Tulisan ini tertarik diangkat setelah membaca satu artikel
penelitian dari Tony Dickensheets, seorang peneliti dan pendidik dari Amerika
Serikat, yang dinukil oleh Prof.DR.KH.M Tholhah Hasan dalam buku beliau.
Kyoiku Mama maksudnya adalah pendidikan yang dilakukan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya di rumah.
Tesis ini muncul dari kesuksesan pertumbuhan
ekonomi Jepang sejak tahun 1960-an dan kemajuan-kemajuannya di bidang yang
lain. Memang produktivitas tenaga kerja di Jepang luar biasa meningkatnya,
seorang pekerja Jepang siap bekerja 16 jam per hari. Tetapi kesuksesan dan
kemajuan Jepang, bukan semata-mata itu. Ada kondisi yang sangat memberikan
andil signifikan, yaitu para istri (ibu) yang bertanggungjawab atas pendidikan
anak-anaknya di rumah. Mereka (para ibu) yang merupakan pilar-pilar kokoh yang
menyangga kemajuan Jepang. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat pada
jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, itulah dua hal yang sangat
krusial bagi keberhasilan ekonomi dan kemajuan suatu bangsa.
Luar biasa peran ibu dalam dunia pendidikan, pantas jika di dalam Islam
terdapat satu semboyan “al Ummu madrasatul Uulaa/Ibu sekolah pertama
bagi anak-anaknya”.
Lebih dari itu, Islam memiliki beberapa contoh yang luar biasa
untuk ditiru dalam keberhasilannya mendidik anak. Diantaranya adalah Hajar,
istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Hal itu terlihat pada jawaban Ismail kecil
ketika ditawari disembelih oleh ayahnya, Ibrahim ‘alaihis salaam. Allah Ta’ala
ceritakan dalam surat ash Shaffaat/37:102:
“Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa
aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
Ayat di atas berpesan, Ismail merupakan anak dari hasil didikan yang luar biasa. Ditawarkan untuk disembelih, ia menerima dan tidak sedikit pun menolaknya. Padahal ia tahu akibat dari sembelihan itu. Ia pasti meninggal. Ia tidak bisa bermain bersama teman-temannya. Ia tidak bisa merasakan indah dan nikmatnya permainan saat itu.
Akan tetapi jawabannya sungguh indah dan menyenangkan orangtuanya. Penuh kesopanan ia mengatakan: “wahai ayahku, silahkan
lakukan apa yang diperintahkan kepadamu”. Tidak berhenti disitu, ia
lanjutkan “insya Allah, kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang
sabar”.
Dapat dibayangkan untuk anak seusia Ismail saat ini, zaman now, usia 10-13 tahun, apa yang akan dijawab ketika ditawari untuk disembelih?
Bahkan, jangankan ditawari disembelih, diperintahkan salat atau belajar saja marahnya luar biasa. Diambil hp atau gadgetnya, ngamuk luar biasa. Apa sebabnya?? Jawabnya : "pendidikan yang kurang tepat dalam keluarga".
Dibalik keberhasilan didikan Ismail terdapat sosok wanita luar biasa, Hajar. Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam Qashashul Anbiya, “Hajar dan anaknya, Ismail dibawa oleh Ibrahim ke Mekkah atas perintah Allah Ta’ala. sesampainya di Mekkah, ia ditempatkan di dekat Ka’bah dengan kemah yang ala kadarnya".
Saat itu, tidak ada seorang pun yang menetap kecuali mereka. Kondisi tandus, gersang dan tanpa tumbuh-tumbuhan menjadi pemandangan. Hajar dititipkan sekantong kurma dan air. Ketika itu Ibrahim meninggalkan keduanya, dan Hajar mengejarnya, seraya menanyakan “wahai suamiku, engkau mau pergi ke mana?”. “engkau akan meninggalkan kami di padang tandus yang tak berpenghuni dan tidak ada sesuatu apapun?”.
Berkali-kali hal itu ditanyakan ke Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim tidak menoleh sedikit pun. Lalu Hajar kembali bertanya “apakah Allah yang memerintahkan kamu pergi meninggalkan kami dalam rangka dakwah?” Nabi Ibrahim menjawab “iya…, betul”. Hajar mengatakan “jika begitu, Allah pasti tidak menyia-nyiakan kami”. Kemudian Ibrahim berangkat dan tidak menoleh kembali seraya ia berserah diri kepada Allah dengan berdoa:
رَّبَّنَآ إِنَّيۤ أَسْكَنتُ مِن
ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا
لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلاَةَ فَٱجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىۤ إِلَيْهِمْ
وَٱرْزُقْهُمْ مِّنَ ٱلثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya
Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah
mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS.
Ibrahim/14:37)
Informasi yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dapat diambil kesimpulan, bahwa keberhasilan Ismail dalam menjawab tawaran sembelihan ayahnya, dikarenakan sosok Ibu yang luar biasa menerima kepergihan suaminya untuk menjalankan perintah Allah, dakwah.
Inilah pendidikan akidah-akhlak. Pendidikan akidah yang kuat merupakan pondasi utama untuk
keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Dengan akidah yang kuat, seorang anak
akan memiliki akhlak yang mulia, baik di hadapan Allah dan juga saat
berinteraksi dengan manusia. Akidah yang kuat adalah yang bersandar kepada
Allah semata, dijadikannya Allah ash-Shamad dalam hidupnya.






