Saat lebaran
haji, tidak sedikit masyarakat yang melakukan pencacahan daging kurban di dalam
masjid (mushalla). Sehingga masjid menjadi kotor, adakalanya dengan sebab najis
(kencing dan tahi dari bagian tubuh hewan) atau bau yang kurang sedap.
Tentang masjid,
Islam memberikan aturan dan arahan, seperti :
1. Menjaga kebersihan dan membuatnya harum
Sayyidah
‘Aisyah berkata:
أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم ببناء المساجد في
الدور، وأن تنظف وتطيب
“Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami membangun masjid di
kampung-kampung (kabilah), lalu menjaga kebersihan dan keharumannya”. HR.
Imam Abu Daud, 455., Imam Tirmidzi, 594., Ibnu Majah, 758
Hadis di atas
menganjurkan, bahwa masjid harus dibersihkan dari kotoran, bau tidak sedap,
tahi dan debu. Selanjutnya diberikan pengharum dengan cara memercikan atau
menyemprotkan. Boleh juga dengan mengasapi, seperti membakar bukhur.
Imam Ibnu
Ruslan mengatakan : “boleh menggunakan parfum laki-laki yang disemprotkan ke
area masjid, yaitu parfum yang warnanya tidak mencolok tetapi memiliki wangi
yang tercium harum”.[1]
2. Meludah, segera
membersihkannya
Hadis Anas bin
Malik, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
البصاق في المسجد خطيئة وكفارتها
دفنها
“meludah
di dalam masjid merupakan kesalahan. Tebusannya adalah menguburkannya
(membersihkannya)”. HR. Imam Bukhari, 415., dan Imam Muslim, 552
3. Setelah makan
bawang, jangan ke masjid
Hadis Jabir bin
Abdillah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من أكل
من هاتين الشجرتين المنتنتين البصل والكراث فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى
مما يتأذى منه بنو
آدمَ
“barang
siapa yang makan dua pohon ini, yang baunya tidak sedap, seperti bawang merah
dan bawang kurrats, maka janganlah dekati masjid kami. Sesungguhnya malaikat
merasa tidak nyaman/terganggu dikarenakan bau yang dimunculkan oleh manusia”
HR. Imam Bukhari, 854., Imam Muslim, 564, Imam Tirmidzi, 1806, Imam Nasai, 707,
Imam Abu Daud, 3822.
4. Buang air kecil
di pinggir masjid, segera siram.
Hadis
Anas bin Malik, ia menceritakan:
جَاءَ أعْرَابِيٌّ فَبَالَ في طَائِفَةِ المَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ، فَنَهَاهُمُ النبيُّ صَلَّى اللهُ
عليه وسلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أمَرَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ
بذَنُوبٍ مِن مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عليه
“datang
orang arab kampung lalu buang air kecil di pinggir masjid. Kemudian sahabat
melarangnya, akan tetapi Nabi menahan mereka (agar tidak melanjutkan larangan
tersebut). Tatkala orang kampung itu selesai, Nabi memerintahkan sahabat untuk
mengambil satu gayung (besar) berisikan air, lalu diguyurkan pada (bekas) buang
air kecil”. HR. Imam Bukhari, 221., Imam Muslim, 284
Dari beberapa
hadis di atas dapat difahami, bahwa masjid yang menjadi tempat beribadah dan
munajat kepada Allah wajib dijaga kebersihannya dari najis, dan sunah dari
selainnya, serta menjaga keharumannya.
Jika terkena
najis, maka segera bersihkan dan sucikan, sebagaimana hadis Anas tentang
seorang arab kampung (Dzul Khuwaisharah al Yamani) yang buang air kecil di
pinggir masjid.[2]
Jika kotoran
biasa, seperti debu dan bau tidak sedap, maka hendaknya segera dibersihkan. Bahkan
menghindari akan tercemarnya dari hal-hal itu, Rasulullah sangat menjaganya, seperti
dilarangnya hadir ke masjid jika habis makan bawang atau makanan yang
menimbulkan bau tidak sedap.
Sebab larangan
tersebut adalah akan membuat tidak nyaman para malaikat dan kaum muslimin.
Walaupun ia hadir sendirian di masjid.[3] Begitu juga
dengan bau yang lainnya.
Dengan demikian,
sudah sepantasnya bagi kaum muslimin yang melaksanakan kegiatan kurban,
hendaklah mereka mencari tempat yang layak, yang tidak memberikan pengaruh ke
masjid. Usaha penjagaan lebih diutamakan, seperti penjagaan dari bau bawang.
Bagaimana jika
diserambi masjid? Imam Ibnu Hajar mengatakan:
حكم
رحبة المسجد وماقرب منها حكمه، ولذلك كان صلى الله عليه وسلم إذا وجد ريحها في
المسجد أمر بإخراج من وجدت منه إلى البقيع كما ثبت في مسلم عن عمر رضي الله عنه
“hukum lorong atau area yang berdekatan dengan masjid (seperti
serambi masjid) adalah seperti hukum masjid. Karena sebab itu, apabila Rasul
mendapati bau tidak sedap di dalam masjid, maka ia perintahkan mengeluarkan
orang yang kedapatan bau tersebut ke Baqi’. Hal ini sebagaimana terdapat dalam
hadis Imam Muslim dari Umar bin Khattab semoga Allah meridhoinya”.[4]
[1] Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Daud, Abu Thayib Muhammad Syamsul Haq al
‘Azhiim Abaady, j. 1 h. 440. Cet.Daarul Hadis, Mesir.
[2] Subulus salam syarah Bulughul Maram, Imam Shan’ani, j. 1 h. 24. Cet. Daar
al Kutubul Ilmiyah, Libanon.
[3] Fathul Baari bi syarhi Shoheh Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani, j.
2 h. 396. Cet, Daar al Hadis, Mesir.
[4] Fathul Baari bi syarhi Shoheh Bukhari, Imam Ibnu
Hajar al ‘Asqalani, j. 2 h. 397. Cet, Daar al Hadis, Mesir






