Selanjutnya,
di
antara amalan yang disunahkan pada bulan Dzul Hijjah adalah, takbir dan dzikir.
Pada ayamul ‘asyar, takbiran
bisa dimulai tanggal 1 Dzulhijjah, inilah yang disebut dengan takbir mutlak,
artinya dapat dilakukan kapan saja kecuali setelah sholat wajib, karena pada
waktu itu belum disunahkan untuk takbiran.
Berkaitan dengan takbiran
di 10 hari Dzulhijjah Imam Bukhari berkata:
وكان إبن عمر وأبو هريرة يخرجان إلى السوق في أيام العشر
يكبران ويكبر الناس بكتبيرهما، وكبر محمد بن علي خلف النافلة.
“dahulu Ibnu
Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada 10 hari Dzulhijjah. Keduanya
bertakbir lalu manusia bertakbir mengikutinya. Bahkan Muhammad bin ‘Ali
mensunahkan takbiran setelah sholat sunah”.
Atsar Ibnu Umar dan Abu Hurairah tersebut,
sebagaimana dituliskan Imam Bukhari dalam sohehnya itu berkaitan dengan perkataan
Abdullah bin Abbas tentang makna ayyaamun ma’duudaat untuk hari tasyriq dan
ayyaamun ma’luumaat untuk 10 hari Dzulhijjah, pada bab yang dibuat oleh
beliau, baab fadhlil ‘amal fi ayyaamit tasyriiq/ bab keutamaan beramal
pada hari tasyhriq.
Pada tarjamah yang
dilakukan Imam Bukhari ini, menurut pendapatnya Imam al Kirmaani, merupakan
kebiasaan beliau di dalam kitab sohehnya menyandarkan hal yang memiliki
kedekatan penggunaan atau kegiatan.
Imam Ibnu Hajar memahami,
bahwa Imam Bukhari ingin mempersamakan antara dua istilah hari tersebut, dikarenakan
pada keduanya terdapat kegiatan-kegiatan amalan haji yang saling berkaitan.[1] Maka dari itu, takbir pada ayamul
‘asyr disunahkan sebagaimana disunahkan pada ayamut tasyhriq. Imam at Thohawi
mengatakan: “para guru kami berpendapat, bahwa pada ayamul ‘asyr itu dibolehkan
membaca takbir”.[2]
Dalam hadis yang
diriwayatkan Imam Thabrani dijelaskan:
مامن أيام أعظم عند الله ولا أحب إلى الله العمل فيهن من
أيام العشر فأكثروا فيهن من التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير.
“tidak ada
hari yang paling mulia di sisi Allah, dan tidak ada amal perbuatan yang paling
disukai oleh Allah yang dilakukan pada hari itu melainkan 10 hari Dzulhijjah.
Maka dari itu, perbanyaklah bertasbih, tahmid, tahlil dan takbir pada hari itu”.[3]
Hadis ini menjelaskan
tentang kesunahan berdzikir kepada Allah Ta’ala pada hari ‘asyr, yaitu 10 hari
bulan Dzuhijjah, inilah yang disebut dengan dzikir mutlak.
Adapun dzikir/takbir
muqoyad untuk iedul adha maka ulama berbeda pendapat tentang awal dimulainya.
Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitabnya Irsyaadul Faqiih; menurut
pendapat madzhab, mulai disunahkanya takbir setelah sholat Zuhur pada hari
Nahr, 10 Dzulhijjah dan berakhir setelah sholat Shubuh pada tanggal 13
Dzulhijjah. Pendapat ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah,
sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau
(bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang
yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia", dan
Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”. QS. Al
Baqoroh/2:200
Pada ayat ini dijelaskan,
bahwa perintah berdzikir, maksudnya adalah takbiran setelah selesai ibadah
haji. Tidak diragukan lagi bahwa selesainya manasik haji itu Zhuhur pada hari
Nahar, 10 Dzulhijjah, dan manusia yang tidak berhaji itu mengikuti orang-orang
yang melaksanakan haji. Sedangkan akhirnya itu adalah setelah sholat Shubuh
hari terakhir tasyrik. Inilah yang diarahkan oleh Imam Syafi’i.[4] Imam Nawawi mengatakan: “ini
merupakan pendapat masyhurnya Imam Syafi’i, dan menjadi nash untuk kebanyakan
kitab-kitab Imam Syafi’i.[5] ia melanjutkan, pendapat ini
merupakan pendapat yang paling kuat menurut mayoritas ulama Syafi’i. Walaupun
ada ulama Syafi’i yang tidak sepakat akan hal itu, inilah khilafiyah.[6]
Ada pendapat lain
mengatakan, bahwa disunahkannya takbir muqayyad itu pada malam iedul Adha,
setelah matahari terbenam, dikias dengan iedul fitri, dan berakhir setelah Shubuh
hari terakhir tasyrik.
Pendapat ketiga menyatakan
bahwa dimulainya kesunahan takbir itu pada Shubuh hari ‘Arofah dan berakhir
setelah Ashar pada hari terakhir hari tasyrik. Ini merupakan amaliyah manusia
saat ini dan di kota-kota besar, dan ini pada sebagian murid-muridnya Imam
Syafi’i pendapat yang diunggulkan dan dipilih.
Pendapat ketiga ini
berpegang dengan hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Muhammad bin Abi
Bakar ats Tsaqofy:
سألتُ أنسًا ، ونحنُ غاديَانِ من مِنًى إلى عرفاتٍ، عن التلبيةِ : كيفَ كنتم تصنعونَ مع النبيِّ
صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ؟ قال : كان يُلَبِّي المُلَبِّي لا يُنْكَرُ عليهِ ،
ويُكبِّرُ المُكَبِّرُ فلا يُنْكَرُ عليهِ .
“aku bertanya kepada
Anas bin Malik, dan kami saat itu sedang berangkat dari Mina ke ‘Arofat di pagi
hari. Tentang orang yang bertalbiyah, bagaimana kamu bersikap bersama Nabi saat
itu? Ia berkata: ia, Nabi bertalbiyah bersama orang yang bertalbiyah dan tidak
mengingkarinya, dan ia bertakbir bersama orang yang bertakbir dan tidak
mengingkarinya”. HR. Imam Bukhari, 970
Hadis ini menunjukkan
bahwa Nabi dan sahabatnya bertakbir pada hari ‘Arofah, yaitu 9 Dzulhijjah.[7] Dan inilah pendapatnya Imam Baihaqi,
Imam Nawawi, Imam Abul Abbas bin Suraij, al Qadhi Abu Thayb, Imam al Muzani dan
lain sebagainya.[8] Imam Baihaqi mengatakan: “berakhirnya
kesunahan takbir yaitu setelah sholat ‘ashar di hari terakhir tasyrik. Ini
berdasarkan riwayat Umar, Ali dan Ibnu Abbas, mereka melaksanakan takbiran
mulai dari waktu shubuh hari ‘Arofah dan berakhir sampai ashar hari terakhir
tasyrik.
Imam Baihaqi melanjutkan,
dijelaskan pula dalam hadis Abdurrahman bin Sabith dari Jabir,-semoga Allah
meridhoinya,- ia berkata:
كان النبي صلى الله عليه وسلم
يكبر يوم عرفة من صلاة الغداة إلى صلاة العصر، أخر ايام التشريق.
“dahulu
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertakbiran (iedul Adha) pada Shubuh
hari ‘Arofah sampai dengan ‘ashar hari terakhir tasyrik”.
Mulai dari hari Nahr
sampai dengan hari terakhir tasyrik, takbir disunahkan dibaca setelah sholat
wajib.*
Sekalipun sholat wajib yang dilakukannya itu sholat qodho, karena mungkin ia
ketiduran atau lainnya. Ini menurut pendapat yang soheh.[9]
Ulama berbeda pendapat
tentang kesunahan takbir di hari tasyrik setelah sholat sunah. Imam Syafi’i mengatakan
bahwa takbiran setelah sholat sunah itu disunahkan, bahkan setiap keadaan itu
pun disunahkan.[10] Mengikuti pendapatnya Imam Syafi’i,
ulama madzhabnya pun mengatakan demikian. Hal itu dikarenakan takbiran sebagai syi’ar
sholat, maka dari itu sholat sunah pun termasuk.
Berbeda dengan madzab
Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam ats Tsauri, Imam Ahmad bin
Hanbal, Imam Ishaq bin Rohawaih, dan Imam Abu Daud, mereka berpendapat bahwa
takbiran setelah sholat sunah tidak disunahkan. Dikarenakan sholat sunah itu
tabi’/ atau yang mengikuti sholat wajib.
Takbiran pada hari tasyrik
pun disunahkan bagi seseorang yang sholatnya munfarid/sendirian. Ini
pendapat ulama Syafi’i, ulama Maliki, Imam al Auza’i, Imam Abu Yusuf, Imam
Muhammad, dan mayoritas ulama, kecuali Imam Abu Hanifah. Ibnu al Mundzir
mengatakan, tidak disunahkan takbiran bagi seseorang yang sholatnya munfarid,
inilah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Imam ats Tsauri, Imam Abu Hanifah dan
Imam Ahmad bin Hanbal.
Kesunahan tersebut bukan
hanya untuk laki-laki saja, akan tetapi wanita pun disunahkan, yaitu setelah
sholat wajib dan sunah. Ini pendapat madzhab Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu
Yusuf, dan Imam Abu Tsaur.[11]
Imam Ibnu Hajar al
‘Asqolani mengatakan: “Imam Bukhari membuat fikih dalam babnya, dan ini adalah
pilihan beliau, ia mengatakan: takbir disunahkan setelah selesai sholat wajib,
baik ada’an atau pun qodho, atau pun juga setelah sholat sunah, baik laki-laki atau
pun perempuan, sama saja sholat berjama’ah ataupun sholat sendirian, saat mukim
ataupun musafir, dan tinggal di perkotaan ataupun pedesaan.[12]
Disunahkan dalam bertakbir
dengan suara yang kencang, tetapi tidak berteriak. Diriwayatkan dari Ibnu Umar:
أن النبي صلى الله عليه وسلم
كان يخرج في العيدين رافعا صوته في التكبير والتهليل
“sesungguhnya
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dahulu keluar untuk sholat ‘ied,
ia bertakbir dengan mengencangkan suaranya”. Sohehul Jami’, 4934, hasan.
Dahulu Umar bin Khattab
pun melakukan hal demikian, ia bertakbir di kubah miliknya di Mina, lalu
orang-orang yang berada di dalam masjid mendengarnya dan mengumandangkan takbir
bersama-sama, dan seluruh penghuni pasar bertakbir, suara mereka saling
menggetar satu dengan lainnya.[13]
Lapaz takbir yang
disunahkan untuk dibaca, yang paling soheh sesuai riwayat Abdurrazaq, dengan
sanad soheh dari Salman, ia berkata; “kabbirullaah, Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar Kabiiran/ bertakbirlah kepada Allah dengan “Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran”.
Menurut riwayat Umar, Ibnu
Mas’ud, dan ini pun menjadi pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Ishaq, lapaz
takbirnya adalah : ”Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illaallaahu
wallaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil hamd”.[14]
Imam Syafi’i berkata: “apa
yang ditambahkan dalam dzikir kepada Allah itu bagus”. Ia melanjutkan, “aku
sangat suka menambahkan dalam takbir setelah Allahu Akbar dengan:
كبيرا
والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه،
مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، لاإله إلا الله وحده، صدق وعده ونصر عبده وهزم
الأحزاب وحده، لا إله إلا الله والله أكبر.[15]
Maka
dari itu, marilah kita manfaatkan hari-hari yang istimewa dalam pandangan Allah
dan Rasul-Nya ini dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah. Semoga dzikir
tersebut memberikan manfaat buat kita dan lingkungan kita. orang yang
senantiasa berdzikir kepada Allah, maka Allah pun akan berdzikir/menyebut nama
kita.
[1] Fathul Baari bi syarhi Shoheh
al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h. 526. Cet. Daar al hadis,
Mesir.
[2] Fathul Baari bi syarhi Shoheh
al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h. 526.
[3]
At Targhiib wat Tarhiib, Imam al Mundziri, j.2
h. 194. Cet. Daar al Hadis, Mesir
[4]
Irsyadul
Faqiih ila Ma’rifati Adillatit Tanbih, Syeikh Ismail bin Katsir, j. 1 h. 208.
Cet.Muassasah ar Risalah
[5]
Majmu'
syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 37. Cet. Makabah at
Taufiqiyah.
[6]
Majmu'
syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 38
[7]
Irsyadul
Faqiih ila Ma’rifati Adillatit Tanbih, Syeikh Ismail bin Katsir, j. 1 h. 208
[8]
Majmu'
syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 38
*
setelah
selesai sholat, kemudian salam dan
langsung membaca takbir, sebagaimana takbir yang diajarkan dan
disunahkan oleh para ulama.
[9]
Majmu'
syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 38-39
[10]
Al
Umm, Imam Syafi’I, j. 2 h. 520. Cet. Daar al Wafa
[11]
Majmu'
syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 43
[12]
Fathul
Baari bi syarhi Shoheh al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h. 530
[13]
Fathul
Baari bi Syarhi Shoheh al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h. 529.
Masjmu’ syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 42.
[14]
Fathul
Baari bi Syarhi Shoheh al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h. 530
[15]
Masjmu’
syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi ad Dimasyq, j. 5 h. 42.






