Hajar;
Istri, Ibu sekaligus Guru Teladan
Hajar merupakan hadiah raja Mesir untuk Sarah. Ia diberikan untuk membantu Sarah selama perjalanan pengembaraannya bersama Ibrahim ‘alaihis salam. Setelah Sarah menyadari kondisinya yang sudah semakin tua, saat itu usianya 77 tahun dan Ibrahim 87 tahun.[1] Ia mengatakan kepada suaminya Ibrahim, “sepertinya Allah tidak menakdirkan aku memiliki anak, maka silahkan anda menikahi budak yang dihadiahkan untuk ku, semoga bersamanya Allah memberikan kamu rizki berupa anak”.[2]
Setelah Ismail lahir, Allah ta’ala memerintahkan mereka untuk pergi
hijrah ke Mekkah al Mukaromah. Berangkatlah mereka, dari Palestin menuju Mekkah
al Mukarromah. Lalu ditempatkan Hajar
dan Ismail di samping Baitullah, dengan tenda yang berdiri di atas tanah yang
akan mengeluarkan air zamzam, di tanah yang lebih tinggi dari masjidil haram.
Daerah tersebut tidak berpenghuni kecuali mereka berdua, tidak ada tumbuhan dan
air mengalir. Keduanya dibekali Nabi Ibrahim dengan sekantung kurma dan air.
Setelah keduanya dinyatakan aman oleh Ibrahim di tempat tersebut,
lalu Ibrahim berangkat kembali menuju Palestin untuk menunaikan dakwah,
perintah Allah Ta’ala. Ketika berangkat, Hajar berkata, “kemana hendak pergi
wahai Ibrahim? Kau tinggalkan kami berdua di tempat ini, yang tidak berpenghuni
dan terdapat tumbuhan serta air?”. Ibrahim tidak menoleh sedikit pun, hingga
akhirnya Hajar mengatakan “apakah Allah yang memerintahkan engkau?” jawab
Ibrahim “iya, betul Allah yang memerintahkan”. Lalu Hajar mengatakan “jika
demikian, berarti Allah tidak menyia-nyiakan kami”. Setelah itu Hajar pun
kembali menuju tendanya, hidup berdua bersama Isma'il sampai dengan sepuluh
atau tiga belas tahun lamanya.[3]
Kondisi
Istri Zama Now
Luar biasa Hajar, wanita solehah lagi super. Begitu kuat
keimanannya kepada Allah sehingga ia dengan yakin mengatakan “jika demikian
Allah tidak menyia-nyiakan kami”. Padahal saat itu beliau tahu bahwa daerah
tersebut tidak berpenghuni kecuali beliau dan anaknya. Ia tahu bahwa daerah
tersebut tidak ada tumbuhan dan juga air untuk minum dan kebutuhannya
sehari-hari. Ia pun tahu, bahwa hidup di padang tandus saat malam itu sangat
berisiko besar, baik dari orang jahat atau lainnya. Tetapi karena suaminya
mendapat perintah dari Allah, maka ia yakin ia dan anaknya pun akan dijamin
oleh Allah, dan tidak disia-siakan
Jika kita perhatikan wanita/istri zaman now kali ini, akankah kita
temui sosok seperti Hajar yang kuat iman dan keyakinannya kepada Allah Ta’ala?.
(biarkan wanita/istri yang menjawabnya, walaupun di dalam hati).
Fenomena saat ini, terlebih lagi dengan kecanggihan alat komunikasi
dan elektronik yang luar biasa. Bukan hanya dimiliki oleh wanita karir dengan
segudang kesibukannya, tetapi oleh ibu-ibu kampung pun saat ini sudah mulai
eksis dalam dunia medsos, terlaalu..! Parahnya lagi, karena memang baru
mengenal dunia tersebut, apa saja ditulis dalam statusnya, sebagai informasi
eksistensi dan agar tidak dinilai ketinggalan zaman. Akhirnya, sampai pada foto bersama
batu nisan bernama di pekuburan, anak jatuh dan memar, hasil masakan dan
pertemuan, tak ketinggalan untuk di-upload ke media sosial tersebut. Astaghfirullah…
Pada tahun 2016 terdapat hasil penelitian yang dirilis The Journal
of Experimental Social Psychology, bahwa 90% wanita tetap akan mengejar pria
yang disukainya meskipun tahu bahwa pria itu telah memiliki istri. Kenapa hal
ini terjadi? Dikarenakan mereka merasa senang dengan hadiah-hadiah yang
diberikan. Artinya kecendrungan akan materi, baik mengakibatkan merusak
keluarga orang lain atau tidak taat kepada suaminya itu menjadi fenomena yang
ada saat ini.
Ada temuan lain, dari seorang profesor psikologi sosial di
Northwestern University, Eli Finkel, ia menyatakan bahwa terlalu idealis dan
memiliki ekspektasi tinggi terhadap pasang menjadi penyebab utama seorang
wanita meminta cerai kepada suaminya. Hal ini bisa kita dapati pada wanita
karir yang super sibuk, alih-alih membantu suaminya dalam ekonomi keluarga,
akhirnya ia menjadi lebih dominan dan banyak meninggalkan kewajibannya sebagai
istri. Bahkan tidak sedikit anak yang terbengkalai dikarenakan kesibukannya
dengan dunia karir tersbut.
Ia tidak merasakan cukup atas apa yang diberikan suami. Ia selalu
mengeluh jika suami mendapatkan penghasilan kurang terlebih lagi tidak sama
sekali. Senantiasa mempermasalahkan kepergian suami yang tidak membawa
“tentengan” saat pulang. Menghambat suami dalam melaksanakan tugas dan
kewajibannya, serta lain sebagainya. Pada intinya, ada sikap istri yang tidak
memliki keimanan dan keyakinan tinggi kepada Allah, dikarenakan pola pergaulan
dan interaksi western yang dilaksanakan, sehingga tumpuan utamanya adalah
ketakutan, akal lemah, dan kemewahan.
Sikap
Ismail Cerminan Pendidikan Hajar yang Mengakar
Sikap Ismail yang terekam di dalam al Qur’an saat bertemu ayahnya
menjadi bukti yang sangat kuat, bahwa hal itu dikarenakan didikan yang sangat
luar biasa dari orang yang saat itu ada bersamanya, yaitu Ibunda tercinta,
Hajar. Apa saja sikap Ismail yang dapat kita pelajari, diantaranya adalah:
1.
Pemberani
Ismail sangat pemberani, ia tahu
bahwa ketika ia ditawari akan disembelih ayahnya, ia akan kehilangan nyawanya,
ia tidak akan berjumpa lagi pada ibundanya, ia tidak akan menikmati permainan
di masanya, dan pastinya ia tahu bahwa disembelih dengan menggunakan benda
tajam itu sangat menyakitkan.
Tetapi hal itu tidak membuatnya
takut dan mundur, melainkan semakin maju dan dengan tegas ia katakan,
“laksanakan saja wahai ayahku apa yang engkau diperintahkan oleh-Nya,
mudah-mudahan engkau dapati aku menjadi orang-orang yang sabar” [ash
shaffat/37:102]
Didikan inilah yang ditanamkan oleh ibundanya pada Ismai’l, terlebih lagi saat ia berdua berada di padang tandus yang tidak memiliki tumbuhan dan air saat itu. Ia hidup berdua tanpa sosok ayah yang menjaga dan mendaminginya di saat membutuhnyannya.
2.
Sabar
Ia tahu itu perintah rabb-nya,
Dzat yang selalu ia sembah dan puja. Apa pun yang menjadi perintah-Nya wajib
ditaati dan tidak boleh dimaksiati. Ia tahan dirinya untuk memberontak dan
mengelak apa yang ditawari oleh ayahnya. Karena ia tahu, Allah pasti bersama
orang-orang yang melakukan ketaatan.
3.
Sopan-santun
Pertemuan dengan ayahnya setelah sepuluh atau tiga belas tahun berjalan. Secara langsung ia tidak dididik oleh ayahnya, karena ayahnya harus berangkat berdakwa ke Palestin. Ketika bertemu, dan berdialog ringan, ayahnya dengan berat hati menyampaikan hasil mimpinya semalam, ia katakan “nak, aku bermimpi semalam bahwa aku menyembelih kamu, bagaimana pendapatmu?”. Ismail dengan tegas dan penuh sopan-santun menjawab, padahal ia baru saja bertemu dengan ayahnya setelah lama berpisah. Ismail menjawab “wahai ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada mu, mudah-mudahan kau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar”. Jawaban yang sangat luar biasa dari seorang anak yang ia sudah tahu bahwa disembelih itu akan menyebabkan ruhnya hilang, dan ia meninggal.
4.
Iman
yang kuat
Memang atas dasar inilah langkah itu
akan terus maju, dan pantang mundur. Hal ini diutamakan pendidikannya oleh
ibunda tercinta, Hajar. Hal ini terlihat, bagaimana Hajar dahulu mengatakan hal
yang luar biasa kepada Ibrahim ketika hendak berangkat dakwah menuju Palestin.
Hajar mengatakan “jika memang perintah Allah, maka pasti Ia tidak
menyia-nyiakan kami”. Padahal saat itu Hajar tahu, bahwa daerah itu tandus, tak
berpenghuni, perbekalan sangat minim, dan penuh bahaya terlebih saat malam
hari. Tetapi ketika ia yakin Allah pasti menolongnya, tidak sedikit pun rasa
takut itu menghinggap di dalam hati sanubarinya. Iman kuat, akan memudahkan
kesuksesan dan kebahagiaan.
Refleksi
diri
Dapat dipastikan tidak ada orangtua yang mau anaknya begajulan,
pemaksiat, pembangkang, dan lain sebagainya. Kedua orangtua akan sangat
mengharapkan anaknya menjadi penyejuk pandangan matanya, penghibur hati yang
lara, dan penyemangat hidupnya. Anak yang indah dan menyenangkan dalam berucap
dan bersikap. Yaitu anak yang soleh, yang didambakan oleh orangtuanya.
Akankah itu hanya menjadi harapan saja, harapan hampa atau isapan
jempol? Kita yang harus membuktikan.
Suami mendidik istri, istri mendidik anak-anaknya. Sayang jika
lulusan terbaik dan bahkan S3 dibindangnya, bersusah payah menggoalkan
pekerjaan dan amanahnya di luar, tetapi anaknya diserahkan pada si “mba”, si
“simbo”, atau si “mpo”, yang memang secara kompetensi pendidikan jauh dengan
orangtuanya. Akankah hal ini dilakukan oleh orangtua yang insaf dan sadar bahwa
ia menginginkan anaknya yang soleh?.
[1] https://www.albayan.ae/across-the-uae/2005-12-30-1.130954
[2] Ibnu Katsir,
Qashahsul Anbiya, h. 182, Cet. Maktabah Thalib Jami’I, Mekkah.
[3] Qashahsul
Anbiya, h. 185






