Satu waktu Imam Syafi’I pernah berkata kepada Imam Yunus bin Abdil
A’la: "jika kamu bersungguh-sungguh sekuat tenaga ingin mendapatkan kesenangan/
keridhoan orang, maka tidak akan ada cara mendapatkan itu. Murnikanlah (ikhlaskan)
amal perbuatan dan niat mu karena Allah".
Imam Syafi’i memberikan gambaran, “ridho/kesenangan/kepuasan manusia itu tak berujung.
Apabila kamu usahakan satu orang ridho, maka akan muncul 10 orang yang
murka/ tidak suka. Jika kamu usahakan 10 orang ridho, maka akan muncul 100
orang yang murka/ tidak suka. Dan jika kamu usahakan 100 orang yang ridho,
maka akan muncul 1.000 orang yang murka/ tidak suka. Apabila kamu tinggalkan
konsentrasi keridhoan manusia terhadap apa yang kamu usahakan, dan beralih hanya kepada Allah, maka
Allah akan cukupkan beban kamu.
Subhaanallaah…, pelajaran ini sangat luar biasa, sangat penting untuk kita dengan ragam profesi yang dijalankan. Agar tidak pusing dikarena harus mengikuti ragam keinginan semua orang. Cukup fokus kepada Allah saja.
Memang ada slogan "kepuasan anda, tujuan kami". Dalam dunia usaha hal ini menjadi pijakan. Slogan itu tidak salah jika untuk memaksimalkan pelayanan dengan prosedur dan aturan yang sudah sesuai. Bukan untuk dibuat-buat atau direkayasa. Karena memaksimalkan pekerjaan dan pelayanan di dalam Islam sangat dianjurkan. Allah Ta'ala menjelaskan, diantaranya QS. al Jumu'ah/62 : 10:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"apabila salat selesai dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan berdzikirlah sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung".
Disertakannya mencari karunia dengan dzikir kepada Allah, sebagai upaya memaksimalkan pekerjaan atau tugas yang dilaksanakan. Jangan sampai ada kekecewaan antara kedua pihak, penipuan, dan kerugian lainnya yang tidak diharapkan.
selain itu, Allah berfirman, QS. Al Anfaal/8:27
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada mu, sedang kamu mengetahui".
Menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan amanah dan musyawarah stakeholder adalah bagian daripada syari'at Islam. Jika hal ini dilakukan, berarti sudah bisa dikatakan fokus kepada Allah Ta'ala.
Jika slogan diatas menuruti aturan yang dipayungi oleh syari'at Islam, berarti slogan tersebut dapat menjadi pijakan untuk usaha yang dijalankan. Dan insya Allah akan membuat kita tenang dan nyaman.
Akan tetapi, sebagian pengusaha menggunakannya hanya pada aspek dunia. Mencari keuntungan dan kesenangannya sendiri. Tidak memperhatikan kemaslahatan orang lain. Maka yang terjadi, banyak komplain dan kritikan tentang apa yang dijalankan.
Fokus mencari perhatian orang, agar ia senang, agar ia perhatian sama kita, dan tidak didasari pada aspek agama/ syariat, maka dalam waktu dekat, akan kita dapati ada orang yang tdk suka dengan kita. Hal ini biasa dilakukan sama orang yang imannya tergadai dengan RUPIAH/ JABATAN. Allah diasingkan.., na ‘udzubillaah…. Pantas saja jika Allah memberikan teguran yang luar biasa sama orang model ini.
Mari sama2 kita alihkan perhatian kita kepada Allah, Dzat Yang Maha
Segalanya, Maha Kaya, Kuasa, dan lain sebagainya. Jangan silau dengan sesuatu
yang kecil dan sedikit. Semoga Allah sadarkan saya dan kita semua… Aamiin






