Kepada siapa hukum kurban itu
dibebankan? Menjawab hal ini, dapat dilihat pada syarat pelaksana kurban, yaitu:
1. Islam, maka selain Islam
tidak dibebani hukum kurban dan tidak sah jika ia melaksanakannya.
2. Baligh dan berakal, maka
anak kecil dan orang gila tidak masuk dalam orang yang dibebani hukum kurban.
3. Mampu, yakni orang Islam
yang memiliki harta seharga hewan kurban dan lebih untuk nafkah dirinya dan
orang yang menjadi tanggungjawabnya, seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan
lainnya, pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik.[1]
Pekurban adalah kepala
keluarga atau orang yang bertanggungjawab atas nafkah keluarga . Dikarenakan
hal tersebut mendapatkan keluasan manfaat, yakni menyertakan keluarganya dalam
hal pahala, atau al isytirak fits tsawab.
Hal tersebut sebagaimana dijelaskan
dalam hadis Abu Ayub al Anshari riwayat Imam Tirmidzi, 1505.,
عمارة
بن عبد الله، قال : سمعت عطاء بن يسار، يقول : سألت أبا أيوب الأنصاري كيف كانت
الضحايا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال : كان الرجل يضحي بالشاة عنه
وعن أهل بيته، فيأكلون ويطعمون حتى تباهى الناس فصارت كما ترى.
“’Umaroh bin
Abdillah menceritakan, aku mendengar ‘Atho bin Yasar berkata: Aku berkata
kepada Abu Ayub al Anshori tentang kurban dimasa Nabi Muhammad shallallaahu
‘alaihi wa sallam., ia menjawab: dahulu ada seorang laki-laki berkurban dengan
satu ekor kambing, dan ia menyertakan keluarganya dalam kurban tersebut. Lalu
mereka makan, bersedekah sampai dengan bersenang-senang, seperti yang terihat
saat ini”.
dan hadis Jabir bin Abdillah
riwayat Imam Abu Daud, 2819., dan Imam Tirmidzi, 1521.
صليت
مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الأضحى ، فلماّ انصرف أُتي بكبش فذبحه وقال :
بسم الله والله أكبر ، اللهمّ هذا عنيِّ وعمن لم يضح من أُمتي. رواه أحمد وأبو
داود والترمذي.
“Dahulu aku
sholat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada hari ‘idul Adha.
Tatkala selesai, di datangkang se-ekor domba kemudian ia memotongnya dengan
membaca “bismillaahi Allahu Akbar, Allahumma hadza ‘annii wa ‘amman lam
yudhohhi min ummatii”
Walau demikian, kepala keluarga tetap dibolehkan memberikan hewan kurbannya kepada siapapun yang dikehendaki, dengan seizin orang tersebut.[2] Seperti istri, anak, dan bahkan orang yang meninggal (selanjutnya akan di bahas).
Rasulullah pernah
berkurban untuk istri-istrinya saat berada di Mina, sebagaimana hadis Aisyah menjelaskan:
عن عمرة بنت عبد
الرحمن قالت سمعت عائشة رضي الله عنها تقول خرجنا مع رسول
الله صلى الله عليه وسلم لخمس بقين من ذي القعدة لا نرى إلا الحج فلما دنونا
من مكة أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم من لم يكن معه هدي إذا طاف
وسعى بين الصفا والمروة أن يحل قالت فدخل علينا يوم النحر بلحم بقر
فقلت ما هذا قال نحر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أزواجه
“dari Umrah binti Abdirrahman ia
berkata, aku mendegar ‘Aisyah berkata: “kami keluar bersama Rasulullah saw., di
lima hari terakhir bulan Dzul Qa’dah. Tidak ada yang terlihat melainkan
kegiatan jelang haji. Tatkala kami mendekat ke Mekkah, Rasulullah memerintahkan
seseorang yang tidak memiliki hadyu (hewan untuk disembelih) apabila ia thawaf
dan sa’i antara Safa dan Marwa untuk bertahallul. Lalu (Aisyah melanjutkan
cerita), ketika sampai hari Nahar seseorang tadi membawa daging sapi, lalu aku
bertanya, “apa ini?” laki-laki itu menjawab, “Nabi telah berkurban untuk
istri-istrinya”. HR. Imam Bukhari, 2952.
Akan tetapi, ketika ia (kepala
keluarga) memperuntukan kepada orang yang ia kehendaki, atau salah satu
keluarga seperti anak yang sudah baligh atau istri berkurban sendiri dengan
harta miliknya, maka manfaat penyertaan pahala tidak akan bisa didapati,
melainkan hanya pengguguran hukum kurban saja, yakni sunah kifayah.
[1] Al Mu’tamad fi Fiqhi Imam Asy Syaafi’i, Dr. Muhammad
Az Zuhaily, j. 2 h. 479
[2] Al Mu’tamad fi Fiqhi Imam Asy Syaafi’i, Dr. Muhammad
Az Zuhaily, j. 2 h. 490
[3] Bughyatul Mustarsyidiin, Sayyid Abdurrahman, h. 422. Cet. Daar Fikr, Libanon






