Puasa pada ayamul ‘asyar/
10 hari Dzulhijjah merupakan hal yang sangat disunahkan oleh ulama, terlebih
lagi pada tanggal 9 Dzulhijjah atau yang disebut dengan hari ‘Arofah. Terkait
keutamaan ini (puasa di 10 hari Dzulhijjah) terdapat hadis umum dan khusus yang
difahami oleh para ulama, diantaranya adalah:
Hadis
Abdullah bin Abbas
عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح
فيها أحب إلى الله من هذه الأيام، يعني أيام العشر، قالوا : يا رسول الله، ولا
الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، فلم
يرجع من ذلك بشيء.
“dari
Ibnu Abbas, ia berkata: bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “tidak
ada hari dimana amal soleh lebih disukai oleh Allah Ta’ala kecuali hari ini,
yaitu 10 hari di bulan Dzulhijjah. Sahabat bertanya: wahai Rasulullah,
bagaimana dengan jihad? Rasul menjawab: ya, begitu juga dengan jihad di jalan
Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar berjihad sambil membawa hartanya, tetapi
tidak kembali sedikit pun, (ia syahid di jalan Allah”. HR. Abu Daud, 2435,
hadis soheh. Imam Bukhari, 969, soheh, imam Tirmidzi, 757, soheh.
Imam Ad
Daudi mengatakan: “hari-hari pada ayamul ‘asyr itu lebih utama dari pada
hari-hari dalam satu tahun, sama saja apakah itu hari Jum’at atau bukan.
Bahkan, hari Jum’at pada ayamul ‘asyr itu lebih utama dari pada hari Jum’at di luar
itu, karena hari Jum’at pada ayamul ‘asyr itu mempunyai dua keutamaan,
keutamaan Jum’at dan masuk ayamul ‘asyr”.
Selanjutnya
Imam ad Daudi berdalil dengan hadis tersebut tentang keutamaan puasa pada 10
hari bulan Dzulhijjah, karena puasa itu masuk dalam kategori amal soleh
sebagaimana disebutkan.
Masih
menurut beliau, hadis Aisyah yang menjelaskan Nabi Muhammad tidak pernah puasa
10 hari di bulan Dzulhijjah, yaitu hadis riwayat Imam Abu Daud, 2436, Imam
Tirmidzi, 756, dan Imam Ibnu Majah, 1729, bukan berarti Nabi membenci atau
memang tidak pernah melakukan sama sekali. Akan tetapi Nabi khawatirkan hal itu
akan diwajibkan untuk umatnya, sehingga menjadi beban berat dikemudian hari.[1] Atau ada kemungkinan ia sedang kurang
sehat, atau musafir, atau mungkin Aisyah tidak melihatnya beliau sedang
berpuasa. Karena keterangan hadis seperti itu, maksudnya meniadakan puasa bukan
berarti secara zhohir beliau melarang berpuasa pada hari-hari itu.[2]
Diantaranya pula,-dalil yang memperkuat sunah puasa di 10 hari Dzul Hijjah,-Hadis
Hafshoh
أربعٌ لم يكُنْ يدَعُهنَّ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه
وسلَّم : صيامَ يومِ عاشوراءَ والعَشْرَ وثلاثةَ أيَّامٍ مِن كلِّ شهرٍ
والرَّكعتَيْنِ قبْلَ الغَداةِ
“ada
empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wa sallam: puasa hari ‘asyura, puasa 10 hari Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap
bulannya, dan sholat dua roka’at sebelum Shubuh”. HR. Imam Ibnu Hibban,
6422, soheh.
Hadis
ini dijadikan dasar oleh Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah, bahwa puasa pada 10
hari bulan Dzulhijjah itu disunahkan.
Bahkan
di dalam Aunul Ma’bud kita akan mendapati satu bab tentang “baabun fii
shaumil ‘asyr/bab tentang puasa 10 hari Dzulhijjah”. Pada bab itu dimuat
hadis Hunaidah bin Khalid dari isterinya
dari sebagian isteri-isteri Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia
berkata :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم تسع ذي الحجة، ويوم
عاشوراء، وثلاثة أيام من كل شهر، أول إثنين من الشهر والخميس.
“senantiasa
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa 9 hari bulan
Dzulhijjah, hari ‘asyura, tiga hari setiap bulan, yaitu permulaan senin dan
kamis”. HR. Imam Abu Daud, 2434, soheh. Imam Nasai, 2416.
Hadis
ini menjadi dalil tentang disunahkannya puasa pada 10 hari bulan Dzulhijjah.[3] Perlu diketahui, pada bab puasa,
istilah tetang 10 hari bulan Dzulhijjah atau ayamul ‘asyr bukan berarti tanggal
10 Dzulhijjah dianjurkan berpuasa, tidak, bahkan diharamkan karena itu hari
raya idul adha.
Pada
ayamul ‘asyr terdapat hari ‘Arofah, 9 Dzulhijjah. Hari ini merupakan puncaknya
kegiatan haji, dan wukuf yang dilaksanakan pada hari tersebut merupakan rukun
haji yang tidak boleh ditinggalkan.
Terkait
hari ‘Arofah, Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk melaksanakan
puasa pada hari itu. Rasul sampaikan dalam sabdanya:
عن أبي قتادة رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله
عليه وسلم عن صوم يوم عرفة، قال : يكفر السنة الماضية والباقية. رواه مسلم واللفظ
له
“dari
Abu Qotadah,-semoga Allah meridhoinya,-ia berkata: “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arofah, Rasul menjawab:
“puasa hari ‘Arofah dapat meleburkan dosa-dosa ditahun yang lalu dan tahun yang
akan datang”. HR. Imam Muslim, 1162, soheh. Abu Daud, 2425, soheh.
Dalam
hadis ini kita fahami, bahwa keutamaan puasa ‘Arofah itu adalah dapat melebur
dosa/kesalahan yang pernah kita lakukan di satu tahun lalu, dan satu tahun yang
akan datang. Semua itu adalah dosa-dosa kecil, seperti wudhu melebur dosa-dosa
yang ada diseluruh anggota tubuh kita. jika tidak ada dosa kecil, maka ibadah
tersebut diharapkan dapat meringankan dosa besar yang mungkin dilakukan, jika
tidak, maka berfungsi untuk meningkatkan derajatnya dihadapan Allah atau
manusia.[4]
Anjuran
sunah puasa Arofah hanya untuk mereka yang tidak melaksanakan haji. Inilah
pendapatnya Imam Syafi’i dan Imam Yahya al Anshori.[5]juga pendapatnya Imam Malik bin Anas
dan Imam Sufyan ats Tsauri. Mereka berpegang dengan hadis Ibnu Umar,-semoga
Allah meridhoi keduanya,-ia berkata: lam yashumhu an Nabiyyu shallallaahu
‘alaihi wa sallama wa laa Abu Bakrin wa laa Umaru wa laa ‘Utsmaanu, wa laa
ashuumuhu anaa …/Nabi Muhammad tidak puasa hari ‘arofah saat di ‘arofah,
begitu juga dengan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, begitu juga dengan saya tidak
mempuasakannya.
Adapun
jama’ah haji, maka mereka dimakruhkan melaksanakan puasa ‘arofah saat wukuf di
‘arofat. Hal tersebut memiliki beberapa hikmah; 1. Terkadang puasa menjadikan
seseorang lemah melaksanakan doa, dzikir, dan berbagai amalan haji saat berada
di ‘arofat. 2. Untuk para peserta wukuf hari itu merupakan hari ied, karena
berkumpulnya mereka secara banyak.[6]
[1]
Fathul
Baari bi Syarhi Shoheh al Bukhari, Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani, j. 2 h.
528-529. Cet. Daar al Hadis, Beirut.
[2]
Aunul
Ma’bud syarhu Sunan Abi Daud, Syeikh Abu Thayb Abady, j. 4 h. 521. Cet. Daar al
Hadis, Mesir.
[3]
Aunul
Ma’bud syarhu Sunan Abi Daud, Syeikh Abu Thayb Abady, j. 4 h. 520
[4]
Syarhu
Shohihi Muslim, Imam Nawawi ad Dimasyqi, j. 4 h.308. cet. Daar al Hadis, Mesir
[5] Al Ma’aanil Badii’ah fi Ma’rifati Ikhtilaafi Ahlisy
Syari’ah, Muhammad bin Abdillah Ash Shordafi ar Ra’ii, J. 1 H.337, cet. Daar al
Kutub al “ilmiyyah, Beirut.
[6]
Aunul
Ma’bud syarhu Sunan Abu Daud, Syeikh Abu Thayb Abady, j. 4 h. 522






