skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Rabu, 15 Juli 2020

Mencacah daging kurban di dalam masjid, bolehkah?

Posted by bangzaman on Juli 15, 2020 – 0 komentar
 

Saat lebaran haji, tidak sedikit masyarakat yang melakukan pencacahan daging kurban di dalam masjid (mushalla). Sehingga masjid menjadi kotor, adakalanya dengan sebab najis (kencing dan tahi dari bagian tubuh hewan) atau bau yang kurang sedap.

Tentang masjid, Islam memberikan aturan dan arahan, seperti :

1. Menjaga kebersihan dan membuatnya harum

Sayyidah ‘Aisyah berkata:

أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم ببناء المساجد في الدور، وأن تنظف وتطيب

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami membangun masjid di kampung-kampung (kabilah), lalu menjaga kebersihan dan keharumannya”. HR. Imam Abu Daud, 455., Imam Tirmidzi, 594., Ibnu Majah, 758

Hadis di atas menganjurkan, bahwa masjid harus dibersihkan dari kotoran, bau tidak sedap, tahi dan debu. Selanjutnya diberikan pengharum dengan cara memercikan atau menyemprotkan. Boleh juga dengan mengasapi, seperti membakar bukhur.

Imam Ibnu Ruslan mengatakan : “boleh menggunakan parfum laki-laki yang disemprotkan ke area masjid, yaitu parfum yang warnanya tidak mencolok tetapi memiliki wangi yang tercium harum”.[1]

2. Meludah, segera membersihkannya

Hadis Anas bin Malik, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

البصاق في المسجد خطيئة وكفارتها دفنها

“meludah di dalam masjid merupakan kesalahan. Tebusannya adalah menguburkannya (membersihkannya)”. HR. Imam Bukhari, 415., dan Imam Muslim, 552

3. Setelah makan bawang, jangan ke masjid

Hadis Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أكل من هاتين الشجرتين المنتنتين البصل والكراث فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدمَ

“barang siapa yang makan dua pohon ini, yang baunya tidak sedap, seperti bawang merah dan bawang kurrats, maka janganlah dekati masjid kami. Sesungguhnya malaikat merasa tidak nyaman/terganggu dikarenakan bau yang dimunculkan oleh manusia” HR. Imam Bukhari, 854., Imam Muslim, 564, Imam Tirmidzi, 1806, Imam Nasai, 707, Imam Abu Daud, 3822.

4. Buang air kecil di pinggir masjid, segera siram.

Hadis Anas bin Malik, ia menceritakan:

جَاءَ أعْرَابِيٌّ فَبَالَ في طَائِفَةِ المَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ، فَنَهَاهُمُ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أمَرَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ بذَنُوبٍ مِن مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عليه

“datang orang arab kampung lalu buang air kecil di pinggir masjid. Kemudian sahabat melarangnya, akan tetapi Nabi menahan mereka (agar tidak melanjutkan larangan tersebut). Tatkala orang kampung itu selesai, Nabi memerintahkan sahabat untuk mengambil satu gayung (besar) berisikan air, lalu diguyurkan pada (bekas) buang air kecil”. HR. Imam Bukhari, 221., Imam Muslim, 284

Dari beberapa hadis di atas dapat difahami, bahwa masjid yang menjadi tempat beribadah dan munajat kepada Allah wajib dijaga kebersihannya dari najis, dan sunah dari selainnya, serta menjaga keharumannya.

Jika terkena najis, maka segera bersihkan dan sucikan, sebagaimana hadis Anas tentang seorang arab kampung (Dzul Khuwaisharah al Yamani) yang buang air kecil di pinggir masjid.[2]

Jika kotoran biasa, seperti debu dan bau tidak sedap, maka hendaknya segera dibersihkan. Bahkan menghindari akan tercemarnya dari hal-hal itu, Rasulullah sangat menjaganya, seperti dilarangnya hadir ke masjid jika habis makan bawang atau makanan yang menimbulkan bau tidak sedap.

Sebab larangan tersebut adalah akan membuat tidak nyaman para malaikat dan kaum muslimin. Walaupun ia hadir sendirian di masjid.[3] Begitu juga dengan bau yang lainnya.

Dengan demikian, sudah sepantasnya bagi kaum muslimin yang melaksanakan kegiatan kurban, hendaklah mereka mencari tempat yang layak, yang tidak memberikan pengaruh ke masjid. Usaha penjagaan lebih diutamakan, seperti penjagaan dari bau bawang.

Bagaimana jika diserambi masjid? Imam Ibnu Hajar mengatakan:

حكم رحبة المسجد وماقرب منها حكمه، ولذلك كان صلى الله عليه وسلم إذا وجد ريحها في المسجد أمر بإخراج من وجدت منه إلى البقيع كما ثبت في مسلم عن عمر رضي الله عنه

“hukum lorong atau area yang berdekatan dengan masjid (seperti serambi masjid) adalah seperti hukum masjid. Karena sebab itu, apabila Rasul mendapati bau tidak sedap di dalam masjid, maka ia perintahkan mengeluarkan orang yang kedapatan bau tersebut ke Baqi’. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis Imam Muslim dari Umar bin Khattab semoga Allah meridhoinya”.[4]



[1] Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Daud, Abu Thayib Muhammad Syamsul Haq al ‘Azhiim Abaady, j. 1 h. 440. Cet.Daarul Hadis, Mesir.

[2] Subulus salam syarah Bulughul Maram, Imam Shan’ani, j. 1 h. 24. Cet. Daar al Kutubul Ilmiyah, Libanon.

[3] Fathul Baari bi syarhi Shoheh Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani, j. 2 h. 396. Cet, Daar al Hadis, Mesir.

[4] Fathul Baari bi syarhi Shoheh Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani, j. 2 h. 397. Cet, Daar al Hadis, Mesir

 


Label: Artikel, Fikih Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Leave a Reply

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ▼  Jul (12)
      • Membuat semua orang puas atau senang? Tidak akan bisa
      • Pakaian terkena darah kurban untuk salat, sahkah?
      • Waktu Pelaksanaan Salat Jum'at
      • FIKIH 10 HARI DZUL HIJJAH # 1
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 2
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 3
      • Mencacah daging kurban di dalam masjid, bolehkah?
      • Kurban untuk istri atau anak, bolehkah?
      • Bercermin pada Hajar, Raih Pendidikan Akhlak yang ...
      • Pekurban harus tahu hal ini
      • Khutbah Idul Adha 1441H; Ujian Kita Belum Seberapa
      • Jika berkumpul dua hari Ied, Maka?
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger