Darah di dalam
fikih Islam terbagi tiga, ada darah mengalir (addammul masfuh), darah
tidak mengalir (addamu ghairul masfuh), yakni darah yang sedikit, dan
darah beku (addamul mutajammid).
Darah yang
mengalir hukumnya najis, sama saja berasal dari manusia atau pun hewan.
Berdasarkan firman Allah, QS. Al An’am/6 : 145:
قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ
مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا
مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ
“katakanlah:
tidak ku dapati di dalam apa yang diwahyukan kepada-ku, sesuatu yang diharamkan
memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati
(bangkai), darah yang mengalir, daging babi, maka sesungguhnya itu kotor/najis
…..”
Sedangkan darah
sedikit tidak mengalir,-addamul qalil ghairul masfuh-, hukumnya najis,
akan tetapi dimaaf/toleransi (ma’fuwun). Kemudian, darah beku hukumnya
halal, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
أحلَّت لَكُم ميتتانِ ودَمانِ،
فأمَّا الميتَتانِ، فالحوتُ والجرادُ، وأمَّا الدَّمانِ، فالكبِدُ والطِّحالُ
“dihalalkan
untuk mu dua bangkai dan dua darah. Adapun bangkai adalah ikan dan balang kayu,
sedangkan darah adalah hati dan limpa”. HR. Imam Ibnu Majah, 3314, hadis
soheh.[1]
Abdullah bin Abbas
berkata tentang addamul masfuh, yaitu darah mengalir yang keluar dari
hewan saat ia masih hidup (kemungkinan luka, dll) atau ketika ia disembelih. Dengan
kaidah ini tidak termasuk di dalamnya adalah hati dan limpa, tidak pula darah yang
bercampur dengan daging di area potong (leher hewan), dan tidak termasuk pula
darah yang keluar dari urat-urat hewan, karena semuanya itu tidak termasuk
istilah mengalir.[2]
Dengan demikian,
jika pakaian terkena darah sembelihan hewan, itulah addamul masfuh, atau darah
mengalir. Maka hukum pakain itu terkena najis, dan tidak sah digunakan untuk
salat.
Jumhur ulama,
baik dari kalangan salaf dan khalaf sepakat bahwa syarat sahnya salat adalah
suci badan dan pakaian. Sama saja salat fardhu atau sunah.[3]
Dalil tentang
wajib suci pakaian salat, sebagaimana Allah jelaskan dalam QS. Al
Mudatstsir/74:5: “wa tsiyaabaka fa thahhir/dan pakaianmu maka
sucikanlah”. Begitu juga firman Allah Ta’ala, QS. Al A’raf/7 :31: “khudzuu
ziinataakum ‘inda kulli masjidin/ ambillah perhiasan mu ketika setiap kali
ke masjid.” Abdullah bin Abbas mengatakan: “maksudnya adalah pakaian untuk
salat”. Selanjutnya, di dalam hadis Nabi dijelaskan;
قالَتْ
فَاطِمَةُ بنْتُ أبِي حُبَيْشٍ لِرَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: يا
رَسولَ اللَّهِ، إنِّي لا أطْهُرُ أفَأَدَعُ الصَّلَاةَ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّما ذَلِكِ عِرْقٌ وليسَ بالحَيْضَةِ، فَإِذَا أقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَاتْرُكِي
الصَّلَاةَ، فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا، فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وصَلِّي
“Fathimah
binti Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi; “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku
belum suci, apakah boleh meninggalkan salat? Rasul menjawab; “hanya saja itu
seperti keringat, bukan darah heid. Apabila keluar darah heid, maka tinggalkan
salat. Jika telah selesai masanya, cucilah darah itu, lalu salatlah”. HR.
Imam Bukhari, 306.[4]
Imam Syafi’i
mengatakan: “setiap pakaian yang terkena tahi yang basah, air kencing, darah,
khamr, atau sesuatu apapun yang diharamkan, yang diketahui dan didapati
buktinya oleh si pemilik, maka ia wajib membersihkannya terlebih dahulu
(kemudian boleh dipakai untuk salat”.
Lanjut Imam
Syafi’i, “jika ada bintik-bintik darah yang jika dikumpulkan kurang dari
seukuran mata uang dinar atau mata uang kuno (fals) maka wajib
dibersihkan. Karena Nabi pernah memerintahkan sahabat untuk membersihkan darah
heid. Padahal minimal darah heid itu satu tetesan/titik”.[5]
Selesai sudah
permasalahan pakaian yang terkena darah dan tidak boleh digunakan untuk salat,
jika darah tersebut adalah darah sembelihan, yang diistilahkan dengan addamul
masfuh, darah mengalir.
[1] Al Mu’tamad fi Fiqh Imam Syafi’I, DR. Muhammad
az Zuhaily. j.1 h. 44
[2] Tafsir Ayaatil Ahkaam, Syeikh Muhammad Ali Assaa-is, Muqarrar
Tsanah Tsaniyah. h. 235.
[3] Mausu’atu Masaa-ilil Jumhur fil Fiqhil Islamy,
Doktor Muhammad Na’im Muhammad Haani Saa’i., J. 1 h. 139., Daarus Salaam.
[4] At Tadzhib
fi Adillati Matnil Ghaayah wat Taqriib, DR. Musthafa Diib al Bugha, h. 50-51.,
Daar Ibni Katsir, Damaskus, Syiria.
[5] Al Umm,
Muhammad bin Idris asy Syafi’I, j.2 h. 117-118., cet. Daarul Wafa






