skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Minggu, 21 Juni 2020

Kyoiku Mama

Posted by bangzaman on Juni 21, 2020 – 0 komentar
 

Tulisan ini tertarik diangkat setelah membaca satu artikel penelitian dari Tony Dickensheets, seorang peneliti dan pendidik dari Amerika Serikat, yang dinukil oleh Prof.DR.KH.M Tholhah Hasan dalam buku beliau.

Kyoiku Mama maksudnya adalah pendidikan yang dilakukan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya di rumah.

Tesis ini muncul dari kesuksesan pertumbuhan ekonomi Jepang sejak tahun 1960-an dan kemajuan-kemajuannya di bidang yang lain. Memang produktivitas tenaga kerja di Jepang luar biasa meningkatnya, seorang pekerja Jepang siap bekerja 16 jam per hari. Tetapi kesuksesan dan kemajuan Jepang, bukan semata-mata itu. Ada kondisi yang sangat memberikan andil signifikan, yaitu para istri (ibu) yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anaknya di rumah. Mereka (para ibu) yang merupakan pilar-pilar kokoh yang menyangga kemajuan Jepang. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat pada jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, itulah dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi dan kemajuan suatu bangsa.

Luar biasa peran ibu dalam dunia pendidikan, pantas jika di dalam Islam terdapat satu semboyan “al Ummu madrasatul Uulaa/Ibu sekolah pertama bagi anak-anaknya”.

Lebih dari itu, Islam memiliki beberapa contoh yang luar biasa untuk ditiru dalam keberhasilannya mendidik anak. Diantaranya adalah Hajar, istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Hal itu terlihat pada jawaban Ismail kecil ketika ditawari disembelih oleh ayahnya, Ibrahim ‘alaihis salaam. Allah Ta’ala ceritakan dalam surat ash Shaffaat/37:102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ إِنِّيۤ أَرَىٰ فِي ٱلْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤمَرُ سَتَجِدُنِيۤ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Ayat di atas berpesan, Ismail merupakan anak dari hasil didikan yang luar biasa. Ditawarkan untuk disembelih, ia menerima dan tidak sedikit pun menolaknya. Padahal ia tahu akibat dari sembelihan itu. Ia pasti meninggal. Ia tidak bisa bermain bersama teman-temannya. Ia tidak bisa merasakan indah dan nikmatnya permainan saat itu.

Akan tetapi jawabannya sungguh indah dan menyenangkan orangtuanya. Penuh kesopanan ia mengatakan:  “wahai ayahku, silahkan lakukan apa yang diperintahkan kepadamu”. Tidak berhenti disitu, ia lanjutkan “insya Allah, kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar”.

Dapat dibayangkan untuk anak seusia Ismail saat ini, zaman now, usia 10-13 tahun, apa yang akan dijawab ketika ditawari untuk disembelih?

Bahkan, jangankan ditawari  disembelih, diperintahkan salat atau belajar saja marahnya luar biasa. Diambil hp atau gadgetnya, ngamuk luar biasa. Apa sebabnya?? Jawabnya : "pendidikan yang kurang tepat dalam keluarga".

Dibalik keberhasilan didikan Ismail terdapat sosok wanita luar biasa, Hajar. Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam Qashashul Anbiya, “Hajar dan anaknya, Ismail dibawa oleh Ibrahim ke Mekkah atas perintah Allah Ta’ala. sesampainya di Mekkah, ia ditempatkan di dekat Ka’bah dengan kemah yang ala kadarnya". 

Saat itu, tidak ada seorang pun yang menetap kecuali mereka. Kondisi tandus, gersang dan tanpa  tumbuh-tumbuhan menjadi pemandangan. Hajar dititipkan sekantong kurma dan air. Ketika itu Ibrahim meninggalkan keduanya, dan Hajar mengejarnya, seraya menanyakan “wahai suamiku, engkau mau pergi ke mana?”. “engkau akan meninggalkan kami di padang tandus yang tak berpenghuni dan tidak ada sesuatu apapun?”. 

Berkali-kali hal itu ditanyakan ke Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ibrahim tidak menoleh sedikit pun. Lalu Hajar kembali bertanya “apakah Allah yang memerintahkan kamu pergi meninggalkan kami dalam rangka dakwah?” Nabi Ibrahim menjawab “iya…, betul”. Hajar mengatakan “jika begitu, Allah pasti tidak menyia-nyiakan kami”. Kemudian Ibrahim berangkat dan tidak menoleh kembali seraya ia berserah diri kepada Allah dengan berdoa:

رَّبَّنَآ إِنَّيۤ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلاَةَ فَٱجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىۤ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُمْ مِّنَ ٱلثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim/14:37)

Informasi yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dapat diambil kesimpulan, bahwa keberhasilan Ismail dalam menjawab tawaran sembelihan ayahnya, dikarenakan sosok Ibu yang luar biasa menerima kepergihan suaminya untuk menjalankan perintah Allah, dakwah.

Inilah pendidikan akidah-akhlak. Pendidikan akidah yang kuat merupakan pondasi utama untuk keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Dengan akidah yang kuat, seorang anak akan memiliki akhlak yang mulia, baik di hadapan Allah dan juga saat berinteraksi dengan manusia. Akidah yang kuat adalah yang bersandar kepada Allah semata, dijadikannya Allah ash-Shamad dalam hidupnya.

Cukuplah pelajaran ini dijadikan landasan, jadilah orangtua, khususnya Ibu yang menjadikan anak-anak berakhlak mulia. Selain itu, carilah sekolah yang menanamkan akidah kuat dan akhlak mulia. 

Jadilah orangtua,  yang senantiasa mendukung, mensukseskan pendidikan di sekolah dengan cara memperkuatnya saat di rumah. Bekerjasama dengan guru untuk suksesi pendidikan. Terlebih lagi saat ini, di masa pandemi covid-19., dimana pendidikan dilaksanakan di rumah, kerjasama guru/sekolah dengan orangtua diujicobakan secara jelas oleh Allah Ta'ala.
Label: Artikel Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Leave a Reply

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ▼  Jun (15)
      • Hikmah Pandemi, Pesram SDIT Salsabila lebih Kreatif
      • Islam dan Mensikapi Pemimpin
      • Qunut Nazilah, apa dan bagaimana.
      • Memahami & Memaknai Tema Hardiknas 2020
      • Doa Anti Jomblo
      • Senjata Mukmin, Doa.
      • TP. 2019/2020, Angkatan "Shaabiriin"
      • Sanksi Meninggalkan Salat Jum'at
      • Doa dan Makanan
      • Adab-adab doa
      • Pembagian Rapor, SDIT Salsabila Tetap Istiqomah Pa...
      • Kyoiku Mama
      • Satu hewan kurban, untuk berapa orang?
      • Hamka; Pendidikan Islam itu Penting
      • Belajar dari Ikan di Laut
    • ►  Jul (12)
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger