Imam Nawawi bin Umar al Jaawi al Banteni,-seorang ulama Indonesia yang besar di Mekkah dan menjadi tokoh ulama besar di sana,-menuliskan;
وحكي عن
سيدنا موسى عليه وعلى نبينا أفضل الصلاة والسلام أنه شكا ألم سنه إلى الله تعالى،
فقال : خذ الحشيشة الفلانية وضعها على سنك، فسكن الوجع في الحال، ثم بعد مدة عاد
ذلك الوجع فأخذ تلك الحشيشة ووضعها على سنه فزاد الوجع أضعاف ماكان، فاستغاث إلى
الله تعالى فقال : إلهي، ألست أمرتني بهذا ودللتني عليه؟ فقال تعالى : "يا موسى،
أنا الشافي، وأنا المعافي، وأنا الضارّ، وأنا النافع، قصدتني في المرة الأولى
فأزلت مرضك، والأن قصدت الحشيشة وما قصدتني.
“Dahulu, Nabi Musa ‘alaihis salam pernah mengadukan sakit giginya
pada Allah Ta’ala. Lalu Allah sampaikan, “ambilah rumput kering milik fulan,
dan letakkanlah di gigi yang sakit”. Nabi Musa (melakukan hal itu, dan ia) merasakan
sakitnya semakin reda dan sembuh. Beberapa lama kemudian, sakit giginya datang kembali.
Nabi Musa langsung mengambil rumput kering yang dahulu pernah digunakan dan meletakkannya
di gigi yang sakit. Akan tetapi sakitnya semakin bertambah dan bertambah,
sehingga ia memohon pertolongan pada Allah seraya berkata, “wahai Tuhan ku,
bukankah dahulu Kau pernah perintahkan aku mengambil rumput kering dan
meletakkannya di gigi yang sakit?”, (lalu sakit gigi ku sembuh). Allah berkata,
“wahai Musa, Saya adalah Yang Maha Menyembuhkan, Yang Maha Meng’afiyahkan/ tambah
sehat & kekuatan, Yang Memberikan Mudharat dan Manfaat. Pada masa awal, kau
fokuskan harapan sembuh pada Ku, maka aku sembuhkan. Sekarang (kesempatan
kedua), kau harapkan rumput kering menyembuhkan penyakit mu, dan kau tidak
fokus pada Ku”.
Sumber : Kitab
Nuuruzh Zhalam syarah ‘Aqidatil ‘Awwaam, hal. 34.
Pada cerita di atas, Imam Nawawi memberikan pesan kepada kita, “hendaklah
hanya bertumpu, berpegang dan bersandar kepada Allah semata. Pada-Nya kebaikan,
manfaat, mudharat dan lain sebagainya, “wallaahu khalaqakum wa maa ta’maluun”/
Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat [QS. Ash
Shaaffaat:96].
Bukan hanya itu, Allah ta’ala berfirman dalam surat al Ikhlash: 2; “Allaahush Shamad/ Allah tempat meminta segala sesuatu”. Imam Ibnu Katsir, di dalam kitabnya, mengutip riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas, “ya’nii allaadzii yashmadul khalaa-iq ilaihi fi hawaa-ijihim wa masaa-ilihim/ maksudnya adalah Allah yang menjadi pegangan dan tumpuan seluruh makhluknya dari setiap hajat dan problematika mereka”.
Pelajaran yang dapat diambil:
1. Masa
pandemi ini, kuatkan sandaran dan keimanan pada Allah. Jangan sampai lengah dengan
menjadikan obat atau vaksin sebagai segalanya. Ia hanya perantara untuk kita
tidak tertular pada covid-19, bukan penjaga, penolak atau penyembuh.
Mungkin, ketika semakin bertambah banyaknya yang terpapar, selain
kelengahan, kita, boleh jadi telah bertumpu pada usaha duniawi yang bersifat
rasional, berisikan startegi dan intruksi. Kita lengah dari tumpuan yang sejati
dikuatkan di dalam hati, yakni Allah.
2. Setiap
rencana yang akan dilakukan, jadikan Allah yang paling utama atas segalanya. Mulai
dengan bismillah, berarti bertolak dari ketaatan kepada-Nya dan terus
berada di rel-Nya. Ilmu marketing, strategi, dan segala rencana rasional
hanyalah alat saja, tidak boleh menjadi tumpuan dan landasan. Ketika menemui
kegagalan, kembalikan lagi pada Allah, dengan muhasabah/ introfeksi diri.
Ketika alat kita jadikan tumpuan, maka besar kemungkinan kesulitan,
kegagalan, dan kemelaaratan akan terus datang bertubi-tubi dan silih berganti
dalam rencana kehidupan kita. Sebagaimana Nabi Musa merasakan sakit yang
bertambah karena lengah bertumpu kepada yang sebenarnya.
3. Ketika memiliki rencana baik, kita dianjurkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, “ta’aawanuu ‘alal birri wat taqwa”. Sekali lagi, itu hanya sebagai alat perantara saja, bukan menjadi tumpuan untuk kesuksusan cita-cita kita. Salah jika kita jadikan ia tumpuan dan sandaran.
4. Kuatkan iman kita. Allah segalanya untuk kita. Lakukan syari’at dunia yang bersifat rasional hanyalah perantara, bukan tumpuan semata.






