Alam naj’lil ardha mihaadaa,
begitulah Allah menggambarkan bumi untuk manusia di dalam surat an Naba/78: 6. Yakni
satu kondisi di mana manusia dapat merasakan ketenangan, keamanan, dan
kenyamanan saat berada di atas permukaannya.
Imam Jalalain menafsirkan kata mihaada dengan firaasyan
kal mahdi, tempat tidur yang dihamparkan/ bentangkan seperti tempat tidur
bayi/ ayunan bayi.[1]
Sehingga bayi yang ditempatkan di atas permukaannya merasakan
halusnya dan hangatnya hamparan, lalu merasakan tenang dan nyaman hingga
tidur pulas.
Maha Baik Allah menjadikan bumi ini tempat yang tenang, aman dan
nyaman untuk manusia. Allah tetapkan dan atur sistemnya serta menentukan
kadar-kadar yang berkaitan dengannya. Cuaca yang silih berganti, disesuaikan
pada daerah atau negara yang membutuhkannya. Pepohonan dan pegunungan,
disesuaikan jumlahnya untuk memperkuat kondisi bumi. Air hujan yang turun dari langit telah ditentukan volumenya
untuk kondisi bumi. Pantas jika ada musisi yang mengatakan bahwa tanah kita
tanah syurga. Padahal ia baru lihat hanya sebagian saja, belum seluruhnya. Syurga
yang ia sampaikan merupakan gambaran keindahan, keamanan dan kenyamanan untuk
dihuni manusia.
Lalu bagaimana kabar bumi saat ini? Pada bulan Januari 2021 ini,
BNPB telah mencatat 185 bencana yang terjadi di Indonesia, itu mulai dari 1
sampai dengan 21 Januari 2021. Sementara kompas.com., mencatat sampai dengan 23
Januari ini sudah 197 bencana alam terjadi. Artinya, selama dua hari ada
pertambahan 12 bencana yang terjadi di Indonesia,-atau mungkin lebih saat saya
menulis artikel ini,-. Mulai dari banjir, banjir bandang, gempa bumi, tanah
longsor, pesawat jatuh dan lain sebagainya.
Jika seperti ini, seakan-akan bumi tidak menjadi tempat yang aman
dihuni oleh manusia. Atau bahkan menjadi ancaman buat manusia?. Na’udzubilaahi
min dzaalik.
Jawabnya, “iya..”. Muhammad Quraish Shihab mengatakan, “penciptaan
bumi telah dilakukan oleh Allah ta’ala sebagai mihaada (satu tempat yang
aman dan nyaman dihuni oleh manusia), tetapi jika Allah berkendak di kemudian
hari, Ia dapat menghentikan anugerah-Nya, sehingga bumi tidak lagi nyaman
dihuni, malam tidak lagi gelap, atau manusia tidak dapat tidur, dan siang pun
tidak dapat dimanfaatkan. Maka dari itu, jangan mendurhakai Allah dan jangan
menolak kehadiran utusan-Nya”.[2]
Manusia
dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, memiliki
keterikatan yang kuat, yang diciptakan oleh Allah ta’ala. Kebaikan yang
dilakukan oleh manusia akan menyebabkan keluar dan turun keberkahan dari bumi
dan langit. Allah jelaskan dalam firman-Nya, surat al A’raf/7:96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ
آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ
“dan
sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi….”
Imam
Ibnu Katsir mengatakan, “keberkahan yang dimaksud adalah turunnya air hujan dan
tumbuhnya tumbuhan dari bumi”.[3] Dua
hal tersebut merupakan sumber kehidupan bagi manusia dan kebahagiaannya. Kenapa
tidak, dengan turunya hujan akan tumbuh segala macam tumbuhan dan pepohonan,
lalu berbuah dan jadikan makanan oleh manusia. Belum lagi rerumputan dan
bunga-bunga yang menyegarkan. Dari semua itu dapat diolah untuk kepentingan
manusia.
Akan
tetapi, jika keburukan yang dilakukan manusia, yakni ketidaktaatan kepada Rabb-nya
dengan melakukan maksiat di atas permukaan bumi. Seperti, merusak ekosistem
alam, melakukan korupsi, tidak meneggakkan keadilan dan tidak mengikuti arahan
ulama, maka Allah akan berikan hukuman untuk mereka melalui alam semesta, bumi
dan langit serta isinya. Hal ini Allah sampaikan dalam firman-Nya, lanjutan
surat al A’raf/7:96: “akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka
kami hukum/ siksa mereka dengan apa yang telah mereka lakukan”.
Pada
surat ar Ruum/30: 41, Allah jelaskan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia,
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka,
agar mereka kembali ke jalan yang benar”.
Dengan
demikian dapat difahami, bahwa terjadinya bencana dan musibah selama ini
dikarenakan ulah manusia sendiri. Ia durhaka pada Allah ta’ala dengan
melakukan kemaksiatan di atas permukaannya. Adakalanya dengan melakukan
pembunuhan, ketidakadilan hukum, korupsi bantuan sosial atau lainnya, menggunduli
hutan, membuang sampah tidak pada tempatnya, mempersempit jalur air/
drainase, dan lain sebagainya.
Perlu
diketahui, sanksi/ hukuman yang ditegakkan di muka bumi, lebih baik dari pada
hujan 40 pagi. Tegaknya hukum dan keadilan menyebabkan terhentinya kezholiman
dan kemaksiatan yang sifatnya sosial. Karena setiap orang akan berpikir panjang
untuk melakukannya ketika hukuman ditegakkan. Dengan sendirinya, kemaslahatan
akan dirasakan oleh setiap orang. Inilah hikmah dari hadis Rasulullah, riwayat
Imam Ibnu Hibban, 4398., dengan lafaz berbeda diriwayatkan oleh Imam Nasai,
4904.
حدٌّ يُقامُ في الأرضِ خيرٌ مِن مطرٍ
أربعينَ صباحًا






