skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Jumat, 03 Juli 2020

Pakaian terkena darah kurban untuk salat, sahkah?

Posted by bangzaman on Juli 03, 2020 – 0 komentar
 

Darah di dalam fikih Islam terbagi tiga, ada darah mengalir (addammul masfuh), darah tidak mengalir (addamu ghairul masfuh), yakni darah yang sedikit, dan darah beku (addamul mutajammid).

Darah yang mengalir hukumnya najis, sama saja berasal dari manusia atau pun hewan. Berdasarkan firman Allah, QS. Al An’am/6 : 145:

قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“katakanlah: tidak ku dapati di dalam apa yang diwahyukan kepada-ku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi, maka sesungguhnya itu kotor/najis …..”

Sedangkan darah sedikit tidak mengalir,-addamul qalil ghairul masfuh-, hukumnya najis, akan tetapi dimaaf/toleransi (ma’fuwun). Kemudian, darah beku hukumnya halal, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

أحلَّت لَكُم ميتتانِ ودَمانِ، فأمَّا الميتَتانِ، فالحوتُ والجرادُ، وأمَّا الدَّمانِ، فالكبِدُ والطِّحالُ

“dihalalkan untuk mu dua bangkai dan dua darah. Adapun bangkai adalah ikan dan balang kayu, sedangkan darah adalah hati dan limpa”. HR. Imam Ibnu Majah, 3314, hadis soheh.[1]

Abdullah bin Abbas berkata tentang addamul masfuh, yaitu darah mengalir yang keluar dari hewan saat ia masih hidup (kemungkinan luka, dll) atau ketika ia disembelih. Dengan kaidah ini tidak termasuk di dalamnya adalah hati dan limpa, tidak pula darah yang bercampur dengan daging di area potong (leher hewan), dan tidak termasuk pula darah yang keluar dari urat-urat hewan, karena semuanya itu tidak termasuk istilah mengalir.[2]

Dengan demikian, jika pakaian terkena darah sembelihan hewan, itulah addamul masfuh, atau darah mengalir. Maka hukum pakain itu terkena najis, dan tidak sah digunakan untuk salat.

Jumhur ulama, baik dari kalangan salaf dan khalaf sepakat bahwa syarat sahnya salat adalah suci badan dan pakaian. Sama saja salat fardhu atau sunah.[3]

Dalil tentang wajib suci pakaian salat, sebagaimana Allah jelaskan dalam QS. Al Mudatstsir/74:5: “wa tsiyaabaka fa thahhir/dan pakaianmu maka sucikanlah”. Begitu juga firman Allah Ta’ala, QS. Al A’raf/7 :31: “khudzuu ziinataakum ‘inda kulli masjidin/ ambillah perhiasan mu ketika setiap kali ke masjid.” Abdullah bin Abbas mengatakan: “maksudnya adalah pakaian untuk salat”. Selanjutnya, di dalam hadis Nabi dijelaskan;

قالَتْ فَاطِمَةُ بنْتُ أبِي حُبَيْشٍ لِرَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: يا رَسولَ اللَّهِ، إنِّي لا أطْهُرُ أفَأَدَعُ الصَّلَاةَ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنَّما ذَلِكِ عِرْقٌ وليسَ بالحَيْضَةِ، فَإِذَا أقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ، فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا، فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وصَلِّي

“Fathimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi; “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku belum suci, apakah boleh meninggalkan salat? Rasul menjawab; “hanya saja itu seperti keringat, bukan darah heid. Apabila keluar darah heid, maka tinggalkan salat. Jika telah selesai masanya, cucilah darah itu, lalu salatlah”. HR. Imam Bukhari, 306.[4]

Imam Syafi’i mengatakan: “setiap pakaian yang terkena tahi yang basah, air kencing, darah, khamr, atau sesuatu apapun yang diharamkan, yang diketahui dan didapati buktinya oleh si pemilik, maka ia wajib membersihkannya terlebih dahulu (kemudian boleh dipakai untuk salat”.

Lanjut Imam Syafi’i, “jika ada bintik-bintik darah yang jika dikumpulkan kurang dari seukuran mata uang dinar atau mata uang kuno (fals) maka wajib dibersihkan. Karena Nabi pernah memerintahkan sahabat untuk membersihkan darah heid. Padahal minimal darah heid itu satu tetesan/titik”.[5]

Selesai sudah permasalahan pakaian yang terkena darah dan tidak boleh digunakan untuk salat, jika darah tersebut adalah darah sembelihan, yang diistilahkan dengan addamul masfuh, darah mengalir.

Akan tetapi, jika darah itu ghairul masfuh, maka pakaian yang terkena darah tersebut, masih diperbolehkan untuk dipakai salat. Kondisinya dimaaf. Tentu, hal ini kembali kepada keyakinan kita saat melaksanakan kegiatan kurban. Apakah murni darah tersebut dari daging saja, atau terkena darah sembelihan. Yakinilah ..


[1]  Al Mu’tamad fi Fiqh Imam Syafi’I, DR. Muhammad az Zuhaily. j.1 h. 44

[2] Tafsir Ayaatil Ahkaam, Syeikh Muhammad Ali Assaa-is, Muqarrar Tsanah Tsaniyah. h. 235.

[3]  Mausu’atu Masaa-ilil Jumhur fil Fiqhil Islamy, Doktor Muhammad Na’im Muhammad Haani Saa’i., J. 1 h. 139., Daarus Salaam.

[4] At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghaayah wat Taqriib, DR. Musthafa Diib al Bugha, h. 50-51., Daar Ibni Katsir, Damaskus, Syiria.

[5] Al Umm, Muhammad bin Idris asy Syafi’I, j.2 h. 117-118., cet. Daarul Wafa


Label: Artikel, Fikih Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Leave a Reply

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ▼  Jul (12)
      • Membuat semua orang puas atau senang? Tidak akan bisa
      • Pakaian terkena darah kurban untuk salat, sahkah?
      • Waktu Pelaksanaan Salat Jum'at
      • FIKIH 10 HARI DZUL HIJJAH # 1
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 2
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 3
      • Mencacah daging kurban di dalam masjid, bolehkah?
      • Kurban untuk istri atau anak, bolehkah?
      • Bercermin pada Hajar, Raih Pendidikan Akhlak yang ...
      • Pekurban harus tahu hal ini
      • Khutbah Idul Adha 1441H; Ujian Kita Belum Seberapa
      • Jika berkumpul dua hari Ied, Maka?
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger