Tentang Pendidikan Islam, Hamka mengintegrasikan makna antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran yang diistilahkan dengan 'allama-ta'liim, dan pendidikan diistilahkan dengan rabaa-tarbiyyah, ia mengartikan dengan sebuah usaha atau proses yang dilakukan guru (pendidik) untuk mengisi intelektualitas peserta didik dengan berbagai macam ilmu pengetahuan (menjadikan peserta didik pintar dalam segala bidang ilmu pengetahuan), untuk selanjutnya membentuk sikap dan karakteristik peserta didik yang baik (al-akhlâk al-karîmah), sehingga ia menjadi manusia yang berguna bagi masyarakatnya.
Menurut Hamka, Pendidikan Islam itu sangat penting karena beberapa hal, diantaranya :
1. Memudahkan manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di dunia.
Salah satu di antara tujuan Allah swt menjadikan manusia dan menempatkanya di dunia ini adalah sebagai khalifah Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat al-Baqarah/2 ayat 30:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…..
Sebagai al Kholifatu fil ardh (pemimpin atau pengganti di muka bumi), manusia di haruskan membangun dan mengelola tempat hidupnya yaitu dunia sesuai dengan kehendak Penciptanya. Membangun dan mengelola dalam rangka memakmurkan dunia sebagai tempat hidupnya tidaklah semudah membalikan telapak tangan, terlebih lagi keberadaan manusia itu bersifat heterogen. Ada berbagai macam suku, agama, bahasa, budaya dan lain sebagainya yang harus difahami. Dalam hal keberagaman atau heterogen umat manusia, Allah swt berfirman dalam surat al Hujraat/ 13:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu
Berdasarkan ayat ini dan kafasitas manusia sebagai khalifah, maka menjadi pentinglah pendidikan bagi manusia, terlebih lagi pendidikan Islam. Karena jika tidak dengan pendidikan, maka keberadaan manusia menjadi tiada arti dalam kehidupan di dunia ini.
Rasulullah saw bersabda :
من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الأخرة فعليه بالعلم ومن ارادهما فعليه بالعلم (رواه احمد)
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka harus mempunyai ilmu, barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka harus mempunyai ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan keduanya maka harus mempunyai ilmu.
Keinginan dalam hadis tersebut tentulah bukan hanya keinginan yang kosong nilai dan disharmonis dalam berinteraksi, melainkan sebaliknya. Maka dari ilmu sangat diperlukan, dan ilmu aka nada setelah pengajaran dan pendidikan.
2. Dapat meninggikan prestise manusia
Islam
merupakan agama ilmu dan memotivasi umatnya untuk senantiasa mencari
pengetahuan semaksimal mungkin. …Oleh karena itu menurut HAMKA, tujuan agama
memotivasi umatnya mencari ilmu pengetahuan tidak hanya untuk membantu manusia
memperoleh penghidupan yang layak. Akan tetapi, lebih dari itu. Dengan ilmu
manusia akan mampu mengenal Tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa
berupaya mencari keridhaan Allah. Kedua tujuan itu hendaknya berjalan
beriringan secara harmonis dan integral. Hanya dengan bentuk pendidikan yang
demikian manusia akan memperoleh keutamaan (hikmat) dalam hidupnya.[1]
Dan selain itu pula, Allah swt akan meninggikan beberapa derajat kemuliaan
hidupnya di dunia dan di akhirat.[2]
Hal ini sebagaimana Allah swt jelaskan dalam
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ….
Menurut HAMKA, tingginya derajat kemuliaan seseorang-sebagaimana disinggung pada ayat di atas-dikarenakan adanya integritas kuat antara iman dan ilmu. Iman merupakan pokok hidup utama bagi manusia, dan ilmu sebagai pengiringnya. Iman yang tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya terjerumus mengerjakan sesuatu hal yang disangka menyembah Allah, padahal sebaliknya. Dan ilmu yang tidak disertai iman, maka ilmunya akan membahayakan dirinya dan orang lain.[3]
3. Membangun keluarga yang bahagia
Menurut HAMKA, agar mudah mencapai kebahagian dalam berkeluarga, seorang lelaki harus lebih selektif dalam memilih pasangan hidupnya, sekira-kira sifat dan kepribadiannya sesuai dengan ajaran Islam.[4] Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhârî Ra:
عَن اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ االنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَلِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
"Riwayat dari Abu Hurairah Ra, bahwa Nabi Saw. bersabda; wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Pegang teguhlah karena agamanya niscaya tanganmu (akan) membutuhkannya (engkau bahagia)"[5]
Menurutnya, memilih pasangan hidup dikarenakan hartanya, atau keturunannya, atau juga kecantikannya dengan tidak disertai kebaikan sikap dan pendidikan agamanya, maka kebahagiaan yang akan diraihnya nanti hanyalah sementara, jauh dari tujuan yang diharapkan. Tapi sebaliknya, jika kebaikan sikap dan pendidikan agamanya menjadi tolak ukur utama, sekalipun harta, keturunan dan kecantikannya biasa-biasa saja, maka ia dan anak keturunannya akan merasakan nikmatnya syurga dunia. Bahkan lebih dari itu, masyarakat sekitarnya pun akan merasakan kebahagiaan darinya.[6]
Senada dengan HAMKA, Abu Ishâq Ibrâhîm bin ‘Ali al-Syairâzi di dalam kitab al-Muhadzdzab fî fiqhi madzhab al-Imâm al-Syâfi‘î menyatakan: "disunahkan bagi laki-laki mencari pasangan hidupnya (isteri) dengan mengacu kepada hal-hal yang dijelaskan hadits tersebut, karena tujuan dari pernikahan itu adalah adanya pergaulan dan kehidupan yang baik lagi harmonis (dalam pandangan syar‘î)".[7]
4. Sebagai dasar dalam mengambil ibrah dari pengalaman hidup
Pengalaman hidup adalah perjalanan umat manusia yang telah lalu, sekalipun dalam waktu yang sekejap. Maka dari itu, manusia haruslah pintar-pintar mengambil pelajaran dan pendidikan dari setiap pengalaman yang telah terpampang jelas dalam kehidupan ini.
HAMKA mengatakan "kejatuhan yang pertama dijadikannya ibrah untuk menempuh kesulitan yang kedua".[8] Maka dari itu, manusia berkewajiban mengingat setiap kejadian dalam perjalanan hidupnya yang telah lalu, dimana dan kapan itu. Ketika nanti terdapat gambaran yang sama, maka ia akan mudah menghadapinya.[9]
Gudang sekian banyak pengalaman adalah alam, sesuatu yang selain Allah. Menurut HAMKA, alam ini laksana kitab besar yang terhampar di hadapan manusia.[10]
Menurutnya, di dalam kitab ciptaan yang besar ini terdapat perjalanan hidup umat manusia terdahulu. Hal tersebut dihiasi dengan keberhasilan, ketenaran dan kebahagiaan. Serta ada pula lawanan dari itu semua. Bahkan ada yang pesimis dalam mengarungi perjalanan hidup ini, dikarenakan selalu gagal dan sengsara. Semuanya itu harus dibaca dan dipelajari sebab-sebabnya oleh umat manusia,[11] karena hanya ialah yang mempunyai pemahaman ‘aqliyah sejati dan penelitian batin sehingga bisa mengenal dan mengetahui makna dari ayat-ayat Kitab Agung alam ini.[12] Dan akhirnya ia mampu menjalani kehidupan ini, dengan melalui perjalanan umat terdahulu ketika mencapai keberhasilan dan kebahagiaan, serta menghindarinya ketika mencapai kegagalan dan kesengsaraan.
Proses membaca dan pembelajaran yang dilakukan oleh manusia terhadap kitab besar ini sepantasnya berorientasi kepada Tuhan. …Karena sebagai petunjuk, berbagai macam obyek secara eksistensi dan epistemologis tidak akan pernah lepas dari Tuhan.[13]
Maka dari itu, tepat sekali Allah swt firmankan dalam surat al-‘Alaq/ 96 ayat 1:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Pada ayat tersebut, tidak disebutkan
maf’ul bih-nya (objek kalimat), ini mengindikasikan bahwa setiap apapun yang
dapat disentuh oleh kata iqra’ (dibaca, diteliti, diobservasi dll)
sah-sah saja dilakukan, asalkan orientasinya adalah Allah swt, dan asalkan
setiap yang di iqra’ kan dapat mengingatkan ia kepada Sang Pencipta
serta dapat mendekatkan kepada-Nya (Prof. Dr. Quraih Shihab dalam tafsir
al-Misbahnya vol. 15). Tentunya hal itu harus ada dasarnya,
yaitu Pendidikan Islam
[1] Ramayulis dan
Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, h. 263-264
[2] M. Quraish
Shihab, Tafsir al-Misbah, v. 14 h. 78
[3] Hamka, Tafsir
al-Azhar (
[4] Ibid, h. 237
[5] Abu 'Abdillah
Muhammad bin Isma'il al Bukhori, Shoheh Bukhori (
[6] Hamka, Lembaga
Hidup, h. 237
[7] Abu Ishâq Ibrâhîm
bin ‘Ali al-Syairâzi,
Muhadzdzab fi fiqhi madzhab al Imam al-Syafi'i (Beirut Libanon: Daarul Fikr, 1994) h. 48
[8] Hamka, Falsafah
Hidup, h. 25
[9] Ibid, h.
28
[10] Hamka, Tasawuf
Modern (
[11] Hamka, Tasawuf
Modern h. 53
[12] Ibid, h.
22
[13] Ibid, h.
22






