Imam Abu Dzar pernah berkata "yakfii minad du'aa-i ma'al birr maa yakfii ath th'aamu minal milh/ doa menjadi kuat berkualitas jika disertai dengan kebajikan, seperti makanan semakin nikmat karena dengan garam".
Allah akan menerima permohonan dan doa seorang hamba manakala ia menjaga amal soleh dan ketaatannya. Sama halnya dengan makanan, ia akan diterima penikmatnya setelah ditaburi garam. Karena itu menjadi sebab sedapnya makanan. Tiada garam, maka makanan akan hambar.
Sayyid Muhammad bin Alawi berkata "makanan haram akan melemahkan dan bahkan membatalkan (tidak diterima) doa seorang hamba". Sebagaimana hadis soheh Muslim menjelaskan, Rasulullah bersabda: "wahai manusia, sesungguhnya Allah itu thayib (baik), Ia hanya menerima yang baik-baik saja". Sebagaimana Rasul diperintahkan memakan yang baik-baik saja (thayib), begitu juga umatnya. Allah berfirman, QS. al Mu'minuun/ 23:51
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا
صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"wahai para rasul, makanlah oleh mu dari makanan yang baik-baik (halal) dan berbuat amal solehlah. Sesungguhnya aku Maha Mengetahui dari apa yang kamu kerjakan".
dan juga firman Allah QS. al Baqarah/2:172
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا
رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
"wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik-baik (halal) dari rizki yang Allah berikan kepada mu, dan bersyukurlah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah".
Lalu Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, lusuh dan berdebu. Ia mengangkat tangannya, dan berdoa "wahai Tuhanku....., wahai Tuhanku. Padahal, makanan dan dikonsumsinya itu haram, minumannya, pakainya, dan gizinya itu pun haram. Bagaimana munkin diijabah/diterima doanya.
Maka dari itu, mari jaga amal soleh dan makan-minum kita. Karena ia menjadi penentu diterima dan tidaknya doa. Mari perbanyak dan kuatkan doa, karena kita makhluk yang tidak memliki apa-apa, daya dan juga upaya. JANGAN BERHENTI DOA
Sumber utama:
Abwaabul Farj, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani. Daar Kutubu al 'Ilmiyah
Abwaabul Farj, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani. Daar Kutubu al 'Ilmiyah







Ajiibbb guru,,,,