skip to main | skip to sidebar

Hidup Bijak

Memetik Pelajaran Hidup Dalam Dunia Fana

Pages

  • Beranda
  • FB
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • Resume Muthola'ah
  • Berita Zaman
  • Kajian
    • Fikih
    • Tafsir
    • Hadis
  • Video Dakwah
    • Kegiatan Taklim dan Ceramah
Sabtu, 18 Juli 2020

Kurban untuk istri atau anak, bolehkah?

Posted by bangzaman on Juli 18, 2020 – 0 komentar
 

Kepada siapa hukum kurban itu dibebankan? Menjawab hal ini, dapat dilihat pada syarat pelaksana kurban, yaitu:

1. Islam, maka selain Islam tidak dibebani hukum kurban dan tidak sah jika ia melaksanakannya.

2. Baligh dan berakal, maka anak kecil dan orang gila tidak masuk dalam orang yang dibebani hukum kurban.

3. Mampu, yakni orang Islam yang memiliki harta seharga hewan kurban dan lebih untuk nafkah dirinya dan orang yang menjadi tanggungjawabnya, seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan lainnya, pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik.[1]

Pekurban adalah kepala keluarga atau orang yang bertanggungjawab atas nafkah keluarga . Dikarenakan hal tersebut mendapatkan keluasan manfaat, yakni menyertakan keluarganya dalam hal pahala, atau al isytirak fits tsawab.

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Ayub al Anshari riwayat Imam Tirmidzi, 1505.,

عمارة بن عبد الله، قال : سمعت عطاء بن يسار، يقول : سألت أبا أيوب الأنصاري كيف كانت الضحايا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال : كان الرجل يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته، فيأكلون ويطعمون حتى تباهى الناس فصارت كما ترى.

“’Umaroh bin Abdillah menceritakan, aku mendengar ‘Atho bin Yasar berkata: Aku berkata kepada Abu Ayub al Anshori tentang kurban dimasa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam., ia menjawab: dahulu ada seorang laki-laki berkurban dengan satu ekor kambing, dan ia menyertakan keluarganya dalam kurban tersebut. Lalu mereka makan, bersedekah sampai dengan bersenang-senang, seperti yang terihat saat ini”.

dan hadis Jabir bin Abdillah riwayat Imam Abu Daud, 2819., dan Imam Tirmidzi, 1521.

صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الأضحى ، فلماّ انصرف أُتي بكبش فذبحه وقال : بسم الله والله أكبر ، اللهمّ هذا عنيِّ وعمن لم يضح من أُمتي. رواه أحمد وأبو داود والترمذي.

 

“Dahulu aku sholat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘idul Adha. Tatkala selesai, di datangkang se-ekor domba kemudian ia memotongnya dengan membaca “bismillaahi Allahu Akbar, Allahumma hadza ‘annii wa ‘amman lam yudhohhi min ummatii”

Walau demikian, kepala keluarga tetap dibolehkan  memberikan hewan kurbannya kepada siapapun yang dikehendaki, dengan seizin orang tersebut.[2] Seperti istri, anak, dan bahkan orang yang meninggal (selanjutnya akan di bahas).

Rasulullah pernah berkurban untuk istri-istrinya saat berada di Mina, sebagaimana hadis Aisyah menjelaskan:

عن عمرة بنت عبد الرحمن قالت سمعت عائشة رضي الله عنها تقول خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لخمس بقين من ذي القعدة لا نرى إلا الحج فلما دنونا من مكة أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم من لم يكن معه هدي إذا طاف وسعى بين الصفا والمروة أن يحل قالت فدخل علينا يوم النحر بلحم بقر فقلت ما هذا قال نحر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أزواجه

“dari Umrah binti Abdirrahman ia berkata, aku mendegar ‘Aisyah berkata: “kami keluar bersama Rasulullah saw., di lima hari terakhir bulan Dzul Qa’dah. Tidak ada yang terlihat melainkan kegiatan jelang haji. Tatkala kami mendekat ke Mekkah, Rasulullah memerintahkan seseorang yang tidak memiliki hadyu (hewan untuk disembelih) apabila ia thawaf dan sa’i antara Safa dan Marwa untuk bertahallul. Lalu (Aisyah melanjutkan cerita), ketika sampai hari Nahar seseorang tadi membawa daging sapi, lalu aku bertanya, “apa ini?” laki-laki itu menjawab, “Nabi telah berkurban untuk istri-istrinya”. HR. Imam Bukhari, 2952.

Akan tetapi, ketika ia (kepala keluarga) memperuntukan kepada orang yang ia kehendaki, atau salah satu keluarga seperti anak yang sudah baligh atau istri berkurban sendiri dengan harta miliknya, maka manfaat penyertaan pahala tidak akan bisa didapati, melainkan hanya pengguguran hukum kurban saja, yakni sunah kifayah.

Sayyid Abdurrahman berkata: “apabila salah satu dari ahli bait (keluarga yang mendapat nafkah dari kepala kelurga) melakukan kurban, maka gugur tuntutan hukum untuk satu keluarga, akan tetapi ia tidak bisa menyertakan pahala atau isytirakuts tsawab”.[3]

Maka dari itu, bagi kita sebagai kepala keluarga, hendaknya dapat mengambil yang lebih bermanfaat dan luas cakupannya. Jika hendak berkurban, cukuplah atas nama kita, karena nantinya istri dan anak-anak kita dapat mengambil manfaat pahalanya dari kita. dan ini tidak sebaliknya. Pembahasan ini hanya pada aspek fadhilah atau manfaat yang luas.

Demikian, wallaahu a'lam bish shawab.

[1] Al Mu’tamad fi Fiqhi Imam Asy Syaafi’i, Dr. Muhammad Az Zuhaily, j. 2 h. 479

[2] Al Mu’tamad fi Fiqhi Imam Asy Syaafi’i, Dr. Muhammad Az Zuhaily, j. 2 h. 490

[3] Bughyatul Mustarsyidiin, Sayyid Abdurrahman, h. 422. Cet. Daar Fikr, Libanon


Label: Artikel, Fikih Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Leave a Reply

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
  • Popular
  • Recent
  • Archives

Popular Posts

Tentang saya

Foto saya
bangzaman
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pembelajar sejati, sederhana, familiar, senantiasa memberikan manfaat kepada siapapun.
Lihat profil lengkapku

Mari Bergabung

Label

  • Artikel (29)
  • Berita (4)
  • Fikih (13)
  • Resume Muthola'ah (14)
  • Video Taklim dan Ceramah (2)

Archives

  • ►  2016 (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Des (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Jun (1)
    • ►  Nov (1)
  • ▼  2020 (33)
    • ►  Jun (15)
    • ▼  Jul (12)
      • Membuat semua orang puas atau senang? Tidak akan bisa
      • Pakaian terkena darah kurban untuk salat, sahkah?
      • Waktu Pelaksanaan Salat Jum'at
      • FIKIH 10 HARI DZUL HIJJAH # 1
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 2
      • FIKIH 10 DZUL HIJJAH # 3
      • Mencacah daging kurban di dalam masjid, bolehkah?
      • Kurban untuk istri atau anak, bolehkah?
      • Bercermin pada Hajar, Raih Pendidikan Akhlak yang ...
      • Pekurban harus tahu hal ini
      • Khutbah Idul Adha 1441H; Ujian Kita Belum Seberapa
      • Jika berkumpul dua hari Ied, Maka?
    • ►  Agu (3)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Okt (1)
    • ►  Nov (1)
  • ►  2021 (4)
    • ►  Jan (1)
    • ►  Feb (1)
    • ►  Mar (2)
 

Kelurga Tercinta

Kelurga Tercinta
 

Total Tayangan Halaman

Label

  • Artikel
  • Berita
  • Fikih
  • Resume Muthola'ah
  • Video Taklim dan Ceramah
 
© 2011 Hidup Bijak | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger