9:36:
“Sesungguhnya bilangan
bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu
dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam
bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana
merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa”.
Dijelaskan dalam hadits
Nafi’ bin Harits Ats-Tsaqafi, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab
Shoheh Bukhari, no.4662.
إنَّ الزمانَ قد استدارَ كهيئتِه يومَ خلقَ اللهُ السماواتِ والأرضَ، السنةُ اثنا عشرَ شهرًا، منها أربعةٌ حرمٌ، ثلاثٌ متوالياتٌ :
ذو القَعدةِ وذو الحَجةِ والمحرمُ، ورجبُ مضرَ الذي بين جُمادى وشعبانَ
“Sesungguhnya masa itu
berputar seperti gerakannya disaat Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi.
Setahun dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga
berurutan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang
berada diantara dua Jumadil dan Sya’ban”.
Pada
bulan Asyhurul Hurum ini, umat Islam lebih ditekankan untuk tidak berbuat zholim, baik terhadap diri
sendiri ataupun kepada saudaranya (kaum muslim). Penekanan ini mendapatkan
prioritas dibandingkan bulan-bulan lainnya, dan tidak menafikan bulan-bulan
tersebut. Dalam pengertian, jika kezholiman tersebut dilakukan, maka ganjaran siksanya
berkali lipat. Inilah perkataan Imam Ali bin Abi Thalhah dari Sahabat Ibnu
Abbas yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya;
وقال علي بن أبي طلحة
عن ابن عباس قوله: { إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ } الآية، فلا تظلموا
فيهن أنفسكم: في كلهن، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر، فجعلهن حراماً، وعظم حرماتهن،
وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم
“Berkata
Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentag firman Allah Ta’ala “Inna
‘iddatasy Syuhuuri ‘indallaahi….”, janganlah kamu menzholimi dirimu
sendiri pada bulan-bulan yang ada di sisi Allah, semuanya. Kemudian larangan
tersebut dikhususkan pada empat bulan, dijadikannya haram sangat haram, dan
dijadikan dosa padanya lebih besar. Begitu juga dengan amal kebaikan, ketika
dilakukan pada empat bulan tersebut akan mendapatkan pahala yang besar pula.
Penekanan
keharaman melakukan kezholiman di bulan Muharram, selain ia termasuk dalam
empat bulan yang dimuliakan/ agungkan, asyhurul hurum, ia juga mempunyai makna sesuatu
yang diharamkan, dan keharamannya sangat ditekankan, dikarenakan bangsa Arab
dahulu membolak-balikan keharamannya, ia haramkan satu tahun, ditahun
berikutnya mereka halalkan, dan digantikan ke bulan Shafar.
Penekanan
untuk tidak melakukan kezholiman pada bulan tersebut, berarti perintah untuk
memperbanyak kebaikan pada bulan tersebut. Coba kita lihat pada perkataan Ali
bin Abi Thalhah yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas di atas.
2. Muharram bulan Allah
Penyandaran Muharram
dengan bulan Allah, yang dalam bahasa arab diistilahkan dengan Syahrullaah/
bulan Allah berdasarkan hadits shoheh yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (1163).
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
Artinya : “bersumber dari
Abu Hurairah, -semoga Allah meridhoinya,-ia berkata. Bersabda Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam : sepaling utama puasa setelah bulan Ramadhan
adalah bulan Allah, Muharram.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly
mengatakan dalam kitab Lathaa-iful Ma’aarif, hal. 49 : ”bahwa
penyandaran nama Muharram kepada lapaz Allah Ta’ala menunjukkan kemuliaan dan
keutamaannya, dikarenakan lapaz Allah tidak akan disandarkan melainkan untuk
makhluk-makhluknya yang khusus. Seperti Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi
Ishaq, Nabi Ya’kub dan selainnya disandarkan dengan “kehambaan/ lapaz
‘ubudiyyah”. Begitu juga disandarkan
lapaz “bait (rumah) dan naaqah (unta)” kepada Allah Ta’ala.
3. Anjuran berpuasa di Bulan Muharram
Di antara upaya untuk
memperbanyak amal kebaikan kita di bulan Muharram adalah puasa. Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda pernah ditanya tentang hal itu, seperti
dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah,
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 1163 :
سئل : أي الصلاة أفضل بعد المكتوبة ؟ وأي الصيام أفضل بعد
شهر رمضان ؟ فقال أفضل الصلاة بعد الصلاة المكتوبة الصلاة في جوف الليل. وأفضل
الصيام بعد شهر رمضان، صيام شهر الله المحرم.
“Sholat apakah yang lebih
utama setelah shalat wajib ?, puasa apakah yang lebih utama setelah puasa bulan
Ramadhan ?Rasul menjawab ; sholat yang lebih utama setelah shalat wajib adalah
shalat pada sepertiga malam, dan sepaling utama puasa setelah puasa bulan
Ramadhan adalah puasa bulan Muharram”.
Begitu juga hadits Ali bin
Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan predikat hadits hasan
gharib. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang
laki-laki :
عن علي قال سأله رجل فقال أي شهر تأمرني أن أصوم
بعد شهر رمضان قال له ما سمعت أحدا يسأل عن هذا إلا رجلا سمعته يسأل رسول الله صلى
الله عليه وسلم وأنا قاعد فقال يا رسول الله أي شهر تأمرني أن أصوم بعد شهر رمضان
قال إن كنت صائما بعد شهر رمضان فصم المحرم فإنه شهر الله فيه يوم تاب فيه على قوم
ويتوب فيه على قوم آخرين قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب
“bersumber dari Ali-semoga
Allah meridhoinya-, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepadanya, bulan apa
yang engkau akan perintahkan kepadaku agar aku berpuasa setelah puasa Ramadhan.
Ali menjawab; aku belum pernah mendengar seseorang bertanya tentang hal ini,
kecuali seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasul dan aku duduk di dekatnya.
Laki-laki itu bertanya; Wahai Rasul, bulan apa yang engkau akan perintahkan
kepada ku agar aku berpuasa, setelah puasa Ramadhan ? Rasul menjawab; jika kamu
ingin berpuasa setelah puasa Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Muharram,
karena itu adalah bulan Allah (syahrullah), pada bulan itu Allah
Ta’ala menerima taubat suatu kaum dan kaum yang lain.
Perintah atau anjuran
untuk melaksanakan puasa bulan Muharram seluruhnya merupakan anjuran kesunahan
mutlak berpuasa, maksudnya diantara puasa sunah mutlak yang lebih utama
dilaksanakan adalah puasa di bulan Muharram. Hal tersebut seperti keutamaan
shalat sunah tahajud dengan shalat sunah yang lainnya. [Lathaaiful Ma’arif,
Ibnu Rajab Al-Hambali, h. 78]
Syeikh Khalid bin Su’ud
Al-Bulaihid berkata : “disunahkan bagi kaum muslim memperbanyak puasa pada
bulan Muharram, jika ia tidak mampu, maka lakukanlah yang bisa dilakukan,
terutama hari ‘Asyura”. [Risalah Fadhilatish Shaumi fi Syahrillaahillaahil
Muharram].
Pada bulan Muharram,
terdapat hari yang mempunyai keutamaan yang besar dan sangat dihormati sejak
dahulu [sebelum masa Nabi Muhamad]. Hari tersebut terkenal dengan hari ‘Asyura,
yaitu hari pada tanggal 10 Muharram. Pada hari itu, Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam sangat ingin meraih keutamaannya. Seperti dijelaskan dalam
hadits Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohehnya,
no. 1132 :
لم أر رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم يوما يتحرى فضله
على الأيام إلا يوم عاشوراء وشهر رمضان.
“Aku belum pernah melihat Nabi Muhammad
shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempuasakan hari-hari yang ia sangat ingin
meraih keutamaan hari tersebut, kecuali hari ‘Asyura dan hari pada bulan
Ramadhan”.
Selain itu, Rasulullah pun
menyampaikan, bahwa keuntungan berpuasa pada hari ‘Asyura, Allah akan hapuskan
dosa/ kesalahan satu tahun sebelumnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits Abu
Qotadah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 1976.
أن رجلاً سأل النبي _صلى الله عليه وسلم_ عن صيام
يوم عاشوراء، فقال: " إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله"
“seorang laki-laki
bertanya kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa hari
‘Asyura, Rasul menjawab : “Sesungguhnya aku menghitung/ menganggap bahwa Allah
akan menghapuskan dosa/ kesalahan tahun yang sebelumnya”.
Usaha untuk meraih
keutamaan hari ‘Asyura tidak hanya dinikmati oleh Nabi Muhammad saja, ia pun
memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut. Dijelaskan dalam
hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 1134.
حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم عاشوراء وأمر بصيامه،
قالوا : يا رسول الله، إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى، فقال رسول الله صلى الله
عليه وسلم : فإذا كان العام المقبل، إن شاء الله صمنا اليوم التاسع. قال : فلم يأت
العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم.
“ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam berpuasa ‘Asyura, ia memerintahkan umatnya untuk mempuasakannya. Mereka
berkata : wahai Rasulullah, hari itu adalah hari yang diagung-agungkan oleh
orang Yahudi dan Nasrani. Rasul menjawab : apabila saya masih ada di tahun yang
akan dating, jika allah menghendaki, maka saya akan berpuasa pada tanggal 9
Muharrammnya. Ibnu Abbas berkata : belum sampai pada kesempatan tahun depan,
Rasulullah telah wafat terlebih dahulu”.
4. Keuntungan mengundang makan bersama
Tentang mengundang
keluarga atau siapapun untuk makan bersama pada hari ‘Asyura terdapat hadits
yang diselisihkan keshohehannya. Hadits tersebut disampaikan oleh Ibnu Mas’ud
yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Kanzul Ummaal, dan terdapat juga
dalam kitab As-Silsilah Ash-Shohehah, 4/ 484, Syeikh Albaani, dan ia mengatakan perowi
hadits ini seluruhnya tsiqat.
من وسَّع على نفسهِ وأهلِه يومَ عاشوراءَ وسَّعَ اللهُ عليه سائرَ سَنتِه
“barangsiapa yang berluas-luas
terhadap dirinya dan keluarganya pada hari ‘Asyura maka Allah Ta’ala akan
meluaskannya dalam satu tahunnya”.
Ulama berbeda pendapat
tentang menyelenggarakan kegiatan tersebut, ada yang berpendapat tidak boleh/
bid’ah, dikarenakan tidak ada contoh dari Rasul dan para sahabat, serta hadits yang
menunjukkan itu adalah dhoif, bahkan ada yang sampai kepada maudhu’.
Sebagian ulama lagi berpendapat
boleh menyelenggarakan kegiata tersebut, yaitu dari ulama madzhab yang empat,
seperti dikutip dari http://fatwa.islamweb.net tentang Aqwaalul
‘Ulamaa fi Hadiitsit Tawassu’ah ‘alal Ahli fi ‘Aasyuraa-i.
وأما
كلام أهل العلم في المسألة فقد اتفقت المذاهب الأربعة على استحباب التوسعة على
الأهل في يوم عاشوراء، قال الصاوي المالكي في حاشيته على الشرح
الصغير:ويندب في عاشوراء التوسعة على الأهل والأقارب. انتهى.
وقال سليمان
الجمل في حاشيته على فتح الوهاب لزكريا الأنصاري: ويستحب فيه
التوسعة على العيال والأقارب، والتصدق على الفقراء والمساكين من غير تكلف فإن
لم يجد شيئاً فليوسع خلقه ويكف عن ظلمه. انتهى.
وقال البهوتي الحنبلي
في شرح منتهى الإرادات: وينبغي التوسعة فيه على العيال. قال في
المبدع: وقال ابن عابدين الحنفي في رد المحتار: نعم حديث
التوسعة ثابت صحيح كما قال الحافظ السيوطي في الدرر.، وعليه فلا بأس
فيما ذكرت إن فعل بقصد التوسعة الواردة.
“ucapan ahli ilmu tentang masalah ini
(masalah berluas-luas kepada keluarga pada hari ‘Asyuraa) telah sepakat, bahwa
hal tersebut masuk dalam hal yang disukai/ disunahkan. Syeikh Ash-Shaawi dari
madzhab Maliky berpendapat di dalam kitab Hasyiyah ‘alasy Syarhish Shaghiir
“disunahkan pada hari ‘Asyuraa berluas-luas kepada keluarga dan kerabat”.
Syeikh Sulaiman Jamal
berkata di dalam Hasyiyah ‘ala Fathil Wahhab karya Imam Zakariya Al-Anshary
“disunahkan pada hari ‘Asyura berluas-luas kepada keluarga dan kerabat,
bersedekah kepada orang fakir dan miskin dengan tanpa terbebani. Jika ia tidak
mampu berluas-luas dengan materi// pemberian, maka boleh berluas-luas dengan
akhlak, dan menahan diri dari berbuat zholim”.
Syeikh Albuhuuty dari madzhab
Hambaly berkata dalam kitab Syarah Muntahal Iraadaat “seyogyanya dapat berluas-luas pada hari
‘Asyura kepada keluarga. Ia berkata dalam Al-Mubdi’ “Ibnu ‘Aabidiin dari
madzhab Hanafi berkata dalam kita Raddul Mukhtar “ ya, benar, hadits tentang
berluas-luas pada hari ‘Asyura itu tsabit/ dapat diterima dan shoheh,
sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafizh Imam Suyuthi dalam kitab Ad-Durar. Maka
dari itu, tidak mengapa melakukan hal yang telah disebutkan, jika melakukannya
itu semata-mata berluas-luas saja”.