Di mana saja dan kapan saja, adab harus ditegakkan. Karena itu Nabi diperintahkan, inamaa bu'itstu li-utammima makaarimal akhlaak/ aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia (adab).
Terlebih lagi jika kita hendak mengajukan permohonan. Misalkan, permohonan ke manusia, proposal pembangunnan atau lainnya, maka adab saat menghadap seseorang yang kita harapkan memberikan sumbangan harus dijaga dan dijunjung tinggi. Karena jika tidak, boleh jadi permohonan akan lewat begitu saja.
Begitu juga saat permohonan itu disampaikan kepada Allah Ta'ala, Dzat Yang Maha segalanya, maka sangat pantas adab ditegakkan.
Permohonan kepada Allah ada doa, dan ia memiliki beberapa adab yang harus dilaksanakan. Adab-adab tersebut adalah :
- Memanfaatkan waktu yang dimuliakan. Seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum'at, dan waktu sahur. Allah berfirman, QS. Adz Dzariyaat : 18; "wa bil ashaari hum yastaghfiruun/ dan di waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah".
- Memanfaatkan keadaan. Seperti saat pasukan jihad berkumpul berjuang dijalan Allah, ketika turun hujan, ketika akan melaksanakan salat wajib dan setelahnya, diantara adzan dan iqamat, dan di saat sujud.
- Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat tangan kemudian mengusapkannya ke wajah. Umar bin Khattab berkata : "Rasulullah senantiasa mengangkat tangannya saat berdoa dan mengusap wajahnya". Begitu juga Ibnu Abbas berkata : "apabila Rasulullah berdoa, ia selalu menyatukan dua telapak tangan dan perut telapak tangannya menghadap ke wajah".
- Merendahkan suara. Sayyidah 'Aisyah pernah berkata, Allah berfirman, QS. al Isra : 110; "wa laa tajhar bi shalaatika wa laa tukhaafit bihaa/ janganlah kamu kencangkan suara di dalam salat (doa) mu, dan jangan juga di pelankan".
- Tidak dibebani dengan nada sajak
- Disampaikan doa dengan khusyu', rendah hati, penuh harapan dan keyakinan. Allah berfirman, QS. al A'raf : 55; " ud'uu rabbakum tadharru'an wa khufyah/ berdoalah kepada Allah secara rendah hati dan suara tidak kencang (berteriak)".
- Yakin akan diijabahnya doa dan tepat harapannya
- Mengulang-ulang permohonan sebanyak tiga kali. Jika hal ini menjadi prioritas dan harapan utama.
- Membuka doa dengan dzikir kepada Allah dan memuji-Nya, lalu bersalawat dan menutupnya pun dengan salawat.
- Selalu menjaga perbuatan dan amal soleh.
Awali kegiatan setiap hari mu dengan doa kepada Allah, karena kita TIDAK MEMILIKI DAYA DAN UPAYA untuk menyelesaikan dan menyempurnakan kegiatan dan pekerjaan kita.
Sumber utama:
Abwaabul Faraj, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani. Daarul Kutub al 'ilmiyah






