Pendidikan dan Bengkel Motor, sekilas ada
kesamaan, sama-sama merubah kondisi rusak menjadi baik, kondisi baik menjadi
lebih baik lagi. Tetapi yang membuat beda adalah, klo Bengkel Motor yang
berperan cuma satu, yaitu montirnya saja, si pemilik diam memperhatikan
menunggu servisan selesai. Lain halnya dengan pendidikan, ia harus bekerjasama
antara beberapa unsur : 1. Guru, 2. Orangtua, 3. Masyarakat/ Lingkungan. Tanpa
tiga ini dapat dipastikan pendidikan akan GATOT, Gagal Total.
Hamka mengatakan “Pendidikan merupakan
usaha pentransferan berbagaimacam pengetahuan terkait materi dan
rahasia-rahasia kehidupan secara berkesinambungan, penuh perhatian, kepedulian
dan kasih sayang kepada peserta didik, hingga akhirnya mereka mendapatkan
keluasan ilmu dan akhlak mulia”. Hamka memadukan dua makna ta’lim dan tarbiyah
dalam defenisinya.
Maka dari itu Hamka menekankan adanya kerjasama yang cantik
dan konsisten antara Guru dan Orangtua. Saling berkunjung, bertukar pengetahuan
tentang si anak, menyampaikan perkembangan dan lain sebagainya, baik saat
sholat berjama’ah-jika rumahnya berdekatan-, atau membuat janji pertemuan.
Orangtua yang masa bodoh, maka akan berakibat gagalnya pendidikan anak.
Banyak contoh jenis masa bodoh :
Setelah anak pulang dari sekolahnya, saat
itu atau beberapa waktu setelahnya ia tidak menanyakan kepada anaknya
“bagaimana kegiatan di sekolah tadi?, belajarnya semangat kan?, ada tugas
tidak?” atau semakna dengan itu. Tentunya dengan bahasa dan nada penuh
semangat, tidak seperti mengintrogasi tersangka.
Tidak menegur anaknya jika tidak pas
meletakkan peralatan yang telah digunakannya saat sekolah. Seperti tidak
meletakkan sepatu, tas, atau pakaian kotor di tempatnya. Sehingga tanggungjawab
anak dan kemandiriannya kurang.
Tidak mengingatkan anaknya sholat,
muroja’ah, belajar dan lain sebagainya. Tetapi malah dibuatnya lalai dengan
membiarkan asik dengan game di tab, hp, laptop atau lainnya. Terlebih lagi
difasilitasi dengan internet dan tanpa pengawasan.
Dan banyak lagi contoh-contohnya…
Nabi Muhammad, dalam hadisnya senantiasa
mengingatkan kita. “Perintahkanlah anakmu sholat ketika usianya sudah 7 tahun,
dan pukul (mendidik) saat usianya 10 tahun, dan pisahkanlah tidurnya”. HR. Abu
Daud, 495, hadis hasan.
Dalam hadis Abdullah bin Abbas, Rasul
menyampaikan “muliakanlah (maksudnya sayangi dan hormati) anak-anak mu, dan
perbagusilah adab atau akhlaknya”. Hadis hasan dalam kitab Targhib dan Tarhib.
Maka dari itu, mari bekerjasama (guru dan
orangtua) dalam mendidik anak-anak kita, saling mengingatkan, bukan saling
fitnah, saling memberi informasi bukan saling memarahi dan dengki, saling
memotivasi bukan saling merendahi.
Semoga usaha kita diberikan kemudahan dan
ridho dari Allah Ta’ala. Aamiin
Hikmah
Hidup yang harus dijalani, hasil obrolan silaturrahim wali murid.





