skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Senin, 17 Agustus 2020

Ada apa dengan Muharram

Posted by bangzaman on Agustus 17, 2020 – 0 komentar
 

Sebentar lagi tahun baru Islam akan berganti, dari 1441 menuju 1442 hijriyah. Tentunya sebagai muslim yang baik dan bijak kita senantiasa melaksanakan muhasabah atau introspeksi diri. Menghitung untung dan rugi yang telah kita lakukan selama setahun perjalanan. Agar di tahun yang baru nanti, kita mampu memperbaikinya, dengan mengurangi keruagian yang pernah dicapai di tahun sebelumnya.

Di mulai dengan Muharram, bulan yang luar biasa dalam pandangan Islam. Memiliki banyak keutamaan yang sebaiknya dimanfaatkan oleh setiap muslim yang menginginkan perubahan dalam hidupnya.

Apa saja keutamaannya, mari lanjut membaca..

1. Muharram bulan yang dimuliakan

Muharram adalah bulan pertama dalam perhitungan tahun hijriyah. Ia termasuk bulan yang dimuliakan/ diagungkan dalam ajaran Islam, disebut juga dengan Asyhurul Hurum. Tentang hal ini Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, surat At-Taubah/9:36:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Dijelaskan dalam hadits Nafi’ bin Harits Ats-Tsaqafi, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shoheh Bukhari, no.4662.

إنَّ الزمانَ قد استدارَ كهيئتِه يومَ خلقَ اللهُ السماواتِ والأرضَ، السنةُ اثنا عشرَ شهرًا، منها أربعةٌ حرمٌ، ثلاثٌ متوالياتٌ : ذو القَعدةِ وذو الحَجةِ والمحرمُ، ورجبُ مضرَ الذي بين جُمادى وشعبانَ

“Sesungguhnya masa itu berputar seperti gerakannya disaat Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Setahun dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga berurutan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada diantara dua Jumadil dan Sya’ban”.

Pada bulan Asyhurul Hurum ini, umat Islam lebih ditekankan  untuk tidak berbuat zholim, baik terhadap diri sendiri ataupun kepada saudaranya (kaum muslim). Penekanan ini mendapatkan prioritas dibandingkan bulan-bulan lainnya, dan tidak menafikan bulan-bulan tersebut. Dalam pengertian, jika kezholiman tersebut dilakukan, maka ganjaran siksanya berkali lipat. Inilah perkataan Imam Ali bin Abi Thalhah dari Sahabat Ibnu Abbas yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya;

وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس قوله: { إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ } الآية، فلا تظلموا فيهن أنفسكم: في كلهن، ثم اختص من ذلك أربعة أشهر، فجعلهن حراماً، وعظم حرماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم، والعمل الصالح والأجر أعظم

“Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentag firman Allah Ta’ala “Inna ‘iddatasy Syuhuuri ‘indallaahi….”, janganlah kamu menzholimi dirimu sendiri pada bulan-bulan yang ada di sisi Allah, semuanya. Kemudian larangan tersebut dikhususkan pada empat bulan, dijadikannya haram sangat haram, dan dijadikan dosa padanya lebih besar. Begitu juga dengan amal kebaikan, ketika dilakukan pada empat bulan tersebut akan mendapatkan pahala yang besar pula.

Penekanan keharaman melakukan kezholiman di bulan Muharram, selain ia termasuk dalam empat bulan yang dimuliakan/ agungkan, asyhurul hurum, ia juga mempunyai makna sesuatu yang diharamkan, dan keharamannya sangat ditekankan, dikarenakan bangsa Arab dahulu membolak-balikan keharamannya, ia haramkan satu tahun, ditahun berikutnya mereka halalkan, dan digantikan ke bulan Shafar.

Penekanan untuk tidak melakukan kezholiman pada bulan tersebut, berarti perintah untuk memperbanyak kebaikan pada bulan tersebut. Coba kita lihat pada perkataan Ali bin Abi Thalhah yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas di atas.

2. Muharram bulan Allah

Penyandaran Muharram dengan bulan Allah, yang dalam bahasa arab diistilahkan dengan Syahrullaah/ bulan Allah berdasarkan hadits shoheh yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (1163).

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

Artinya : “bersumber dari Abu Hurairah, -semoga Allah meridhoinya,-ia berkata. Bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : sepaling utama puasa setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah, Muharram.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly mengatakan dalam kitab Lathaa-iful Ma’aarif, hal. 49 : ”bahwa penyandaran nama Muharram kepada lapaz Allah Ta’ala menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya, dikarenakan lapaz Allah tidak akan disandarkan melainkan untuk makhluk-makhluknya yang khusus. Seperti Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya’kub dan selainnya disandarkan dengan “kehambaan/ lapaz ‘ubudiyyah”.  Begitu juga disandarkan lapaz “bait (rumah) dan naaqah (unta)” kepada Allah Ta’ala.

3. Anjuran berpuasa di Bulan Muharram

Di antara upaya untuk memperbanyak amal kebaikan kita di bulan Muharram adalah puasa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda pernah ditanya tentang hal itu, seperti dijelaskan dalam  hadits Abu Hurairah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 1163 :

سئل : أي الصلاة أفضل بعد المكتوبة ؟ وأي الصيام أفضل بعد شهر رمضان ؟ فقال أفضل الصلاة بعد الصلاة المكتوبة الصلاة في جوف الليل. وأفضل الصيام بعد شهر رمضان، صيام شهر الله المحرم. 

“Sholat apakah yang lebih utama setelah shalat wajib ?, puasa apakah yang lebih utama setelah puasa bulan Ramadhan ?Rasul menjawab ; sholat yang lebih utama setelah shalat wajib adalah shalat pada sepertiga malam, dan sepaling utama puasa setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa bulan Muharram”.

Begitu juga hadits Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan predikat hadits hasan gharib. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki :

عن علي قال سأله رجل فقال أي شهر تأمرني أن أصوم بعد شهر رمضان قال له ما سمعت أحدا يسأل عن هذا إلا رجلا سمعته يسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا قاعد فقال يا رسول الله أي شهر تأمرني أن أصوم بعد شهر رمضان قال إن كنت صائما بعد شهر رمضان فصم المحرم فإنه شهر الله فيه يوم تاب فيه على قوم ويتوب فيه على قوم آخرين قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب

“bersumber dari Ali-semoga Allah meridhoinya-, ia berkata: Seorang laki-laki bertanya kepadanya, bulan apa yang engkau akan perintahkan kepadaku agar aku berpuasa setelah puasa Ramadhan. Ali menjawab; aku belum pernah mendengar seseorang bertanya tentang hal ini, kecuali seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasul dan aku duduk di dekatnya. Laki-laki itu bertanya; Wahai Rasul, bulan apa yang engkau akan perintahkan kepada ku agar aku berpuasa, setelah puasa Ramadhan ? Rasul menjawab; jika kamu ingin berpuasa setelah puasa Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Muharram, karena itu adalah bulan Allah (syahrullah), pada bulan itu Allah Ta’ala menerima taubat suatu kaum dan kaum yang lain.

Perintah atau anjuran untuk melaksanakan puasa bulan Muharram seluruhnya merupakan anjuran kesunahan mutlak berpuasa, maksudnya diantara puasa sunah mutlak yang lebih utama dilaksanakan adalah puasa di bulan Muharram. Hal tersebut seperti keutamaan shalat sunah tahajud dengan shalat sunah yang lainnya. [Lathaaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali, h. 78]

Syeikh Khalid bin Su’ud Al-Bulaihid berkata : “disunahkan bagi kaum muslim memperbanyak puasa pada bulan Muharram, jika ia tidak mampu, maka lakukanlah yang bisa dilakukan, terutama hari ‘Asyura”. [Risalah Fadhilatish Shaumi fi Syahrillaahillaahil Muharram].

Pada bulan Muharram, terdapat hari yang mempunyai keutamaan yang besar dan sangat dihormati sejak dahulu [sebelum masa Nabi Muhamad]. Hari tersebut terkenal dengan hari ‘Asyura, yaitu hari pada tanggal 10 Muharram. Pada hari itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat ingin meraih keutamaannya. Seperti dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohehnya, no. 1132 :

لم أر رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم يوما يتحرى فضله على الأيام إلا يوم عاشوراء وشهر رمضان.

“Aku belum pernah melihat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempuasakan hari-hari yang ia sangat ingin meraih keutamaan hari tersebut, kecuali hari ‘Asyura dan hari pada bulan Ramadhan”.

Selain itu, Rasulullah pun menyampaikan, bahwa keuntungan berpuasa pada hari ‘Asyura, Allah akan hapuskan dosa/ kesalahan satu tahun sebelumnya. Hal ini dijelaskan dalam hadits Abu Qotadah, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 1976.

أن رجلاً سأل النبي _صلى الله عليه وسلم_ عن صيام يوم عاشوراء، فقال: " إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله"

“seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang puasa hari ‘Asyura, Rasul menjawab : “Sesungguhnya aku menghitung/ menganggap bahwa Allah akan menghapuskan dosa/ kesalahan tahun yang sebelumnya”.

Usaha untuk meraih keutamaan hari ‘Asyura tidak hanya dinikmati oleh Nabi Muhammad saja, ia pun memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut. Dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 1134.

حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم عاشوراء وأمر بصيامه، قالوا : يا رسول الله، إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فإذا كان العام المقبل، إن شاء الله صمنا اليوم التاسع. قال : فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa ‘Asyura, ia memerintahkan umatnya untuk mempuasakannya. Mereka berkata : wahai Rasulullah, hari itu adalah hari yang diagung-agungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Rasul menjawab : apabila saya masih ada di tahun yang akan dating, jika allah menghendaki, maka saya akan berpuasa pada tanggal 9 Muharrammnya. Ibnu Abbas berkata : belum sampai pada kesempatan tahun depan, Rasulullah telah wafat terlebih dahulu”.

4. Keuntungan mengundang makan bersama

Tentang mengundang keluarga atau siapapun untuk makan bersama pada hari ‘Asyura terdapat hadits yang diselisihkan keshohehannya. Hadits tersebut disampaikan oleh Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Kanzul Ummaal, dan terdapat juga dalam kitab As-Silsilah Ash-Shohehah, 4/ 484,  Syeikh Albaani, dan ia mengatakan perowi hadits ini seluruhnya tsiqat.

من وسَّع على نفسهِ وأهلِه يومَ عاشوراءَ وسَّعَ اللهُ عليه سائرَ سَنتِه

“barangsiapa yang berluas-luas terhadap dirinya dan keluarganya pada hari ‘Asyura maka Allah Ta’ala akan meluaskannya dalam satu tahunnya”.

Ulama berbeda pendapat tentang menyelenggarakan kegiatan tersebut, ada yang berpendapat tidak boleh/ bid’ah, dikarenakan tidak ada contoh dari Rasul dan para sahabat, serta hadits yang menunjukkan itu adalah dhoif, bahkan ada yang sampai kepada maudhu’.

Sebagian ulama lagi berpendapat boleh menyelenggarakan kegiata tersebut, yaitu dari ulama madzhab yang empat, seperti dikutip dari   http://fatwa.islamweb.net tentang Aqwaalul ‘Ulamaa fi Hadiitsit Tawassu’ah ‘alal Ahli fi ‘Aasyuraa-i.

وأما كلام أهل العلم في المسألة فقد اتفقت المذاهب الأربعة على استحباب التوسعة على الأهل في يوم عاشوراء، قال الصاوي المالكي في حاشيته على الشرح الصغير:ويندب في عاشوراء التوسعة على الأهل والأقارب. انتهى.

وقال سليمان الجمل في حاشيته على فتح الوهاب لزكريا الأنصاري: ويستحب فيه التوسعة على العيال والأقارب، والتصدق على الفقراء والمساكين من غير تكلف فإن لم يجد شيئاً فليوسع خلقه ويكف عن ظلمه. انتهى. 

وقال البهوتي الحنبلي في شرح منتهى الإرادات: وينبغي التوسعة فيه على العيال. قال في المبدع: وقال ابن عابدين الحنفي في رد المحتار: نعم حديث التوسعة ثابت صحيح كما قال الحافظ السيوطي في الدرر.، وعليه فلا بأس فيما ذكرت إن فعل بقصد التوسعة الواردة.

“ucapan ahli ilmu tentang masalah ini (masalah berluas-luas kepada keluarga pada hari ‘Asyuraa) telah sepakat, bahwa hal tersebut masuk dalam hal yang disukai/ disunahkan. Syeikh Ash-Shaawi dari madzhab Maliky berpendapat di dalam kitab Hasyiyah ‘alasy Syarhish Shaghiir “disunahkan pada hari ‘Asyuraa berluas-luas kepada keluarga dan kerabat”.

Syeikh Sulaiman Jamal berkata di dalam Hasyiyah ‘ala Fathil Wahhab karya Imam Zakariya Al-Anshary “disunahkan pada hari ‘Asyura berluas-luas kepada keluarga dan kerabat, bersedekah kepada orang fakir dan miskin dengan tanpa terbebani. Jika ia tidak mampu berluas-luas dengan materi// pemberian, maka boleh berluas-luas dengan akhlak, dan menahan diri dari berbuat zholim”.

Syeikh Albuhuuty dari madzhab Hambaly berkata dalam kitab Syarah Muntahal Iraadaat  “seyogyanya dapat berluas-luas pada hari ‘Asyura kepada keluarga. Ia berkata dalam Al-Mubdi’ “Ibnu ‘Aabidiin dari madzhab Hanafi berkata dalam kita Raddul Mukhtar “ ya, benar, hadits tentang berluas-luas pada hari ‘Asyura itu tsabit/ dapat diterima dan shoheh, sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafizh Imam Suyuthi dalam kitab Ad-Durar. Maka dari itu, tidak mengapa melakukan hal yang telah disebutkan, jika melakukannya itu semata-mata berluas-luas saja”.

Label: Artikel Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Leave a Reply

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ►  Jul (12)
    • ▼  Agu (3)
      • Arahan Rasul untuk Suami
      • Ada apa dengan Muharram
      • Pemuda & Hijrah Nabi
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger