عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن النبي صلى
الله عليه وسلم قال
: يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو
مشاحن. (رواه الطبراني وإبن حبان في صحيحه، 5636)
Artinya : “dari sahabat Mu’adz
bin Jabbal-semoga Allah meridhoinya-dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, ia bersabda: “pada malam nisfu Sya’ban Allah Ta’ala melihat kepada
seluruh makhluk-makhluk-Nya (dengan penuh rahmat), maka ia ampuni seluruh
makhluknya melainkan orang yang mensekutukan-Nya dan orang yang
marah/bermusuhan. HR. Imam Thabarani dan Ibnu Hibban dalam kitab sohehnya,
no. 5636.
Syeikh Farid Abdul ‘Azizi al Jindi dalam tahqiq at Targhib wat Tarhib mengatakan hadis ini hasan. Syeikh al Albani dalam soheh at Targhib wat Tarhib mengatakan hadis ini hasan soheh.
Penjelasan hadis
Syeikh Ibnu Rajab al Hanbali dalam
kitabnya, Lathoiful Ma’arif membuat bab khusus tentang nisfu Sya’ban, beliau
namai dengan “fi nishfi Sya’ban/ tentang nisfu Sya’ban. Di dalam bab itu beliau
menjelaskan, beberapa hal:
1. Hukum puasa setelah masuk pertengahan bulan
Sya’ban.
Kaitannya
dengan ini, terdapat hadis Abu Hurairah dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam ia bersabda:
إذا إنتصف شعبان فلا تصوموا حتى رمضان
“apabila
telah masuk pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kamu berpuasa”. HR.
Imam Tirmidzi, 738 dan Abu Daud, 2337, hadis soheh.
Imam
Ibnu Rajab menuliskan, “para ulama besar dan ‘alim, seperti Abdurrahman bin
Mahdi, Imam Ahmad, Imam Abu Zur’ah ar Raazi, dan Imam al Atsram mengomentari
hadis tersebut, mereka menyimpulkan hadis itu munkar”. Imam Ibnu Rajab
melanjutkan, mengutip perkataan Imam Ahmad: “hadis yang bersumber dari al ‘Ulaa
bin Abdirrahman ini adalah hadis yang paling munkar, ia bertentangan dengan
hadis:
لاتقدموا رمضان بصوم يوم ولا يومين، إلا رجل كان يصوم يوما
فليصمه.
“janganlah
kamu dahulukan bulan Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari
sebelumnya, melainkan bagi seseorang (yang terbiasa puasa) ia berpuasa disisa
Sya’ban itu satu hari, maka lanjutkanlah puasanya”. HR. Imam Bukhari, no.
1914, soheh.
Ibnu
Rajab melanjutkan, “pemahaman hadis ini adalah diperbolehkan berpuasa di bulan
sebelum Ramadhan, Sya’ban, kecuali jika akan berakhir satu atau dua hari lagi,
maka janganlah berpuasa”.[1]
Kecuali bagi orang yang terbiasa berpuasa, dan ia dapati satu hari di bulan
Sya’ban adalah hari yang ia biasa puasa, bisa jadi Senin atau Kamis, maka
lanjutkanlah puasanya.[2]
Ibnu
Rajab melanjutkan, “Al Atsram mengatakan: “hadis al ‘Ulaa tadi menyalahi
hadis-hadis yang terkait kebolehan berpuasa di bulan Sya’ban, bahkan dijelaskan
dalam hadis bahwa Rasulullah terkadang berpuasa seluruh bulan Sya’ban (hadis
‘Aisyah riwayat Imam Abu Daud 2431) dan terkadang kebanyakannya (hadis
‘Aisyah, riwayat Imam Bukhari 1969 dan Imam Muslim 1156). Dan larangan
berpuasa dari Rasulullah hanya jelang dua hari berakhir Sya’ban saja. Maka
jadilah hadis al ‘Ulaa tersebut syadz, karena menyalahi beberapa hadis yang
soheh terkait kebolehan puasa Sya’ban”.
Imam
Thohawi, sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Rajab: “hadis itu sebenarnya telah
dinasakh, dan konsensus ulama tidak mengamalkannya. Walaupun ada yang
mengamalkan, diantaranya Imam Syafi’i dan para muridnya. Pemahaman Imam Syafi’i
dan para muridnya tentang hadis al ‘Ulaa
tadi adalah: “seseorang yang belum terbiasa puasa sunah tidak boleh memulainya
ketika telah masuk pertengahan bulan Sya’ban”. Pemahaman ini pun di”iya”kan
oleh sebagian ulama kontemporer diantaranya murid-murid kami (Imam Ibnu Rajab),
akan tetapi mereka berbeda menentukan sebab ketidakbolehannya. Ada yang
mengatakan: (1) khawatir menambah-nambahkan bulan suci Ramadhan, (2) (jika
perengahan bulan Sya’ban tidak puasa) agar lebih kuat dan semangat ketika puasa
bulan Ramadhan.
Dari
semua itu ditarik kesimpulan, bahwa puasa setelah pertengahan bulan Sya’ban
boleh-boleh saja, ahsannya/sebaiknya sampai dengan tersisa dua/satu hari bulan
Sya’ban.[3]
2. Menghidupkan malam nisfu Sya’ban
Sejarah
menghidupkan malam nisfu Sya’ban berawal dari kalangan tabi’in di daerah Syam,
yaitu Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan selainnya. Dimana mereka
sangat memuliakan malam tersebut dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ada
satu pendapat, bahwa perbuatan itu berawal dari sampainya cerita/atsar dari
orang-orang Bani Israil, atau dikenal dengan atsar Israa’iliyyat kepada
mereka, lalu mereka lakukan dan menjadi masyhur sampai ke beberapa daerah Islam.[4]
Imam
Ibnu Rajab menjelaskan, terkait dengan menghidupkan dan memuliakan malam nisfu
Sya’ban ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan/mensunahkan, yaitu
sekelompok ulama Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin ‘Aamir dan
selainnya mereka menghidupkan dan
memuliakan malam nisfu Sya’ban. Dan ada pula yang mengingkarinya, yaitu ulama
Hijaz, seperti Imam ‘Atha dan Ibnu Abi Mulaikah. Bahkan ahli fikih kota
Madinah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “pengingkaran itu pun
termasuk pendapatnya murid-murid Imam Malik, mereka mengatakan: “itu bid’ah”.
Dalam
kebolehan/kesunahannya pun, ulama Syam masih berbeda pendapat tentang teknisnya.
Pertama, sebagian ulama menyatakan sunah menghidupkan malam nisfu
Sya’ban secara berjama’ah di dalam masjid, itu adalah pendapatnya Khalid bin
Ma’dan, Luqman bin ‘Aamir dan selain keduanya. Bahkan mereka pada malam itu
mengenakan pakaian-pakaian yang paling bagus yang mereka miliki. Mereka
berwangi-wangi dengan bukhur, memakai celak mata, dan beribadah di dalam
masjid pada malam itu. Tentang hal ini Imam Ishaq bin Rohawaih sepakat, dan
beliau mengatakan: “bahwa melaksanakan ibadah di dalam masjid secara berjama’ah
bukanlah termasuk bid’ah (tercela)”.
Kedua,
makruh berkumpul di masjid untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban, untuk solat
(sunah mutlak), bercerita manfaat, dan berdoa. Lebih baiknya dilakukan secara
sendiri-sendiri saja. Ini merupakan pendapatnya Imam Auza’i, Imam penduduk
Syam, ahli fikihnya dan juga orang yang alim di sana. Dan inilah juga
pendapatnya Imam Ibnu Rajab al Hanbali. Beliau katakan: “hadza huwa
al aqrab, in syaa Allah/ inilah pendapat yang paling mendekati kebenaran, jika
Allah menghendaki”.[5]
Berkata
Syeikh Abdullah al Ghumari: “tuan kami, orangtua kami, Imam Muhammad al Ghumari
memilih cara yang pertama. Ia memerintahkan orang-orang untuk menghidupkan
malam nisfu Sya’ban di langgar milik keluarga ash Shiddiqiyah dengan
berdzikir, membaca al Qur’an dan berdoa, kemudian mereka membagi-bagikan
makanan dan minuman”.[6]
Selain
Imam Ibnu Rajab, ada ulama lain yang membahas tentang menghidupkan/memuliakan
malam nisfu Sya’ban, yaitu kelompok ulama al Azhar dan Syeikh Naashiruddin al
Albaani, ketika beliau mentakhrij Risalah “ash Shiratul Mustaqiim;
Risaalatun fiimaa Qarrarahu ats Tsiqaatu al Atsbaatu fi Lailati an Nishfi min
Sya’baan” karya ulama al Azhar. Di dalam Risalah itu dikatakan:
وأن إحياء هذه الليلة جماعة
في المساجد فيه خلاف العلماء. فمنهم من أنكره، ومنهم من أقرّه مع إعترافهم بضعف
الأحاديث الواردة بفضلها، ذهابا منهم إلى أن الأحاديث الضعيفة يؤخذ بها في فضائل
الأعمال.
“menghidupkan
malam nisfu Sya’ban secara berjama’ah di masjid-masjid merupakan perkara yang
diselisihkan oleh para ulama. Diantara mereka ada yang mengingkarinya, dan
diantaranya lagi ada yang menetapkan kesunahan/kebolehannya padahal mereka
mengetahui akan kelemahan hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan malam
tersebut. Hal itu didasari karena adanya kebolehan berpegang dengan hadis
dhoif/lemah untuk kegiatan fadhoil a’mal”,[7]
Syeikh
al Albaani mengomentari kalimat di atas dengan: “kamu ketahui tentang apa yang
aku kutip dari Syeikh Ibnu Taimiyah, yaitu bahwa ulama berbeda pendapat tentang
hadis-hadis keutamaan malam nisfu Sya’ban. Kebanyakan hadis tentang keutamaan
itu adalah haq, karena sebagiannya ada yang tsabit/ kuat. Penyandaran
hadis-hadis dhoif kepada ulama secara mutlak, yang dilakukan oleh
penyusun Risalah ini, seharusnya tidak begitu. Dikarenakan tidak
harus-mensikapi keutamaan nisfu Sya’ban itu- dengan mengkhususkan solat, dengan
gerakan tertentu, yang memang tidak dikhususkan oleh pembuat syari’at. Karena
jika mengkhususkan tersebut merupakan hal bid’ah yang wajib dijauhi, sementara kita
harus berpegang dengan sahabat dan ulama salafus soleh. Sebagaimana
dijelaskan dalam syi’ir.
وكل خير في إتباع من سلف # وكل شر بإبتداع من خلف
“setiap
kebaikan itu adalah mengikuti ulama-ulama salaf # dan setiap keburukan adalah
dengan melakukan hal-hal baru dari ulama-ulama kholaf”
Maka
dari itu, sangat bagus sekali apa yang dituliskan oleh penyusun Risalah: “amma
ihyaa-ul insaan ….bid’atun”, pernyataan ini ketika menghidupkannya dengan
bentuk dan tatacara khusus, sebagaimana dijelaskan di atas. Sebenarnya dari
redaksi itu tidak ada larangan syari’at, ketika melakukan ibadah pada malam itu
sesuai dengan semangat pembuat syari’at secara mutlak, dan itu akan dinilai
merupakan bagian dari menghidupkan malam nisfu Sya’ban yang dibolehkan.
Lanjutnya
aku katakan: “andaikan semua hadis-hadis yang terkait dengan keutamaan nisfu
Sya’ban dinilai dhoif/lemah,-sebagaimana dipilih oleh penyusun Risalah
ini,-maka pemberlakukan pendapat tentang bolehnya beramal dengan hadis
dhoif/lemah secara mutlak itu karena dua sebab.
1. Adanya nas-nas yang soheh, yang memotivasi
melakukan ibadah di malam hari/ qiyamul lail secara mutlak, yaitu hadis
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
أيها الناس: أفشوا السلام،
وأطعموا الطعام، وصلوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام. أخرجه
الترمذي وصححه والدارمي وإبن ماجه وإبن نصر وأحمد والحاكم، وقال : صحيح على شرط
الشيخين، ووافقه الذهبي، وهو كما قال.
“wahai
manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah tali silaturrahim, dan
solatlah di malam hari disaat manusia tidur maka kamu nanti akan masuk ke dalam
syurga dengan penuh kedamaian”. HR. Imam Tirmidzi dan ia sohehkan, Imam
Daarimi, Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Nashr, Imam Ahmad dan Imam Hakim. Ia
berkata: hadis ini soheh sesuai syarat Imam Bukhari dan Muslim. Dan ini
disepakati oleh Imam Dzahabi
2. Beramal dengan hadis dhoif/lemah bagi ulama
yang membolehkan itu ada beberapa syarat yang wajib dijaga. Dan terkadang
mereka lalai dari semua itu.
a. Hadis tersebut tidak sampai derajat maudhu’
b. Orang beramal dengan hadis itu menyakini
kedhoifannya
c. Perbuatan dengan hadis dhoif itu tidak
dipublikasikan, agar orang lain tidak beramal dengan hadis dhoif, sehingga ia
anggap itu syari’at, atau sebagian orang bodoh menilainya itu hadis soheh.[8]
Selanjutnya
ulama al Azhar menuliskan dalam Risalah itu:
أما إحياء الإنسان لهذه
الليلة وحده بالعبادة المطلقة- في جملة ما تيسر له إحياؤه من ليال- رجاء أن يكون
لها في إستجابة الدعاء وقبول العبادة المزية التي وردت في أحاديث فضلها، فليس فيه
من بأس.
وهذه الأحاديث تكفي داعيا
للإقبال فيها على العبادة، وتنفى أن يكون قيام الرجل فيها- بشيء من العبادة
المطلقة عن التقييد بعدد معين أو هيئة مخصوصة- بضعة، وإن لم تبلغ هذه الأحاديث
درجة الصحيح.
وعلى هذا فليس على المسلم من
حرج في إحياء هذه الليلة – منفردا مع ربه – بمختلف أنواع العبادة – من صلاة، وذكر،
وقراءة قرأن، ودعاء الأدعية المأثورة الصحيحة – : فإن ذلك أرجى للقبول.
“adapun menghidupkan malam nisfu Sya’ban saja dengan beribadah
secara mutlak –artinya ibadah-ibadah yang mudah ia lakukan di beberapa malam
–karena mengharap diijabahnya doa, diterimanya ibadah yang dilakukan karena hadis
fadhilah nisfu Sya’ban tersebut, maka tidak mengapa hal itu dilakukan.
Hadis-hadis
ini cukuplah menjadi pengajak/pemotivasi umat untuk menghadapi malam nisfu
Sya’ban dengan ibadah, dan meniadakan anggapan bid’ah saat orang-orang
melakukan ibadah mutlak. Sekalipun hadis ini tidak sampai derajat shoheh.
Berdasarkan
ini, maka tidak mengapa bagi kaum muslimin menghidupkan malam nisfu
Sya’ban,-sendirian bersama Rabb-nya,-dengan berbagaimacam
ibadah,-seperti sholat, dzikir, membaca al Qur’an, berdoa dengan doa yang
diajarkan Rasul lagi shoheh,-dikarenakan semuanya itu lebih berpeluang untuk
diterima.[9]
Senada
dengan ulama sebelumnya, Syeikh Abdullah al Ghumari pun menyatakan boleh dan
bahkan disunahkan menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan berbagai amalan. Dikarenakan
malam tersebut memiliki keutamaan dan keistimewaan. Akan tetapi beliau
menyatakan pula, bahwa membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dengan doa dan
permohonan khusus, serta doa-doa yang telah tersebar dikalangan orang awam,
yang menyalahi nas-nas shoheh, maka hal itu termasuk bid’ah munkaroh.
Dikhawatir dengan hal itu muncul adanya keyakinan, bahwa kemaksiatan akan
hilang cukup dengan doa dan permohonan seperti itu saja, tidak dengan
bertaubat.[10]
Sebenarnya
perlu dicermati dari redaksi beliau, bukan membaca surat Yasinnya yang
bermasalah, tetapi adanya penyertaan permohonan/ doa setelah membaca surat
Yasin dengan doa yang maknanya bermasalah, menyalahi nas soheh (maksudnya doa “yaa dzal manni
wa laa yumannu….”, dan diselingi dengan solat yang memang tidak
disyari’atkan.[11]
Dengan
demikian, ketika menuruti pemahaman adanya keutamaan malam nisfu Sya’ban, maka
hendaknya kita menjaga diri kita dan keluarga, serta kaum muslimin seluruhnya
agar jangan sampai melakukan kemusyrikan dan permusuhan yang belum meminta maaf
sampai datangnya malam nisfu Sya’ban. Dikarenakan dua ini tidak akan diampuni
oleh Allah Ta’ala, kecuali setelah ia bertaubat kepada Allah. Padahal malam
itu, seluruh makhluk Allah Ta’ala mendapatkan ampunan darinya. Maa syaa
Allah…
Kebalikan
dari itu, hendaklah orang beriman mengkonsentrasikan dirinya pada malam nisfu
Sya’ban untuk berdzikir kepada Allah, berdoa memohon ampunan dosa, tertutub aib
dan cela/kekurangannya, dan diluangkan segala kesulitannya. Sebelum memohon itu
semua, hendaklah ia bertaubat kepada Allah atas segala dosa yang pernah
dilakukan. Inilah yang diarahkan oleh Imam Ibnu Rajab al Hanbali.[12]
Sebagai
ajakan, marilah kita isi malam nisfu Sya’ban dengan ibadah kepada Allah, baik
secara berjama’ah ataupun sendiri-sendiri di masjid atau dirumah-rumah. Membaca
al-Qur’an dengan surat yang tidak ditentukan, karena memang tidak dijelaskan
dalam hadis khusus terkait itu, dan dengan jumlah yang tidak ditentukan pula.
Tentunya,
bagi satu daerah yang membiasakan dengan surat Yasin sebanyak tiga kali, maka
janganlah disandarkan bahwa perbuatan itu bagian dari hal yang diperintahkan
oleh Nabi pada malam itu. Dikarenakan tidak ada hadis yang menjelaskan tersebut
secara khsus.
Bagi
yang tidak menjalankan kegiatan ini, maka janganlah sekali-kali mencela dan
memaki saudara-saudara yang menjalankannya, sehingga menimbulkan permusuhan dan
putus silaturrahim. Ini adalah ijtihad dari ulama-ulama terdahulu, yang kita
dapat kaji dari karya-karya mereka secara bijaksana.
[1] Ibnu Rajab al Hanbali, Latha-iful
Ma’arif, (Mesir: Daaru al Hadis, 2002) h. 188
[2] Abdullah Bassaam, Taudhihul Ahkam min
Buluughil Maraam, (Mekkah: Maktabah Asadi, 2003) h. 442
[3] Ibnu Rajab al Hanbali, h. 188
[4] Syeikh
Abdullah bin Muhammad al Ghumari, Husnu al Bayan fi Lailati an Nishfi min
Sya’baan, (Beirut: ‘Alamu al Kutub, 1985) cet. 2 h. 9
[5] Ibnu Rajab al Hanbali, hal. 190
[6] Syeikh
Abdullah bin Muhammad al Ghumari, h. 10
[7] Ulama
al Azhar, ash Shiratu al Mustaqiim: Risaalatun fiimaa Qarrarahu ats Tsiqaatu al
Atsbaatu fi Lailati an Nishfi min Sya’baan, (Mesir: Daar al Kutub, 2011) cet. 1
h.60
[8] Syeikh al Albaani, dalam Takhrij
hadis Risalah “ash Shiratu al Mustaqiimh: Risaalatun fiimaa Qarrarahu ats
Tsiqaatu al Atsbaatu fi Lailati an Nishfi min Sya’baan”, (Mesir: Daar al Kutub,
2011) cet. 1 h.60-61
[9] Ulama al Azhar, ash Shiratu al
Mustaqiimh, h.64
[10] Syeikh Abdullah bin Muhammad al
Ghumari, h. 35
[11] Dapat dilihat dalam kitab Hushnul
Bayaan, h. 19 dan 23
[12]
Ibnu Rajab al Hanbali, h. 192






