skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Sabtu, 11 Juli 2020

FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 2

Posted by bangzaman on Juli 11, 2020 – 0 komentar
 

Setelah membahas haji dan umroh, diantara amalan Dzul Hijjah yang sunah dilaksanakan. Maka kita masuk pada pembahasan yang kedua diantara amalan-amalan yang disunahkan di bulan Dzul Hijjah, yaitu Puasa.

Puasa pada ayamul ‘asyar/ 10 hari Dzulhijjah merupakan hal yang sangat disunahkan oleh ulama, terlebih lagi pada tanggal 9 Dzulhijjah atau yang disebut dengan hari ‘Arofah. Terkait keutamaan ini (puasa di 10 hari Dzulhijjah) terdapat hadis umum dan khusus yang difahami oleh para ulama, diantaranya adalah:

Hadis Abdullah bin Abbas

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام، يعني أيام العشر، قالوا : يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، فلم يرجع من ذلك بشيء.

“dari Ibnu Abbas, ia berkata: bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “tidak ada hari dimana amal soleh lebih disukai oleh Allah Ta’ala kecuali hari ini, yaitu 10 hari di bulan Dzulhijjah. Sahabat bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana dengan jihad? Rasul menjawab: ya, begitu juga dengan jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar berjihad sambil membawa hartanya, tetapi tidak kembali sedikit pun, (ia syahid di jalan Allah”. HR. Abu Daud, 2435, hadis soheh. Imam Bukhari, 969, soheh, imam Tirmidzi, 757, soheh.

Imam Ad Daudi mengatakan: “hari-hari pada ayamul ‘asyr itu lebih utama dari pada hari-hari dalam satu tahun, sama saja apakah itu hari Jum’at atau bukan. Bahkan, hari Jum’at pada ayamul ‘asyr itu lebih utama dari pada hari Jum’at di luar itu, karena hari Jum’at pada ayamul ‘asyr itu mempunyai dua keutamaan, keutamaan Jum’at dan masuk ayamul ‘asyr”.

Selanjutnya Imam ad Daudi berdalil dengan hadis tersebut tentang keutamaan puasa pada 10 hari bulan Dzulhijjah, karena puasa itu masuk dalam kategori amal soleh sebagaimana disebutkan.

Masih menurut beliau, hadis Aisyah yang menjelaskan Nabi Muhammad tidak pernah puasa 10 hari di bulan Dzulhijjah, yaitu hadis riwayat Imam Abu Daud, 2436, Imam Tirmidzi, 756, dan Imam Ibnu Majah, 1729, bukan berarti Nabi membenci atau memang tidak pernah melakukan sama sekali. Akan tetapi Nabi khawatirkan hal itu akan diwajibkan untuk umatnya, sehingga menjadi beban berat dikemudian hari.[1] Atau ada kemungkinan ia sedang kurang sehat, atau musafir, atau mungkin Aisyah tidak melihatnya beliau sedang berpuasa. Karena keterangan hadis seperti itu, maksudnya meniadakan puasa bukan berarti secara zhohir beliau melarang berpuasa pada hari-hari itu.[2]

Diantaranya pula,-dalil yang memperkuat sunah puasa di 10 hari Dzul Hijjah,-Hadis Hafshoh

أربعٌ لم يكُنْ يدَعُهنَّ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : صيامَ يومِ عاشوراءَ والعَشْرَ وثلاثةَ أيَّامٍ مِن كلِّ شهرٍ والرَّكعتَيْنِ قبْلَ الغَداةِ

“ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: puasa hari ‘asyura, puasa 10 hari Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulannya, dan sholat dua roka’at sebelum Shubuh”. HR. Imam Ibnu Hibban, 6422, soheh.

Hadis ini dijadikan dasar oleh Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah, bahwa puasa pada 10 hari bulan Dzulhijjah itu disunahkan.

Bahkan di dalam Aunul Ma’bud kita akan mendapati satu bab tentang “baabun fii shaumil ‘asyr/bab tentang puasa 10 hari Dzulhijjah”. Pada bab itu dimuat hadis  Hunaidah bin Khalid dari isterinya dari sebagian isteri-isteri Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم تسع ذي الحجة، ويوم عاشوراء، وثلاثة أيام من كل شهر، أول إثنين من الشهر والخميس.

“senantiasa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa 9 hari bulan Dzulhijjah, hari ‘asyura, tiga hari setiap bulan, yaitu permulaan senin dan kamis”. HR. Imam Abu Daud, 2434, soheh. Imam Nasai, 2416.

Hadis ini menjadi dalil tentang disunahkannya puasa pada 10 hari bulan Dzulhijjah.[3] Perlu diketahui, pada bab puasa, istilah tetang 10 hari bulan Dzulhijjah atau ayamul ‘asyr bukan berarti tanggal 10 Dzulhijjah dianjurkan berpuasa, tidak, bahkan diharamkan karena itu hari raya idul adha.

Pada ayamul ‘asyr terdapat hari ‘Arofah, 9 Dzulhijjah. Hari ini merupakan puncaknya kegiatan haji, dan wukuf yang dilaksanakan pada hari tersebut merupakan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan.

Terkait hari ‘Arofah, Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk melaksanakan puasa pada hari itu. Rasul sampaikan dalam sabdanya:

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صوم يوم عرفة، قال : يكفر السنة الماضية والباقية. رواه مسلم واللفظ له

“dari Abu Qotadah,-semoga Allah meridhoinya,-ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arofah, Rasul menjawab: “puasa hari ‘Arofah dapat meleburkan dosa-dosa ditahun yang lalu dan tahun yang akan datang”. HR. Imam Muslim, 1162, soheh. Abu Daud, 2425, soheh.

Dalam hadis ini kita fahami, bahwa keutamaan puasa ‘Arofah itu adalah dapat melebur dosa/kesalahan yang pernah kita lakukan di satu tahun lalu, dan satu tahun yang akan datang. Semua itu adalah dosa-dosa kecil, seperti wudhu melebur dosa-dosa yang ada diseluruh anggota tubuh kita. jika tidak ada dosa kecil, maka ibadah tersebut diharapkan dapat meringankan dosa besar yang mungkin dilakukan, jika tidak, maka berfungsi untuk meningkatkan derajatnya dihadapan Allah atau manusia.[4]

Anjuran sunah puasa Arofah hanya untuk mereka yang tidak melaksanakan haji. Inilah pendapatnya Imam Syafi’i dan Imam Yahya al Anshori.[5]juga pendapatnya Imam Malik bin Anas dan Imam Sufyan ats Tsauri. Mereka berpegang dengan hadis Ibnu Umar,-semoga Allah meridhoi keduanya,-ia berkata: lam yashumhu an Nabiyyu shallallaahu ‘alaihi wa sallama wa laa Abu Bakrin wa laa Umaru wa laa ‘Utsmaanu, wa laa ashuumuhu anaa …/Nabi Muhammad tidak puasa hari ‘arofah saat di ‘arofah, begitu juga dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, begitu juga dengan saya tidak mempuasakannya.

Adapun jama’ah haji, maka mereka dimakruhkan melaksanakan puasa ‘arofah saat wukuf di ‘arofat. Hal tersebut memiliki beberapa hikmah; 1. Terkadang puasa menjadikan seseorang lemah melaksanakan doa, dzikir, dan berbagai amalan haji saat berada di ‘arofat. 2. Untuk para peserta wukuf hari itu merupakan hari ied, karena berkumpulnya mereka secara banyak.[6]

Maka dari itu, bagi yang tidak berkumpul di ‘Arofah, hendaklah ia manfaatkan ayamul ‘asyr ini, mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan tanggal 9 Dzulhijjah untuk memperbanyak puasa. Andaikan tidak bisa semuanya, maka jangan ditinggalkan puasa tanggal 9 Dzulhijjah.


[1] Fathul Baari bi Syarhi Shoheh al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h. 528-529. Cet. Daar al Hadis, Beirut.

[2] Aunul Ma’bud syarhu Sunan Abi Daud, Syeikh Abu Thayb Abady, j. 4 h. 521. Cet. Daar al Hadis, Mesir.

[3] Aunul Ma’bud syarhu Sunan Abi Daud, Syeikh Abu Thayb Abady, j. 4 h. 520

[4] Syarhu Shohihi Muslim, Imam Nawawi ad Dimasyqi, j. 4 h.308. cet. Daar al Hadis, Mesir

[5] Al Ma’aanil Badii’ah fi Ma’rifati Ikhtilaafi Ahlisy Syari’ah, Muhammad bin Abdillah Ash Shordafi ar Ra’ii, J. 1 H.337, cet. Daar al Kutub al “ilmiyyah, Beirut.

[6] Aunul Ma’bud syarhu Sunan Abu Daud, Syeikh Abu Thayb Abady, j. 4 h. 522


Label: Artikel, Fikih Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Leave a Reply

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ▼  Jul (12)
      • Membuat semua orang puas atau senang? Tidak akan bisa
      • Pakaian terkena darah kurban untuk salat, sahkah?
      • Waktu Pelaksanaan Salat Jum'at
      • FIKIH 10 HARI DZUL HIJJAH # 1
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 2
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 3
      • Mencacah daging kurban di dalam masjid, bolehkah?
      • Kurban untuk istri atau anak, bolehkah?
      • Bercermin pada Hajar, Raih Pendidikan Akhlak yang ...
      • Pekurban harus tahu hal ini
      • Khutbah Idul Adha 1441H; Ujian Kita Belum Seberapa
      • Jika berkumpul dua hari Ied, Maka?
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger