حدثني أسامة بن زيد قال : قلت : يارسول الله، لم أرك تصوم شهرا
من الشهور ما تصوم من شعبان، قال : ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان، وهو
شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. (رواه
النسائي، 2356)
Artinya
: “bercerita
Usamah bin Zaid, aku bertanya kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah, aku tidak
pernah melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan
Sya’ban?, Rasul menjawab: bulan itu adalah bulan dimana manusia lalai, letaknya
diantar Rajab dan Ramadhan, bulan itu seluruh amal diangkat/diperlihatkan
kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, maka aku sangat suka disaat amalku
diangkat/diperlihatkan kepada Allah, aku sedang berpuasa”. HR. Imam Nasai,
no. 2356, hadis hasan.
Penjelasan
hadis
Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam
susunan bulan di tahun hijriyah. Dinamakan Sya’ban dikarenakan banyak
kabilah-kabilah yang berpencar mencari kerajaan untuk mendapakan hadiah-hadiah
darinya.[1]
Imam Ismail bin Katsir menjelaskan, dinamakan Sya’ban dikarenakan mereka
berpencar dari sebuah serangan.[2]
Imam Ibnu Hajar mengatakan: “dinamakan bulan Sya’ban dikarenakan mereka
berpencar mencari air atau mendapatkan beberapa serbuan setelah mereka keluar
dari bulan Rajab”. Beliau lanjutkan, “pendapat inilah yang paling utama
daripada yang lainnya”.[3]
Rasulullah saw. menyebut bulan Sya’ban
sebagai bulan yang dilalaikan oleh manusia dikarenakan manusia menganggap bahwa
bulan sebelumnya, yaitu Rajab lebih utama daripada bulan Sya’ban, sehingga
mereka memaksimalkan puasa bulan Rajab, tidak dengan Sya’ban.[4]
Berkata DR. Muhammad ad Dubaisy: “seakan-akan bulan Rajab dan Ramadhan itu
sangat diistimewakan dan dimanfaatkan, sehingga sikap itu menjadikan mereka
lalai di bulan Sya’ban. Inilah fenomena yang terjadi saat ini. Mereka
tinggalkan Sya’ban dengan tidak melakukan maksimalitas ibadah dan ketaatan
kepada Allah Ta’ala, mereka katakan di dalam hati mereka, yang boleh jadi ini
adalah bisikan setan; “bulan Ramadhan akan segera datang, nanti di bulan itu
insya Allah akan saya ganti segala macam ibadah, dan insya Allah semangat saya
akan bertambah di bulan itu….”. jadilah setan masuk ke dalam hatinya sehingga
menjadikan ia malas dan lalai dari bulan Sya’ban”.[5]
Maka dari itu, Rasulullah sangat menekankan
agar kita memanfaatkan bulan tersebut (Sya’ban) dengan memperbanyak
ibadah-ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan ulama-ulama terdahulu.,
diantaranya adalah:
1. Berpuasa
Banyak
hadis yang menjelaskan tentang perintah puasa di bulan Sya’ban. Perintah yang
dimaksud di sini adalah perintah sunah. Sebagaimana dalam hadis Usamah bin Zaid
yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, bahwa Nabi Muhammad sangat senang catatan
amal ibadahnya diangkat/ diperlihatkan oleh Allah pada saat ini sedang berpuasa
karena Allah Ta’ala, dan itu terjadi di bulan Sya’ban.
Hadis
Aisyah menjelaskan:
عن عائشة قالت : كان رسول
الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول : لايفطر ويفطر حتى نقول : لا يصوم. وما
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إستكمل صيام شهر إلا رمضان، وما رأيته أكثر
صياما منه في شعبان.
“sayyidah ‘Aisyah berkata: “Rasulullah
saw. senantiasa berpuasa sampai-sampai kami katakan ia tidak berbuka, dan
berbuka sampai-sampai kami katakan ia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah
melihat Rasulullah saw. menyempurnakan berpuasa melainkan di bulan Ramadhan,
dan tidak ada bulan yang paling banyak ia puasakan melainkan Sya’ban”. HR.
Imam Bukhari, no. 1969
Dan
masih banyak lagi hadis tentang puasa Sya’ban dalam riwayat Imam Bukhari, no.
1970, hadis Abu Salamah bahwa ‘Aisyah bercerita tentang puasa Sya’ban Nabi
Muhammad saw.: “Rasulullah tidak pernah berpuasa lebih banyak melainkan bulan
Sya’ban, dan terkadang ia berpuasa di bulan Sya’ban semuanya….”.
Ulama
berbeda pendapat tentang puasanya Nabi Muhammad saw. di bulan Sya’ban, apakah
seluruhnya atau kebanyakannya. Akan tetapi yang bijak mensikapi itu adalah, sebagaimana
yang disampaikan oleh Imam ath Thiby: “dari sekian hadis tentang puasa Nabi di
bulan Sya’ban, dapat difahami bahwa terkadang Nabi mempuasakannya seluruhnya,
dan terkadang hanya kebanyakannya, artinya ada sedikit hari dimana Nabi
Muhammad tidak berpuasa di bulan Sya’ban, dengan niat agar orang-orang tidak
menganggap bahwa puasa Sya’ban itu wajib seperti Ramadhan”.
Imam
Ibnu Hajar menyebutkan: “banyak hikmah tentang banyaknya berpuasa Nabi di bulan
Sya’ban, diantaranya adalah:
ü Sebagai
upaya menjama’/menggabungkan puasa sunah tiga hari setiap bulannya di bulan
Sya’ban, dalam arti lain mengqodho/mengganti. Hal ini dikatakan oleh Imam Ibnu
Bathol.
ü Puasa
Sya’ban dalam rangka mengagungkan bulan Ramadhan. Seperti dijelaskan dalam
hadis Anas: “su-ilan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ayyush shaumi
afdhalu ba’da Ramadhan, qaala Sya’baanu li Ta’zhiimi Ramadhan/Nabi
ditanya tentang puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, Nabi
menjawab: puasa Sya’ban karena mengagungkan Ramadhan. HR. Imam Tirmidzi, no.
663, hadis lemah.
ü Dikarenakan
bulan Sya’ban itu beriringan dengan Ramadhan. Ia dipuasakan dikarenakan
khawatir banyak yang luput saat bulan Ramadhan, hal-hal yang disunahkan pada
bulan itu.
ü Dikarenakan
bulan Sya’ban amal ibadah manusia diperlihatkan/ ditunjukan kepada Allah
Ta’ala. Dan ini menjadi bagian yang dicintai oleh Nabi Muhammad. Seperti hadis
Usamah bin Zaid di atas.
Hikmah
yang terakhir inilah yang paling kuat, dikarenakn berdasarkan hadis hasan dari
Imam Nasa-i.[6]
2. Membaca
al-Qur’an
Ketika
Sya’ban seperti muqaddimah Ramadhan maka disyari’atkan pula berpuasa dan
membaca al-Qur’an dibulan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar muncul kegemaran
dan sebagai latihan untuk Ramadhan nanti. Salamah bin Kuhail berkata: “boleh
dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca al-Qur’an”. Begitu juga
dengan Hubaib bin Abi Tsabit mengatakan ketika telah masuk bulan Sya’ban:
“bulan ini adalah bulan para pembaca al-Qur’an, dahulu ‘Amr bin Qois al Mulaa-i
apabila masuk bulan Sya’ban ia menutup tokonya dan ia konsentrasikan untuk
membaca al-Qur’an”.[7]
Banyak keuntungan dan keutamaan ketika kita
beribadah disaat manusia banyak yang lalai, misalnya seperti bulan Sya’ban ini
yang disinggung oleh Rasulullah saw:
1. Beribadah di bulan Sya’ban
itu lebih terahasia/tersembunyi. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah sunah
itu lebih utama, terlebih lagi puasa, yang memang menjadi rahasia antara hamba
dan Rabb-nya.
Sebagian ulama salaf
telah berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satu orang pun yang tahu. Hal itu
dikarenakan saat ia keluar dari rumah menuju pasar, ia selalu membawa dua
gumpalan roti, maka keluarganya menyangka bahwa ia memakannya, dan penghuni
pasa menyangka bahwa ia memakannya saat di rumah.
Ibnu Mas’ud berkata:
“apabila di pagi hari kamu berpuasa, maka lumurilah dengan minyak (maksudnya
jenggotnya agar terlihat basah dan seger)”.
2.
Terasa lebih berat,
dan ibadah yang paling utama di sisi Allah adalah yang paling berat dirasakan
oleh hamba. Perlu diketahui, jiwa itu akan mudah melakukan seperti apa yang
dilakukan oleh orang yang berada di sekitarnya. Jika orang yang berada
disekelilingnya melakukan ketaatan, maka ia akan mudah mengikutinya. Tentu
sebaliknya, jika kebanyakan manusia lalai, maka ia akan berat dan sulit
melakukan ketaatan ditengah-tengah orang tersebut.
Imam Ibnu Rojab
menulis:
بدأ الإسلام غريبا وسيعود
غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء. وفي رواية، قيل: ومن الغرباء؟ قال : الذين يصلحون
إذا فسد الناس. وفي صحيح مسلم من حديث معقل بن يسار عن النبي صلى الله عليه وسلم
قال : العبادة في الهرج كالهجرة إليّ.
“dalam hadis: “Islam datang pertama kali
dalam keterasingan dan akan kembali dalam keterasingan, maka bahagialah mereka
yang termasuk dalam kelompok keterasingan”. Dalam satu riwayat dijelaskan:
“siapa yang termasuk dalam kelompok keterasingan?, Rasul menjawab: “mereka
itu adalah orang-orang yang berbuat baik ditengah-tengah rusaknya manusia”.
Dan dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari Ma’qal bin Yasaar, dari Nabi Muhammad
saw. ia bersabda: “ibadah di tengah-tengah fitnah/ kekacauan pahalanya
seperti orang hijrah kepada Ku”.
3. Sendiri melakukan
ketaatan ditengah-tengah orang yang melakukan kemaksiatan dan kelalaian
bermanfaat untuk menolak bahaya/ bencana yang akan menimpa manusia.
Sebagian ulama salaf
berkata:
ذاكر الله في الغافلين كمثل
الذي يحمى الفئة المنهزمة، ولولا من يذكر الله في غفلة الناس لهلك الناس.
“orang yang ingat/ berdzikir kepada
Allah di tengah-tengah orang yang lalai, seperti orang yang melindungi
sekelompok orang yang diserang mundur oleh pasukan lain, kalaulah tidak ada
orang yang ingat/ berdzikir kepada Allah ditengah orang yang lalai kepada-Nya,
niscaha akan hancur binasa manusia”.
Imam Ibnu Rajab
berkata:
وقد قيل في تأويل قوله تعالى:
"ولو لا دفع الله الناس بعضهم على بعض لفسدت الأرض" (البقرة:251)
إنه يدخل فيها دفعه عن العصاة بأهل الطاعة، وجاء في الأثر: إن الله يدفع
بالرجل الصالح عن أهله وولده وذريته ومن
حوله.
“dikatakan dalam ta’wil firman Allah
Ta’ala: “seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagiaan umat manusia
dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini…”. Masuk dalam cakupan makna
ayat tersebut adalah menolak bahaya (menyelamatkan) orang lain dikarenakan ketaatan seseorang. Dalam hal ini
ada atsar sahabat: “sesungguhnya Allah akan menolak (bahaya/ kerusakan yang
muncul) dari keluarga, anak-anak, keturunan dan orang yang ada disekitarnya
dikarenakan suami yang soleh”.[8]
Dengan demikian,
tidak akan pernah ada kerusakan/ bahaya yang muncul dari keluarga atau orang
banyak di saat yang sama ada orang yang beribadah kepada Allah. Boleh jadi,
kerusakan itu akan berubah menjadi kenikmatan dan rahmat, itu karena keberkahan
orang yang beribadah.
Coba lihat firman
Allah Ta’ala dalam surat al A’raf:96:
ولو أن أهل القرى أمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بماكانوا يكسبون.
"Jikalau Sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya"
Semoga
bermanfaat
[1] Ibnu Dihyah al Kalbi, Maa Wadhoha wa Istabaana fi Fadhoili
Syahri Sya’baana, (Riyadh: Adhwaa-us Salaf, 1424H) hal. 13
[2] Ismail bin Katsir, Tafsir al Qur’anil ‘Azhiim, (Beirut: Daar
al Jiil) j. 2hal. 339
[3] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fathu al Baari
syarah Shoheh al Bukhari, (Mesir: Daaru al Hadis, 1998) j. 4 h. 248
[4] Ibnu Rajab al
Hanbali, Latha-iful Ma’arif, (Mesir: Daaru al Hadis, 2002) hal. 181
[5] Muhammad ad
Dubaisy, Haalul Mu’miniina fi Syahri Sya’baan, (Mesir: meidan Tursina,2013) hal.
20





